Komunitas Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Sidoarjo menyelenggarakan pertemuan kajian yang membahas deklarasi penolakan terhadap gerakan LGBT (lesbi, gay, bisek dan transgender), Sabtu (5/9/2029). Pertemuan ini di hadiri sejumlah tokok-tokoh mubaligh Muhammadiyah Sidoarjo dengan misi mendirikan gerakan perubahan demi menghapus idiologi bisex LGBT di Sidoarjo.
Acara ini dimulai sangat khikmat dan dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan Ustadz Sahlan Muhammad Aminullah, M.Pd. Dilanjutkan dengan deklari seluruh Anggota Komunitas Mubaligh Muhammadiyah Sidoarjo.

Materi inti di isi oleh dr. Tjatur Prijambodo yang menyampaikan, ada 4 faktor yang dapat mempengaruhi seseorang menjadi LGBT.
1. BIOLOGI / OTAK
Para peneliti meneliti apakah ada perbedaan biologis.
1. Genetika: Studi kembar di Swedia & AS menemukan faktor genetik berkontribusi 30-40%. Artinya ada pengaruh gen, tapi bukan 100%. Gen tunggal penyebab belum ditemukan. Artinya genetika ini sangat kecil indikatornya.
2. Hormon Prenatal: Teori “Hormon Prenatal” → kadar testosteron/estrogen saat di kandungan diduga mempengaruhi orientasi seksual & identitas gender. Setiap laki-laki mempunyai 80 % Sifat X dan 20% Sifat Y, begitupula sebaliknya dengan perempuan, itu sebabnya setiap laki laki memiliki sifat feminisme dan perempuan memiliki sifat gentleman.
3. Struktur Otak: Beberapa studi WHO menemukan perbedaan kecil di area hipotalamus & corpus callosum antara bisex vs homo/gay. Tapi perbedaannya tumpang tindih dan tidak bisa jadi “tes”.
2. PSIKOLOGI
1. Bukan “Penyakit Mental”: 2018 WHO juga hapus “transgender” dari gangguan mental, diganti “ketidaksesuaian gender”. Mereka perlu pendampingan dan pengobatan.
2. Kesehatan Mental: Data konsisten menunjukkan kelompok LGBT punya risiko lebih tinggi depresi, cemas, bunuh diri. Penyebab utama yang diteliti: stigma, diskriminasi, penolakan keluarga/bullying. Ini disebut ‘minority stress’.
3. Identitas Gender: Pada anak, identitas gender biasanya terbentuk usia 3-5 tahun. Ada sebuah keluarga yang mendambakan kelahiran anak dengan gender perempuan dan ternyata dengan izin Allah yang terlahir adalah laki-laki dan diperlakukan sebagaimana laki-laki maka dengan perlakuan sejak dalam kandungan kanak kanak bisa merubah jumlah hormon yang ada di dalam tubuhnya menjadi tidak sesuai dengan gender yang dimiliki.
3. SOSIAL / LINGKUNGAN
1. Bukan ‘Penularan’: Penelitian psikologi perkembangan tidak menemukan bukti bahwa melihat/berteman LGBT membuat seseorang berubah orientasi.
2. Faktor Lingkungan: Pengalaman masa kecil, pola asuh, budaya, dan penerimaan sosial mempengaruhi bagaimana seseorang mengekspresikan identitasnya. Bahkan perundingan dan perlakuan yang tidak pantas dalam sex sejak kecil dapat mempengaruhi orientasi gender yang ada dalam dirinya.
4. KESEHATAN FISIK
1. Risiko Kesehatan: Beberapa risiko kesehatan lebih tinggi di komunitas LGBT karena perilaku risiko & akses layanan. Contoh: HIV, kesehatan reproduksi. Makanya ada program kesehatan khusus.
2. Terapi Konversi: Mayoritas asosiasi psikologi dunia: ‘terapi konversi untuk mengubah orientasi/gender tidak efektif dan berisiko memperparah trauma & depresi.
Sains mendeskripsikan “apa yang terjadi”. Nilai, agama, norma, dan hukum itu ranah lain yang tiap orang/komunitas punya pegangan berbeda.
Muhammadiyah harus bisa mengambil peran dalam permasalahan LGBT ini. Mubaligh harus mampu memberikan solusi tidak hanya dengan dalil dalil saja. Untuk diketahu LGBT dan banyak permasalahan lainnya tidak hanya membutuhkan nasihat dan teori tetapi harus ada pendekatan dari hati dan perhatian ekstra baik dari segi mental, religius dan pengobatan medis. (*)
*Disarikan dari kajian dr. Tjatur Prijambodo.
