Pernahkah Anda merasakan getaran di hati saat mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an? Atau mungkin, pernahkah sebuah nasihat kebenaran membuat Anda merasa begitu kecil di hadapan Sang Pencipta?
Dalam hiruk-pikuk dunia yang sering kali menuntut kita untuk tampil “besar” dan “hebat”, Allah SWT justru memberikan resep kemuliaan melalui kerendahan hati.
Dalam Surah As-Sajdah ayat 15, Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya (ayat-ayat Kami), mereka menyungkur sujud dan bertasbih serta memuji Tuhannya, dan mereka tidak menyombongkan diri.”
Ayat tersebut merupakan potret sejati dari seorang mukmin yang memiliki kedekatan spiritual yang dalam. Karakteristik orang beriman dapat dilihat dari kepekaan hatinya. Ketika diperingatkan dengan ayat Allah, mereka menunjukkan ketundukan total. “Menyungkur sujud” bukan hanya aktivitas fisik, melainkan simbol bahwa logika dan ego mereka tunduk di bawah otoritas wahyu.
Seorang mukmin selalu bertasbih dan memuji Allah sebagai bentuk pengakuan bahwa segala kesempurnaan hanya milik-Nya. Saat seseorang memuji Tuhan, secara otomatis ia sedang menyadari keterbatasan dirinya sendiri. Ini adalah benteng pertama dalam menjaga kesehatan mental dan spiritual dari penyakit merasa paling benar.
Seorang mukmin berusaha menjaga dirinya dari penyakit kesombongan. Karena ia sadar kesombongan adalah penghalang antara hamba dan pencipta-Nya. Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa iman tidak bisa bercampur dengan kesombongan. Mereka yang bersujud adalah mereka yang sadar bahwa tidak ada satu pun atribut duniawi; baik itu harta, jabatan, maupun kecerdasan; yang layak untuk disombongkan.
Keutamaan orang mukmin yang menjauhi kesombongan ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim).
Sementara itu keutamaan orang mukmin yang bersujud dengan tulus, Rasulullah bersabda, “Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya.” (HR. Muslim).
Ayat ke-15 dari Surah As-Sajdah ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan introspeksi. Apakah kita termasuk orang yang merasa gerah saat dikritik dengan ayat-ayat Al-Quran? Ataukah kita termasuk golongan yang dengan lapang dada berkata, “Sami’na wa atha’na” (Kami dengar dan kami taat)?
Menjadi rendah hati di hadapan Allah tidak akan membuat kita rendah di mata manusia. Sebaliknya, siapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya. Mari kita jadikan sujud kita bukan sekadar gerakan shalat, tapi sebagai momen untuk membuang jauh-jauh benih kesombongan dari dalam dada.(*)
