Menjaga Langit, Merawat Bumi

Nasaruddin Umar
*) Oleh : Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.
Menteri Agama RI
www.majelistabligh.id -

Sabtu, 1 Agustus 2026 bertempat di lapangan Monas Jakarta lalu merupakan momentum luar biasa bagi bangsa ini. Lebih dari 100 ribu peserta dari berbagai umat beragama hadir, memanjatkan doa, mengetuk pintu langit dan menengadahkan harap untuk bangsa ini agar senantiasa damai, rukun, sejahtera dan maju. Mereka datang dari berbagai wilayah, seperti Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan sebagian dari pelosok negeri.

Dalam kesempatan tersebut saya sampaikan bahwa kemerdekaan tidak hanya lahir dari perjuangan di medan perang, tetapi juga dari doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan. Para pendiri bangsa telah mengabadikan kesadaran itu dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa Indonesia merdeka “atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Kalimat tersebut merupakan fondasi spiritual yang mengingatkan bahwa perjalanan bangsa ini selalu bertumpu pada perpaduan antara ikhtiar manusia dan pertolongan Tuhan.

Di tengah dunia yang dipenuhi ketidakpastian, konflik, dan krisis kemanusiaan, Indonesia patut bersyukur karena masih mampu menjaga stabilitas sosial, politik, dan ekonomi. Namun, rasa syukur tidak boleh berhenti sebagai ungkapan lisan. Syukur harus diwujudkan dalam kerja yang jujur, pelayanan yang tulus, serta komitmen untuk terus memperkuat persatuan bangsa. Sebab, nikmat terbesar sebuah negara bukan hanya kekayaan alamnya, tetapi kemampuannya merawat kedamaian.

Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak bangsa, yakni kerukunan dalam keberagaman. Ketika ratusan ribu umat dari berbagai agama berkumpul dalam satu majelis untuk mendoakan negeri, kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa perbedaan tidak selalu melahirkan pertentangan. Perbedaan justru dapat menjadi kekuatan apabila dipersatukan oleh cinta kepada tanah air. Kerukunan tidak boleh berhenti pada slogan, melainkan energi sosial yang memungkinkan pembangunan berjalan dengan baik.

Karenanya, pembangunan bangsa meliputi semua aspek yang tidak cukup diukur dengan angka-angka ekonomi. Pendidikan harus melahirkan manusia yang cerdas sekaligus berkarakter. Program-program peningkatan kualitas guru, bantuan pendidikan, hingga pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta merupakan ikhtiar untuk membangun manusia Indonesia yang unggul secara intelektual sekaligus memiliki empati, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama serta lingkungan. Peradaban besar selalu lahir dari manusia yang berakhlak mulia.

Pada saat yang sama, agama juga harus hadir sebagai kekuatan yang membela kehidupan. Melalui gerakan ekoteologi, penguatan zakat, dan pengembangan wakaf produktif, nilai-nilai keagamaan diterjemahkan menjadi aksi nyata yang menjaga bumi sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat. Ibadah memiliki makna luas yang menjelma menjadi kepedulian terhadap alam, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan kepada mereka yang membutuhkan.

Pada akhirnya, bangsa yang besar selain ditopang kemajuan teknologi, kekuatan ekonomi, atau kecanggihan politik, juga dibangun oleh hati yang bening, akhlak yang luhur, serta doa yang tidak pernah putus. Zikir menguatkan hati, doa menghubungkan bumi dengan langit, sedangkan kerja dan pengabdian menghadirkan manfaat bagi sesama.

Ketiganya harus berjalan bersama. Ketika langit terus kita rawat dengan doa, dan bumi kita bangun dengan karya, di sanalah Indonesia akan melangkah menjadi bangsa yang berdaulat, adil, makmur, sekaligus bermartabat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search