Menjadi Pemimpin Karena Rekam Jejak, Bukan Jejak yang Direkam

Menjadi Pemimpin Karena Rekam Jejak, Bukan Jejak yang Direkam
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Jangan Memilih Pemimpin Hanya karena Pandai Menampilkan Diri

Dalam memilih pemimpin, masyarakat dan organisasi perlu mengembangkan budaya tabayyun terhadap rekam jejak. Jangan hanya bertanya:
 Siapa yang paling populer?
 Siapa yang paling banyak tampil?
 Siapa yang paling banyak dikenal?
 Siapa yang paling sering membuat publikasi?
 Siapa yang paling pandai berbicara?

Tetapi tanyakan pula:
 Apa yang telah ia kerjakan?
 Apa kontribusinya ketika belum memiliki jabatan?
 Bagaimana sikapnya ketika berbeda pendapat?
 Bagaimana ia memperlakukan orang yang tidak memiliki kekuasaan?
 Apakah ia konsisten antara ucapan dan perbuatan?
 Bagaimana ia menggunakan amanah yang pernah diberikan?
 Apa yang dapat diverifikasi dari rekam pengabdiannya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu memindahkan ukuran kepemimpinan dari popularitas menuju kredibilitas.

Penutup: Biarkan Rekam Jejak yang Berbicara
Kepemimpinan yang sehat bukanlah perlombaan siapa yang paling pandai mempromosikan dirinya. Kepemimpinan adalah proses menemukan orang yang selama ini telah membuktikan dirinya melalui pengabdian. Pemimpin yang baik tidak harus mencari panggung; terkadang justru panggung kepemimpinan yang mencarinya. Ia tidak sibuk bertanya, “Bagaimana saya mendapatkan jabatan?” tetapi lebih dahulu menunjukkan, “Apa yang telah saya lakukan untuk umat dan organisasi?”

Karena itu, dalam memilih pemimpin, jangan hanya melihat jejak yang direkam, tetapi telusuri rekam jejak. Jangan hanya melihat apa yang tampak hari ini, tetapi lihat perjalanan panjang sebelumnya. Jangan hanya mendengar apa yang dikatakan tentang dirinya, tetapi periksa apa yang benar-benar telah dikerjakannya.

Pada akhirnya, pencitraan dapat membangun persepsi, tetapi hanya rekam jejak yang dapat membangun kepercayaan. Jabatan mungkin dapat diperoleh melalui berbagai cara, tetapi kehormatan kepemimpinan hanya dapat dipertahankan melalui integritas, kompetensi, amanah dan karya nyata.

Prinsipnya sederhana: Jangan mencari pemimpin dari siapa yang paling keras mencari jabatan. Carilah dari siapa yang paling nyata rekam pengabdiannya. Dan bagi siapa pun yang dipercaya menjadi pemimpin: Jangan merasa besar karena jabatan; jadikan jabatan sebagai kesempatan untuk membesarkan kemaslahatan.
Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search