Menjaga Lisan Merawat Iman: Menyingkap Bahaya Tersembunyi Ghibah

Menjaga Lisan Merawat Iman: Menyingkap Bahaya Tersembunyi Ghibah
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“Don’t let your tongue mention other people’s shortcomings, because you also have shortcomings and other people also have tongues.”
“(Lidahmu jangan kau biarkan menyebut kekurangan orang lain, sebab engkau pun memiliki kekurangan dan orang lain juga memiliki lidah).”

Di era digital saat ini, ghibah menjadi salah satu dosa yang paling mudah dilakukan, tetapi sering dianggap biasa. Obrolan di grup WhatsApp, komentar di media sosial, unggahan sindiran, hingga penyebaran informasi tanpa tabayun kerap berubah menjadi ajang membicarakan keburukan orang lain. Padahal, dalam Islam, ghibah bukan sekadar kesalahan lisan, melainkan perbuatan yang dapat merusak iman, memecah persaudaraan, dan menghancurkan kehormatan sesama manusia.

Ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara muslim yang tidak ia sukai apabila mendengarnya, walaupun hal tersebut benar adanya. Jika yang disampaikan tidak benar, maka perbuatan itu berubah menjadi fitnah yang dosanya lebih besar. Karena itu, Islam sangat menjaga kehormatan setiap manusia dan melarang ucapan yang dapat melukai hati serta merendahkan martabat orang lain.

Allah Swt. berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ
Artinya:
“... Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya ...” (QS. Al-Hujurat: 12).

Dalam Tafsir Al-Wajiz, Syekh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa Allah menyerupakan pelaku ghibah dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri. Perumpamaan ini menunjukkan betapa hinanya perbuatan ghibah dan menjadi peringatan agar manusia menjaga lisannya dari merusak kehormatan orang lain.

Rasulullah saja juga bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟ قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ…
“Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia benci.” (HR. Muslim No. 2589).

Bahaya ghibah bukan hanya memicu fitnah dan permusuhan, tetapi juga menghapus pahala amal kebaikan. Orang yang terbiasa menggunjing akan mudah merasa paling benar, kehilangan empati, dan sulit melihat kekurangan dirinya sendiri. Dalam kehidupan berbangsa, budaya saling menghina dan menyebarkan kebencian di ruang digital dapat melemahkan persatuan dan merusak kerukunan masyarakat.

Karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari menjaga iman. Seorang muslim hendaknya membiasakan diri berkata baik, melakukan tabayun sebelum menyebarkan informasi, serta menjadikan media sosial sebagai sarana menebar ilmu dan kebaikan, bukan kebencian. Lisan yang terjaga akan melahirkan hati yang bersih, hubungan yang harmonis, dan masyarakat yang damai.

Semoga Allah Swt. menjaga lisan kita, keluarga kita, dan generasi penerus bangsa dari ucapan yang sia-sia dan menyakitkan. Semoga kita menjadi hamba yang mampu menjaga kehormatan sesama serta memperkuat ukhuwah dengan tutur kata yang santun dan menyejukkan.

Semoga bermanfaat.

 

Tinggalkan Balasan

Search