Menjadi Insan Berempati dengan Sesama

Menjadi Insan Ber-Empati dengan Sesama
*) Oleh : M. Syukron Dian
PCM Candi Wakil Ketua bidang Majelis Kader & SDI, Majelis MPKS.
www.majelistabligh.id -

Keimanan yang benar bukan hanya tampak di atas sajadah, tetapi juga hadir dalam kepedulian terhadap sesama. (QS. Al-Ma’un: 107/1-7)

Cara mengalirkan iman dari sajadah ke kepedulian:
1. Peka Terhadap Lingkungan: Mulailah dengan menyadari kesulitan orang-orang terdekat, seperti keluarga, tetangga, atau rekan kerja.
2. Ringan Tangan Membantu: Berikan bantuan sesuai kemampuan, baik berupa materi, tenaga, pikiran, maupun sekadar kata-kata yang menguatkan.
3. Menjaga Lisan dan Sikap: Memastikan bahwa kehadiran kita membawa rasa aman, bukan justru menyakiti atau merugikan orang lain.

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemudahan komunikasi, dunia justru dihadapkan pada persoalan yang tidak kalah serius, yaitu menurunnya rasa empati antarsesama. Berbagai peristiwa sosial memperlihatkan bahwa manusia semakin mudah terhubung melalui perangkat digital, tetapi tidak selalu semakin dekat secara emosional.

Informasi tentang bencana, kemiskinan, anak terlantar, atau tetangga yang sedang sakit dapat diterima dalam hitungan detik, namun sering kali berhenti sebatas menjadi tontonan tanpa melahirkan kepedulian nyata. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu diikuti oleh kemajuan hati nurani.

Kondisi tersebut menjadi tantangan besar bagi umat Islam. Sebab, Islam sejak awal hadir bukan hanya sebagai agama yang mengatur hubungan manusia dengan Allah (ḥablum minallah), tetapi juga membangun hubungan harmonis antarmanusia (ḥablum minannas). Kedua dimensi ini tidak dapat dipisahkan.

Ibadah ritual memperoleh makna yang sempurna apabila melahirkan akhlak mulia, kasih sayang, keadilan, dan kepedulian terhadap sesama. Sebaliknya, ritual yang tidak membentuk karakter sosial akan kehilangan ruh dan tujuan yang dikehendaki syariat.

Al-Qur’an memberikan perhatian yang sangat besar terhadap persoalan ini. Salah satu surah yang secara tegas menghubungkan kualitas ibadah dengan kepedulian sosial adalah Surah Al-Mā’ūn. Meskipun hanya terdiri atas tujuh ayat, kandungan surah ini sangat mendalam. Allah membuka surah tersebut dengan sebuah pertanyaan yang menggugah kesadaran:

أَرَءَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
“Tahukah engkau orang yang mendustakan agama?” (QS. Al-Ma’un: 1)

Pertanyaan ini bukan sekadar mengundang rasa ingin tahu, tetapi mengajak setiap orang melakukan muhasabah. Siapakah yang dimaksud sebagai pendusta agama? Mungkin sebagian orang akan menjawab bahwa pendusta agama adalah mereka yang menolak keberadaan Allah, mengingkari kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, atau tidak mempercayai hari akhir. Akan tetapi, jawaban Al-Qur’an ternyata jauh lebih dalam dan menyentuh realitas kehidupan sehari-hari.

Allah melanjutkan firman-Nya:

فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ ۝ وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ

“Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 2–3)

Ayat ini memberikan pesan yang sangat kuat. Ukuran keimanan tidak berhenti pada pengakuan lisan atau banyaknya ritual ibadah, tetapi tercermin dari sikap seseorang terhadap kelompok yang lemah. Orang yang mengabaikan hak-hak anak yatim, tidak peduli kepada fakir miskin, serta membiarkan penderitaan orang lain tanpa upaya membantu, digambarkan Al-Qur’an sebagai pribadi yang telah kehilangan hakikat agamanya.

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan Surah Al-Mā’ūn menjelaskan bahwa istilah mendustakan agama bukan hanya berarti mengingkari ajaran Islam secara terang-terangan, tetapi juga mencakup mereka yang perilakunya bertentangan dengan nilai-nilai agama. Dengan kata lain, keimanan yang benar harus tampak dalam tindakan nyata. Pendapat yang senada juga disampaikan oleh Imam Al-Qurthubi dan Syekh Abdurrahman As-Sa’di, bahwa Surah Al-Mā’ūn merupakan kritik terhadap keberagamaan yang hanya berhenti pada simbol, sementara hati kehilangan belas kasih kepada sesama.

Pesan tersebut sangat relevan dengan kondisi masyarakat modern. Tidak sedikit orang yang tampak tekun beribadah, tetapi masih mudah menyakiti orang lain melalui ucapan maupun perbuatannya. Ada yang rajin menghadiri majelis ilmu, namun enggan membantu tetangga yang kesulitan. Ada yang aktif membangun citra kesalehan di media sosial, tetapi mengabaikan hak-hak anggota keluarganya sendiri. Bahkan, tidak jarang seseorang dikenal dermawan di ruang publik, tetapi bersikap kasar kepada orang yang bekerja di rumahnya. Fenomena-fenomena seperti ini menunjukkan bahwa ibadah ritual belum sepenuhnya bertransformasi menjadi akhlak sosial.

Dalam sejarah Muhammadiyah, Surah Al-Mā’ūn memiliki makna yang sangat istimewa. K.H. Ahmad Dahlan tidak memandang surah ini sebagai bacaan yang cukup dihafalkan, tetapi sebagai pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Beliau mengajarkan murid-muridnya untuk terus mengulang Surah Al-Mā’ūn hingga mereka memahami bahwa memahami Al-Qur’an tidak cukup berhenti pada hafalan, melainkan harus dibuktikan dengan amal nyata. Dari pemahaman inilah lahir berbagai gerakan pelayanan sosial Muhammadiyah, seperti panti asuhan, sekolah, rumah sakit, layanan kesehatan, dan kegiatan filantropi yang terus berkembang hingga saat ini.

Oleh karena itu, membaca kembali Surah Al-Mā’ūn pada era modern bukan sekadar mengulang bacaan yang telah akrab di telinga, tetapi juga melakukan refleksi terhadap kualitas keberagamaan kita. Apakah salat telah menjadikan kita lebih peduli kepada tetangga? Apakah puasa telah melatih kita merasakan penderitaan orang miskin? Apakah zakat telah menumbuhkan solidaritas sosial? Ataukah ibadah yang kita lakukan baru berhenti pada rutinitas yang belum menyentuh hati dan perilaku?

Tulisan ini berupaya mengkaji Surah Al-Mā’ūn melalui pendekatan tafsir sosial dengan memadukan penjelasan para mufasir klasik dan kontemporer, hadis-hadis Nabi ﷺ, serta contoh-contoh nyata dalam kehidupan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan masyarakat. Harapannya, pembaca tidak hanya memahami kandungan ayat, tetapi juga terdorong untuk menghidupkan nilai-nilai empati dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya seberapa banyak ibadah yang dikerjakan, melainkan seberapa besar manfaat yang dihadirkan bagi sesama. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search