Mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah resmi meluncurkan rangkaian peringatan Milad ke-114 sekaligus Sidang Tanwir di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Tema ini menjadi seruan kolektif untuk mempererat persatuan, ukhuwah, dan kebersamaan di tengah keberagaman Indonesia.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menjelaskan bahwa pesan utama milad ini berakar dari Surah Al-Hujurat ayat 10 dan 13, yang menekankan pentingnya persaudaraan dan sikap saling mengenal dalam kehidupan berbangsa.
Penunjukan Kota Palu sebagai pusat penyeleggaraan memiliki makna historis mendalam. Palu dipandang sebagai simbol ketahanan dan kebangkitan masyarakat pascabencana gempa bumi, tsunami, dan likuefaksi pada tahun 2018.

Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi, masyarakat Palu terbukti mampu bangkit dari keterpurukan. Muhammadiyah sendiri konsisten mendampingi proses pemulihan tersebut melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), khususnya di sektor pendidikan, kesehatan, dan pemulihan ekonomi warga—salah satunya lewat kiprah Universitas Muhammadiyah Palu.
Filosofi Logo: Daun Kelor dan Angka 114
Filosofi kebangkitan tersebut tecermin kuat dalam logo resmi Tanwir dan Milad ke-114 yang memadukan kearifan lokal Sulawesi Tengah dengan identitas Persyarikatan:
- Daun Kelor: Menjadi elemen utama logo. Selain sangat identik dengan masyarakat Palu, daun kelor melambangkan ketahanan, pertumbuhan, serta kemanfaatan yang luas.
- Angka 114: Dirancang seolah tumbuh dan menyatu dari kelopak daun kelor secara dinamis. Desain ini menggambarkan perjalanan panjang Muhammadiyah yang terus bertumbuh dan relevan menjawab tantangan zaman.
- Kaligrafi Muhammadiyah: Ditempatkan di puncak daun sebagai penegas identitas gerakan dakwah Islam berkemajuan yang memancarkan pencerahan.
Komposisi warna pada logo juga merujuk pada Pedoman Brand Resmi serta Anggaran Rumah Tangga (ART) Muhammadiyah Pasal 2:
- Biru Navy: Melambangkan keteguhan iman, kedalaman ilmu, dan semangat membangun peradaban.
- Hijau: Warna resmi bendera organisasi yang merepresentasikan kesuburan, kehidupan, dan kedamaian Islam.
- Kuning Keemasan: Merepresentasikan pancaran sinar matahari—simbol utama lambang Muhammadiyah—yang bermakna pencerahan dan pembaruan.
Penggunaan identitas visual ini diharapkan menjadi acuan baku bagi seluruh tingkatan pimpinan, majelis, dan lembaga di lingkungan Muhammadiyah guna menjaga konsistensi brand organisasi.
Melalui Milad ke-114 dan Tanwir di Palu, Muhammadiyah kembali menegaskan komitmennya sesuai Pasal 5 Anggaran Dasar organisasi: merekatkan kebinekaan, memperkuat persaudaraan, dan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya demi kemajuan bangsa. (*/tim)
