Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap tanggal 2 Mei merupakan momentum untuk merenungi kembali wasiat Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan yang memerdekakan manusia. Namun, bagi kita sebagai umat Muslim, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge), melainkan sebuah kewajiban syar’i untuk mencetak insan kamil yang beradab dan bertakwa.
Di tahun 2026 ini, kementerian terkait mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”. Tema ini sejalan dengan prinsip ta’awun (tolong-menolong) dalam Islam, di mana pendidikan adalah tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat demi kemaslahatan umat.
Pendidikan: Perintah Wahyu Pertama
Pendidikan adalah jantung dari ajaran Islam. Wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah perintah shalat atau zakat, melainkan perintah untuk membaca dan belajar:
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ١ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ٢ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ٣ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ٤ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ ٥
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).
Ayat ini menegaskan bahwa fondasi utama kebangkitan sebuah bangsa adalah literasi dan ilmu pengetahuan yang disandarkan pada nilai-nilai ketuhanan. Tanpa iman, ilmu bisa menjadi alat penghancur; namun dengan iman, ilmu akan menjadi rahmat bagi semesta alam.
Menghadapi Badai “Viral” dengan Literasi Digital Islami
Baru-baru ini, dunia pendidikan kita sering dihebohkan oleh konten-konten viral di media sosial yang sering kali memicu fitnah atau kesalahpahaman. Salah satu contohnya adalah isu miskomunikasi antar warga pendidikan di Jembrana terkait aktivitas digital. Dalam pandangan Islam, setiap informasi yang diterima harus melalui proses tabayyun (verifikasi).
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).
“Partisipasi Semesta” dalam Hardiknas 2026 menuntut orang tua dan guru untuk bersinergi dalam membentengi anak-anak dari dampak negatif dunia digital. Literasi digital bukan hanya soal teknis, tapi soal akhlak dalam berinteraksi di ruang publik.
Memuliakan Guru, Menggapai Keutamaan Ilmu
Pemerintah terus berupaya melakukan revitalisasi kapasitas dan kesejahteraan guru. Hal ini sangat krusial karena dalam Islam, guru memiliki derajat yang sangat mulia. Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّة
“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Guru adalah pewaris nabi yang bertugas membimbing manusia keluar dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya ilmu. Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan harus dimulai dari memuliakan para pendidik, baik secara kapasitas keilmuan maupun kesejahteraan hidupnya.
Pendidikan Bermutu untuk Semua (Inklusivitas)
Islam tidak mengenal kasta dalam pendidikan. Frasa “untuk semua” mencerminkan nilai keadilan sosial dalam Islam. Rasulullah SAW menegaskan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban setiap individu tanpa terkecuali:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah).
Melalui percepatan digitalisasi dan revitalisasi satuan pendidikan, kita berharap tidak ada lagi anak bangsa yang tertinggal hanya karena faktor ekonomi atau geografis. Pendidikan bermutu harus bisa diakses oleh anak-anak di pelosok negeri sebagaimana mereka yang tinggal di kota-kota besar.
Hardiknas 2026 adalah momentum bagi kita semua untuk menyadari bahwa setiap diri kita adalah pendidik. Pendidikan adalah rumah besar tempat kita menyemai benih kebaikan. Mari kita perkuat partisipasi semesta ini dengan semangat keikhlasan.
Mari kita jadikan teknologi dan kemajuan digital tahun 2026 sebagai sarana dakwah dan wasilah untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia yang unggul secara intelektual dan kokoh secara spiritual. Dengan ilmu, kita bermartabat; dengan iman, kita selamat.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Semoga Allah SWT memberkahi setiap langkah kita dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.
