MPKS PP Muhammadiyah Dorong AUMSos Lebih Adaptif, Terukur, dan Berkelanjutan

MPKS PP Muhammadiyah Dorong AUMSos Lebih Adaptif, Terukur, dan Berkelanjutan
www.majelistabligh.id -

Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) Indeks Kinerja Amal Usaha Sosial Muhammadiyah (IKA) Batch 1 di Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah, Semarang, 4–6 September 2026.

Sebanyak 44 peserta dari Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mengikuti kegiatan yang dirancang untuk memperkuat kapasitas pembinaan, pengawasan, dan pengelolaan Amal Usaha Sosial Muhammadiyah (AUMSos) secara lebih sistematis dan berbasis kinerja.

Peserta berasal dari unsur MPKS PWM Jawa Tengah, MPKS PDM se-Jawa Tengah, pengelola AUMSos se-Jawa Tengah, MPKS PWM Yogyakarta, MPKS PDM se-Yogyakarta, serta pengelola AUMSos se-Yogyakarta.

IKA dikembangkan sebagai instrumen self-assessment untuk mengukur kapasitas dan kinerja AUMSos secara sistematis. Instrumen ini mengadaptasi sejumlah pendekatan pengukuran kapasitas organisasi, antara lain USAID MADANI Indeks Kinerja Organisasi dan Organizational Capacity Assessment (OCA), yang kemudian disesuaikan dengan karakteristik AUMSos Muhammadiyah dan mengacu pada Pedoman AUMSos Muhammadiyah.

Dengan pendekatan tersebut, IKA tidak sekadar menjadi alat untuk menghasilkan skor atau peringkat organisasi. Instrumen ini dirancang sebagai sarana refleksi dan pembinaan untuk membantu AUMSos mengenali kondisi organisasinya, memetakan kekuatan dan area yang masih perlu diperkuat, serta menyusun prioritas pengembangan secara lebih terarah.

IKA sebagai “General Check Up” AUMSos

Wakil Ketua MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ridwan Furqoni menegaskan, IKA dapat dipandang sebagai general check up bagi AUMSos Muhammadiyah.

“Indeks Kinerja AUMSos merupakan upaya general check up AUMSos Muhammadiyah. Dengan demikian, kita dapat melihat kondisi organisasi secara lebih utuh dan mengetahui bagian mana yang perlu diperkuat,” ujar Ridwan.»

Menurut dia, penguatan dan modernisasi AUMSos tidak cukup dimaknai sebagai upaya mengikuti perubahan zaman. Modernisasi harus berorientasi pada peningkatan kualitas layanan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

“Modernisasi AUMSos bukan sekadar mengikuti zaman, tetapi memastikan layanan terus bertumbuh dan berkembang,” tegasnya.

Pandangan tersebut menempatkan IKA bukan sebagai instrumen evaluasi yang berhenti pada penilaian, melainkan sebagai bagian dari proses pembelajaran organisasi. Hasil pengukuran diharapkan dapat membantu AUMSos menentukan aspek yang perlu diperbaiki dan dikembangkan.

Memperkuat Hubungan Majelis, Pengurus, dan Pengelola

Koordinator Tim Pelaksana kegiatan dari MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Zaenal Abidin, mengatakan IKA memiliki dimensi strategis dalam memperkuat hubungan kerja antara Majelis sebagai penyelenggara, pengurus sebagai unsur pembina dan pengawas, serta pengelola AUMSos sebagai pelaksana layanan.

«“Indeks Kinerja AUMSos merupakan strategi untuk memperkuat bonding antara MPKS, pengurus, dan pengelola LKS Muhammadiyah melalui sebuah tools Indeks Kinerja. Dengan instrumen ini, proses pembinaan tidak berhenti pada penilaian, tetapi dilanjutkan dengan agenda penguatan kapasitas dan pengembangan organisasi,” jelas Zaenal.»

Ia menambahkan, hasil pengukuran IKA diharapkan menjadi pijakan bagi AUMSos dalam merumuskan strategi pengembangan organisasi secara lebih terencana.

«“IKA mendorong LKS Muhammadiyah untuk melakukan pengembangan organisasi yang dirumuskan dalam rencana strategis atau renstra, sekaligus membangun komitmen seluruh komponen untuk bersama-sama mengembangkan AUMSos,” lanjutnya.»

