Di tengah pusaran zaman yang menuntut segala hal bergerak cepat dan serbainstan, kemampuan berpikir irfani hadir sebagai jangkar spiritual yang krusial untuk menavigasi kompleksitas kehidupan modern. Melalui metode ini, seseorang diajak untuk tidak hanya mengandalkan rasio atau nalar semata, melainkan juga mengoptimalkan kepekaan batin dan refleksi mendalam guna menangkap makna terdalam di balik setiap garis takdir.
Pesan tersebut dikupas tuntas oleh Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Erik Tauvani Somae, dalam Pengajian Bulanan Karyawan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Mengangkat tajuk “Seni Berpikir Irfani: Membangun Cara Merasakan Kehidupan”, forum keilmuan ini digelar secara khidmat di Aula Kantor PP Muhammadiyah, Yogyakarta, pada Jumat (5/6/2026).
Dalam pemaparannya, Erik urai tradisi keilmuan Islam yang mengenal tiga pendekatan epistemologi utama: bayani, burhani, dan irfani. Jika pendekatan bayani menitikberatkan pada tekstualitas dan hafalan, serta burhani mengedepankan rasionalitas dan penalaran kritis, maka irfani melengkapinya dengan menyelami kedalaman batin.
Lebih lanjut, Erik menegaskan bahwa dimensi irfani ini dibangun di atas harmoni yang kokoh antara rasa (dzawa), pikir (tafakkur), dan zikir (dzikir).
“Ketika rasa, pikir, dan zikir telah berpadu secara integral, di situlah hikmah akan memancar. Orang-orang yang mampu memetik hikmah kehidupan adalah mereka yang senantiasa melibatkan ketiga aspek tersebut dalam setiap langkahnya,” ujarnya.
Metode berpikir irfani, menurut Erik, juga berimplikasi besar pada corak dakwah. Menukil pesan mendalam dari almarhum Buya Syafii Maarif, ia menekankan urgensi umat Islam untuk selalu menyisipkan dimensi kemanusiaan dalam membumikan ajaran agama.
“Sampaikanlah pesan-pesan Islam itu dengan bahasa hati,” kutip Erik.
Melalui wasiat tersebut, Erik menjabarkan bahwa dakwah tidak boleh terjebak dalam pendekatan hukum formalistik dan logika kaku belaka. Sebaliknya, syiar agama harus disuguhkan dengan empati yang tulus serta pemahaman komprehensif terhadap kondisi psikologis masyarakat. Melalui pendekatan persuasif inilah, pesan agama akan melintasi batas-batas dogmatis, terasa lebih inklusif, dan langsung menyentuh nurani pendengarnya.
Relevansi berpikir irfani kian terasa mendesak di era digital saat ini, di mana mobilitas yang tinggi dan derasnya arus informasi di media sosial mendikte keseharian. Ritme kehidupan yang serbaterburu-buru acap kali mereduksi ruang bagi manusia untuk sekadar berhenti sejenak, mengevaluasi diri, ataupun memaknai rangkaian pengalaman hidup.
“Saat ini segala hal dituntut serbacepat. Dampaknya, kita sering kali kehilangan momen berharga untuk berzikir, berpikir, dan merenung secara mendalam karena terseret oleh pusaran arus modernitas yang begitu masif,” keluhnya.
Tidak sebatas pada ranah spiritualitas personal, Erik memandang prinsip irfani sangat aplikatif di sektor publik seperti dunia pendidikan, kepemimpinan, hingga pelayanan masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, seorang guru yang berjiwa irfani akan menyadari bahwa setiap anak didik itu unik dan memiliki bakat berbeda, sehingga tidak adil jika capaian mereka diukur menggunakan satu standar kaku yang sama. Sementara dalam ranah kepemimpinan dan pelayanan, sikap irfani menuntun seseorang untuk mengedepankan keteladanan (uswah), peka terhadap kondisi sekitar, serta memandang tugas bukan sebagai beban profesi, melainkan sebagai amanah luhur yang harus dipertanggungjawabkan secara sosial dan spiritual.
Menutup sesi pengajian, Erik mengajak seluruh jemaah untuk membudayakan tradisi introspeksi (muhasabah), mempertebal rasa syukur, dan senantiasa menghadirkan kesadaran ketuhanan dalam aktivitas harian.
Dengan transformasi paradigma ini, kehidupan tidak lagi dijalani sebagai rutinitas mekanis yang menjemukan, melainkan bertransformasi menjadi madrasah spiritual untuk merengkuh hikmah serta membentuk karakter yang matang dan paripurna. (*/tim)
