Masjid Harmoni Muhammadiyah: Diplomasi Keagamaan Indonesia untuk Perdamaian Dunia

Masjid Harmoni Muhammadiyah: Diplomasi Keagamaan Indonesia untuk Perdamaian Dunia
*) Oleh : Prof. Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Wakil Rektor III UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
www.majelistabligh.id -

Sejak didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan, Muhammadiyah memandang masjid bukan sekadar tempat ibadah, tetapi sebagai pusat gerakan tajdid yang memadukan dakwah dengan pelayanan sosial. Filosofi ini menjadikan masjid sebagai episentrum perubahan masyarakat.

Di banyak daerah, masjid Muhammadiyah berdiri berdampingan dengan sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, klinik kesehatan, lembaga zakat, koperasi, hingga pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat. Masjid menjadi jantung yang menghubungkan seluruh amal usaha Muhammadiyah dalam satu napas pengabdian kepada umat.

Ketika bencana alam terjadi, masjid-masjid Muhammadiyah berubah menjadi posko kemanusiaan. Bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), para relawan bergerak cepat memberikan bantuan logistik, pelayanan kesehatan, pendampingan psikososial, hingga rehabilitasi pascabencana. Bantuan tersebut diberikan kepada siapa saja tanpa membedakan agama maupun latar belakang sosial.

Di sinilah diplomasi keagamaan menemukan bentuknya yang paling nyata. Perdamaian tidak dibangun melalui pidato, tetapi melalui tindakan yang menghadirkan manfaat bagi sesama manusia.

Demikian pula dalam bidang pendidikan. Masjid Muhammadiyah menjadi ruang pembinaan karakter, tempat anak-anak belajar Al-Qur’an, remaja berdiskusi, mahasiswa mengembangkan kepemimpinan, dan masyarakat memperkuat literasi keislaman yang moderat. Masjid melahirkan generasi yang religius sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pada bidang ekonomi, banyak masjid Muhammadiyah mengembangkan koperasi, pelatihan kewirausahaan, pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara profesional. Dakwah tidak berhenti pada ceramah, tetapi diwujudkan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Begitu pula dalam bidang kesehatan. Kehadiran jaringan rumah sakit dan klinik Muhammadiyah-‘Aisyiyah memperlihatkan bahwa pelayanan kesehatan merupakan bagian dari dakwah Islam. Tidak sedikit masyarakat non-Muslim yang merasakan manfaat pelayanan tersebut. Inilah wajah Islam yang inklusif dan membangun kepercayaan lintas komunitas.

Semua praktik tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa masjid dapat menjadi instrumen diplomasi publik Indonesia.
Dunia saat ini tidak hanya membutuhkan diplomat yang pandai bernegosiasi, tetapi juga institusi yang mampu membangun kepercayaan sosial. Masjid memiliki modal moral yang sangat besar untuk menjalankan fungsi tersebut.

Bayangkan apabila setiap masjid aktif menyelenggarakan dialog lintas agama, pelayanan kesehatan gratis, pemberdayaan ekonomi masyarakat, pendidikan anak, pelestarian lingkungan, bantuan kemanusiaan, serta ruang belajar bagi generasi muda. Dunia akan melihat wajah Islam melalui karya nyata, bukan melalui stereotip yang selama ini berkembang.

Inilah yang saya sebut sebagai Harmony Mosque Diplomacy.

Harmony Mosque Diplomacy merupakan model diplomasi keagamaan yang menjadikan masjid sebagai pusat pembangunan perdamaian melalui empat pilar utama, yaitu spiritualitas, kemanusiaan, pendidikan, dan kolaborasi global. Masjid tidak hanya menghubungkan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menghubungkan manusia dengan manusia lainnya dalam semangat persaudaraan universal.

Model ini sangat relevan dengan posisi Indonesia sebagai negara yang selama ini dikenal sebagai laboratorium Islam moderat. Pengalaman Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan berbagai organisasi keagamaan lainnya merupakan modal sosial yang dapat diperkenalkan kepada dunia sebagai praktik baik pembangunan perdamaian berbasis masyarakat.

Ke depan, jaringan masjid Indonesia dapat membangun kerja sama internasional melalui pertukaran imam, program kepemudaan, aksi kemanusiaan lintas negara, konferensi perdamaian, hingga kolaborasi riset dengan perguruan tinggi dunia. Dengan cara itu, diplomasi Indonesia tidak hanya dilakukan oleh negara, tetapi juga oleh masyarakat sipil melalui rumah-rumah ibadah.

 

Tinggalkan Balasan

Search