Dengan demikian, pengukuran kinerja diharapkan dapat membangun kesadaran bersama bahwa pengembangan AUMSos merupakan tanggung jawab seluruh unsur yang terlibat di dalamnya, bukan hanya pengelola layanan.

Dari Penilaian Menuju Rencana Aksi

Wakil Sekretaris MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Tim Fasilitator IKA, Siti Masyitah Rahma, mengatakan keberhasilan penerapan IKA sangat bergantung pada pemahaman para pihak yang terlibat dalam proses pengukuran.

Karena itu, ToT secara khusus diarahkan untuk membekali penyelenggara, pengurus, dan pengelola AUMSos agar mampu memfasilitasi proses pengukuran sekaligus menerjemahkan hasilnya menjadi agenda penguatan organisasi.

Peserta ditargetkan memiliki tiga kompetensi utama, yakni mampu menjadi fasilitator dalam proses pengukuran IKA, memahami domain dan subdomain dalam instrumen IKA, serta mampu melakukan tabulasi skor dan merumuskan rencana aksi penguatan AUMSos berdasarkan hasil pengukuran.

Pendekatan tersebut menempatkan pengukuran kinerja sebagai bagian dari siklus pengembangan organisasi: mengukur, merefleksikan, merencanakan, memperbaiki, dan mengembangkan.

Karena itu, skor IKA tidak berhenti sebagai angka yang menggambarkan kondisi AUMSos pada satu titik waktu. Skor tersebut diharapkan menjadi dasar dialog organisasi untuk menentukan intervensi yang paling relevan, baik dalam aspek tata kelola, kapasitas kelembagaan, pengelolaan sumber daya, kualitas layanan, maupun keberlanjutan organisasi.

Menyiapkan Fasilitator di Tingkat Wilayah dan Daerah

Pelaksanaan ToT IKA Batch 1 di Jawa Tengah dan Yogyakarta sekaligus menjadi langkah awal untuk membangun kapasitas fasilitator di tingkat wilayah dan daerah. Para peserta diharapkan dapat menjadi penggerak penerapan IKA di lingkungan AUMSos masing-masing.

Selama tiga hari pelatihan, peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman konseptual mengenai IKA, tetapi juga mengikuti pendalaman domain dan subdomain, praktik tabulasi skor, penentuan tingkat kedewasaan AUMSos, penyusunan prioritas penguatan kapasitas, serta simulasi fasilitasi pengukuran melalui role play.

Materi juga mencakup praktik baik penggunaan indeks kinerja organisasi dalam pengembangan kapasitas, penguatan mobilisasi sumber daya melalui inovasi dan pengembangan pelayanan, serta penyusunan rencana tindak lanjut.

Sejumlah narasumber dan fasilitator terlibat dalam kegiatan tersebut, di antaranya Dr. Zaenal Abidin, S.Sos., M.Si.; Dr. Jasra Putra, M.Pd.; Siti Masyitah Rahma, SE., MA.; Misran Lubis, S.Ag.; Prof. Dr. Solikhah, SKM., M.Kes.; Dr. Ati Kusmawati, S.Pd., M.Si., Psikolog; serta Bram Suryo Putro, Founder dan CEO Iconomics. Kangsure Suroto, Direktur YSKK (Yayasan Satu Karsa Karya), turut memberikan pembelajaran mengenai praktik baik penggunaan indeks kinerja organisasi.

Melalui ToT tersebut, MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendorong terbentuknya ekosistem pembinaan AUMSos yang lebih terstruktur, partisipatif, dan berkelanjutan. Penerapan IKA diharapkan tidak hanya membantu AUMSos mengetahui posisi dan kapasitas organisasinya, tetapi juga mendorong organisasi mengambil langkah nyata untuk memperbaiki dan mengembangkan diri.

Pada akhirnya, keberhasilan IKA tidak ditentukan oleh seberapa tinggi skor yang diperoleh sebuah AUMSos. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana hasil pengukuran tersebut digunakan untuk melakukan perubahan, memperkuat organisasi, meningkatkan mutu layanan, dan merespons kebutuhan sosial masyarakat secara lebih adaptif.

IKA bukan sekadar tentang mengukur seberapa baik AUMSos hari ini, tetapi tentang memastikan AUMSos memiliki pijakan untuk menjadi lebih baik pada masa yang akan datang. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search