Menjaga Marwah, Merawat Keikhlasan: Tiga Pilar Kemuliaan Jiwa Kader Muhammadiyah

Menjaga Marwah, Merawat Keikhlasan: Tiga Pilar Kemuliaan Jiwa Kader Muhammadiyah
*) Oleh : Agus Salim
Ketua PCPM Purwokerto Selatan
www.majelistabligh.id -

Menjadi kader Muhammadiyah bukan sekadar tentang cakap dalam berorganisasi atau lihai mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Lebih dari itu, ruh dari gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar terletak pada kedalaman spiritualitas dan kemuliaan akhlak para penggeraknya.

Di tengah dinamika zaman yang serba pamer (flexing) dan mudah mengeluh, kita patut merenungkan kembali sebuah wasiat emas dari Imam Asy-Syafi’i yang dinukil dalam kitab Manaqib asy-Syafi’iy (Jilid 2, hlm. 188):

ﺟﻮﻫﺮ ﺍﻟﻤـــــــﺮﺀ ﻓﻲ ﺛﻼﺙ: ﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﻔـــــﻘـﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﻦ ﻋﻔﺘﻚ ﺃﻧﻚ ﻏﻨﻲ، ﻭﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﻐﻀـﺐ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻚ ﺭﺍﺽ، ﻭﻛﺘﻤﺎﻥ ﺍﻟﺸﺪﺓ ﺣﺘﻰ ﻳﻈﻦ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺃﻧﻚ ﻣﺘﻨﻌﻢ.

“Kemuliaan jiwa seseorang ada pada tiga perkara: Menyembunyikan kefakiran hingga orang lain menyangka bahwa engkau berkecukupan; Menyembunyikan kemarahan hingga orang lain menyangka bahwa engkau ridha; Menyembunyikan penderitaan hingga orang lain menyangka bahwa engkau hidup enak.”

Tiga pilar kemuliaan jiwa (jauharul mar’i) ini sangat kontekstual jika direfleksikan dalam kehidupan kita sebagai kader persyarikatan, khususnya di Jawa Tengah. Mari kita bedah satu per satu:

1. Menjaga Iffah (Harga Diri) di Tengah Keterbatasan
Pilar pertama adalah menyembunyikan kefakiran. Dalam konteks gerakan, tidak jarang kita menemui keterbatasan finansial atau fasilitas dalam menghidupkan ranting dan cabang. Namun, watak asli kader Muhammadiyah adalah iffah—menahan diri dari meminta-minta dan tetap tampil bermartabat.
Seperti semangat K.H. Ahmad Dahlan saat melelang barang-barang pribadinya demi menggaji guru, beliau tidak mengeluh kepada manusia, melainkan mengadu kepada Allah. Kita diajarkan untuk tetap bergerak dengan tangan di atas, mandiri secara ekonomi, dan menjaga wibawa persyarikatan agar tidak dipandang remeh.

2. Mengelola Amarah dengan Lapang Dada
Sebagai kader yang berkecimpung di organisasi besar, benturan ide, perbedaan pendapat dalam permusyawaratan, hingga kritik dari luar adalah hal yang lumrah. Pilar kedua mengingatkan kita untuk menyembunyikan kemarahan.
Kader Muhammadiyah dituntut memiliki kedewasaan emosi. Ketika dikritik atau menghadapi situasi yang tidak sesuai harapan, kita diajarkan untuk meredam ego, mengedepankan tabayyun, dan tetap tersenyum.

Sikap teduh ini membuat orang lain melihat kita senantiasa ridha dan ikhlas, sehingga ukhuwah Islamiyah di dalam tubuh persyarikatan tetap terjaga kokoh.

3. Ketabahan dalam Berjuang (Khitmah)
Perjuangan di Muhammadiyah adalah perjuangan yang panjang dan melelahkan. Kadang ada lelah yang teramat sangat, ada pengorbanan waktu, pikiran, bahkan materi yang tidak sedikit. Namun, pilar ketiga mengajarkan kita untuk menyembunyikan penderitaan tersebut.

Jangan sampai ruang publik atau media sosial kita dipenuhi dengan keluh kesah atas beratnya amanah organisasi. Sebaliknya, tampillah dengan wajah yang optimis dan penuh energi positif (mutana’im). Biarlah lelah dan peluh itu menjadi rahasia indah antara kita dan Allah SWT yang kelak akan menjadi saksi di akhirat.

Refleksi Akhir
Di pagi yang berkah ini, Ahad 26 Muharram 1448 H / 12 Juli 2026 M, mari kita jadikan tiga nasihat Imam Asy-Syafi’i ini sebagai cermin diri.

Kemuliaan sejati seorang kader Muhammadiyah tidak diukur dari seberapa vokal ia di podium, melainkan dari seberapa tangguh ia menjaga kehormatan dirinya, seberapa anggun ia mengelola emosinya, dan seberapa ikhlas ia menyembunyikan kepayahannya dalam berjuang demi tegaknya agama Islam.

Semoga Allah SWT senantiasa menguatkan pundak kita, melembutkan hati kita, dan menjaga keikhlasan kita dalam ber-Muhammadiyah. Nashrun minallahi wa fathun qarib. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search