Menjadi Pemimpin Karena Rekam Jejak, Bukan Jejak yang Direkam

Menjadi Pemimpin Karena Rekam Jejak, Bukan Jejak yang Direkam
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Dalam kehidupan organisasi, masyarakat, maupun Persyarikatan, kepemimpinan idealnya lahir dari kepercayaan terhadap integritas, kompetensi, pengabdian dan rekam jejak seseorang. Bukan semata-mata dari kepiawaian membangun citra diri. Pemimpin yang baik bukan terutama orang yang sibuk memperkenalkan dirinya sebagai calon pemimpin, tetapi orang yang selama bertahun-tahun telah menunjukkan kualitas kepemimpinannya melalui karya, pengabdian dan keteladanan.

Di sinilah pentingnya membedakan rekam jejak dengan jejak yang direkam. Rekam jejak adalah kumpulan nyata dari apa yang telah dilakukan seseorang sepanjang perjalanan pengabdiannya. Ia terbentuk secara alamiah melalui waktu dan dapat diverifikasi. Sebaliknya, “jejak yang direkam” dapat berarti aktivitas yang sengaja didokumentasikan, dipublikasikan, lalu ditampilkan sedemikian rupa agar seseorang terlihat aktif, berjasa dan layak menjadi pemimpin. Dokumentasi tentu tidak salah. Yang menjadi persoalan adalah ketika dokumentasi menggantikan substansi.

Seorang pemimpin sejati tidak perlu terlalu sibuk mengatakan bahwa dirinya telah berjasa. Masyarakatlah yang akan menilai melalui rekam jejaknya.

Jabatan adalah Amanah, Bukan Objek Ambisi
Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah yang berat. Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا ۙ وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. An-Nisa [4]: 58).

Ayat ini memberikan prinsip fundamental dalam memilih pemimpin: amanah harus diberikan kepada ahlinya. Karena itu, persoalannya bukan siapa yang paling berambisi mendapatkan jabatan, melainkan siapa yang memiliki kelayakan untuk memikul amanah tersebut.

Rasulullah saw. bahkan memberikan peringatan sangat tegas kepada Abdurrahman bin Samurah:
يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman, janganlah engkau meminta jabatan kepemimpinan. Jika engkau diberi jabatan karena memintanya, engkau akan diserahkan kepadanya (tanpa pertolongan Allah); tetapi jika engkau diberi jabatan tanpa memintanya, engkau akan dibantu dalam melaksanakannya.” (HR. al-Bukhari no. 7147; Muslim no. 1652c).

Hadis tersebut tidak boleh dipahami secara sederhana bahwa seseorang sama sekali tidak boleh memiliki kesiapan untuk memimpin. Pesan utamanya adalah larangan menjadikan jabatan sebagai objek ambisi pribadi. Jabatan bukan sesuatu yang harus dikejar demi status, kehormatan, pengaruh atau keuntungan pribadi.
Karena itu, ada perbedaan mendasar antara orang yang siap ketika diberi amanah dengan orang yang aktif mencari amanah agar dirinya mendapatkan posisi.

Rekam Jejak Tidak Dibangun Menjelang Pemilihan
Rekam jejak tidak dapat dibuat dalam waktu singkat. Ia merupakan akumulasi dari pikiran, perkataan, keputusan, karya, pengorbanan, konsistensi dan keberpihakan seseorang selama perjalanan hidupnya.
Orang yang selama bertahun-tahun bekerja tanpa kamera, tanpa publikasi dan tanpa menunggu penghargaan, sebenarnya sedang membangun rekam jejak. Ketika suatu hari ia dipercaya menjadi pemimpin, kepercayaan tersebut merupakan konsekuensi dari perjalanan pengabdiannya.

Sebaliknya, seseorang dapat saja sangat aktif menjelang momentum pemilihan. Banyak kegiatan didokumentasikan, banyak foto dipublikasikan, banyak pertemuan ditampilkan, banyak pernyataan disampaikan dan berbagai kontribusi dikemas menjadi narasi tentang dirinya.

Sekali lagi, dokumentasi bukanlah sesuatu yang salah. Yang perlu dikritisi adalah apabila dokumentasi dipakai untuk menciptakan kesan seolah-olah seseorang memiliki rekam pengabdian yang jauh lebih besar daripada kenyataan.
Karena itu, masyarakat perlu bertanya: Apa yang benar-benar telah dilakukan sebelum seseorang ingin menjadi pemimpin? Bukan hanya: Apa yang sedang ia tampilkan ketika ingin menjadi pemimpin? Pertanyaan pertama menguji rekam jejak. Pertanyaan kedua dapat menguji pencitraan.

Pemimpin yang Dicari, Bukan yang Mencari
Dalam tradisi kepemimpinan yang sehat, terdapat perbedaan antara pemimpin yang dicari dan orang yang mencari posisi pemimpin. Pemimpin yang dicari biasanya ditemukan melalui proses panjang. Orang lain melihat integritasnya, kompetensinya, konsistensinya, pengorbanannya dan manfaat yang telah diberikannya. Karena itu, ketika amanah kepemimpinan datang kepadanya, masyarakat merasa bahwa ia memang memiliki dasar untuk dipercaya.

Sebaliknya, orang yang mencari posisi cenderung memulai dari pertanyaan: “Bagaimana saya mendapatkan jabatan itu?” Sedangkan pemimpin yang lahir dari pengabdian lebih dekat dengan pertanyaan: “Apa yang dapat saya lakukan untuk kemaslahatan?”

 

Tinggalkan Balasan

Search