Membelah Laut Kehidupan: Dari Putus Asa Menuju Harapan

Membelah Laut Kehidupan: Dari Putus Asa Menuju Harapan
*) Oleh : Usep Supriatna
Anggota Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Barat
www.majelistabligh.id -

Ketika dunia terasa sempit, doa melapangkan kemungkinan yang tak terbayangkan. Ketika semua jalan terasa buntu, doa adalah pintu yang tidak pernah tertutup. Di saat logika berhenti dan harapan menipis, doa menghadirkan jalan yang tak terlihat.

Kebuntuan bukan akhir, seringkali itu adalah awal ketika doa mulai bekerja. Sebab, saat langkah terhenti di ujung jalan, doa mengajarkan bahwa selalu ada jalan lain dari Allah. Manusia melihat jalan yang tertutup, tapi doa membuka jalan yang belum terlihat. Di titik terlemah manusia itulah kekuatan doa mulai mengambil peran.
Rasulullah ﷺ pernah mengungkapkan doa itu melalui hadis yang diriwayatkan oleh A’masy dari Syaqiq dari Abdullah bin Mas’ud. Kata Rasulullah:
أَلَا أُعَلِّمُكَ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَكَلَّمَ بِهَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ حِينَ جَاوَزَ الْبَحْرَ بِبَنِي إِسْرَائِيلَ؟ فَقُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: قُولُوا: اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ.
Maukah kamu kuajari tentang kalimat-kalimat yang dibaca oleh Musa ﷺ ketika ia melintasi lautan bersama Bani Israil?” Kami menjawab, tentu, ya Rasulallah.” Kemudian Rasul menjawab, “Bacalah allâhumma lakal hamdu wailaikal musytaka, wa antal musta’ân, wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil adzîmi” (ya Allah, hanya milik-Mu segala puji, hanya kepada-Mu Dzat yang dimintai pertolongan. Tidak ada kekuatan untuk menjalankan sebuah ketaatan dan menghindari kemaksiatan kecuali pertolongan Allah yang maha Agung).

Doa yang dinisbatkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam ketika menghadapi situasi yang sangat genting, di depan lautan dan di belakang pasukan Fir’aun semakin dekat untuk memburunya, secara maknawi bukan sekadar rangkaian kalimat permohonan, tetapi merupakan peta sikap seorang hamba saat berada di titik paling sulit dalam hidupnya.

Mari kita renungkan bagian demi bagian:
Saat Jalan Tampak Buntu
Kisah Nabi Musa ketika di hadapan laut adalah simbol kondisi hidup kita. Saat semua pintu seolah tertutup, saat logika mengatakan “tidak mungkin” atau saat rasa takut memuncak. Di momen seperti itulah doa ini menjadi sangat hidup dan doa mengaambil perannya.

Namun ada tahapan yang mesti dilalui sebelum kita melangitkan permohonan kepada Allah, yaitu mulai dengan pujian kepada-Nya.

1. اللهم لك الحمد (Ya Allah, bagi-Mu segala puji)
Mulailah dengan pujian, bukan keluhan. Dalam kehidupan, saat kita sedang tertekan, refleks manusia adalah mengeluh. Tapi doa ini mengajarkan, tetap memuji Allah bahkan ketika keadaan belum berubah.
Ini adalah tanda iman yang matang, melihat nikmat bahkan di tengah ujian.

2. وإليك المشتكى (Hanya kepada-Mu aku mengadu)
Maknanya, tempat curhat terbaik hanyalah Allah. Dalam kehidupan, bukan berarti kita tidak boleh berbagi dengan manusia, tetapi hati kita tidak bergantung kepada mereka. Mengadu kepada Allah akan menguatkan jiwa.
Mengadu hanya kepada manusia bukan kepada Allah, sering berujung kecewa.

3. وأنت المستعان (Engkaulah tempat meminta pertolongan)
Maknanya, pertolongan sejati hanya dari Allah.
Dalam kehidupan, kita boleh berusaha, bekerja, mencari solusi. Tapi hati kita sadar yang menyelesaikan bukan usaha kita, tapi pertolongan Allah.
Seperti Musa As., tongkat hanya sebab, yang membelah laut adalah Allah.

4. ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)
Maknanya, pengakuan total akan keterbatasan diri.
Dalam kehidupan, kita tidak punya daya untuk menolak musibah, kita tidak punya kekuatan untuk meraih kebaikan, kecuali jika Allah menolong
Kalimat ini menghancurkan kesombongan dan melahirkan ketenangan.

Kesimpulan Mendalam
Doa ini menggambarkan 4 tahap menghadapi krisis hidup:
1. Memuji Allah, akan menjaga hati tetap positif
2. Mengadu kepada Allah, akan menenangkan jiwa
3. Meminta pertolongan Allah, akan meluruskan ketergantungan
4. Mengakui kelemahan diri, akan membuka pintu keajaiban

Pesan Kehidupan
Kisah pembelahan laut oleh Nabi Musa bukan sekadar mukjizat masa lalu. Ia adalah pelajaran bahwa saat kita sudah di ujung batas kemampuan, di situlah pertolongan Allah sering datang. Laut tidak terbelah saat Musa masih punya banyak opsi, tetapi laut terbelah ketika semua jalan manusia tertutup.

Renungan Penutup
Mungkin hari ini kita juga sedang “di depan lautan”, berupa masalah ekonomi, keluarga, kesehatan atau kegelisahan batin.  Maka doa ini mengajarkan jangan panik, tapi berpindahlah dari mengandalkan diri menuju bergantung kepada Allah.
Karena bisa jadi jalan yang tidak terlihat oleh kita, justru sudah Allah siapkan untuk terbuka. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search