Perhelatan Muktamar Muhammadiyah ke-49 di Sumatera Utara memang masih sekitar satu tahun lagi. Namun, gaungnya sudah mencuri start. Pandangan para kader—dan publik yang gemar mengamati dinamika ormas keagamaan—sudah tertuju ke sana. Seakan sudah di depan mata.
Bagi jutaan anggotanya, Muktamar adalah arena silaturahmi, tempat bertemunya para kader dari pelosok negeri. Uniknya, di saat panggung politik negeri ini sering kali sibuk saling sikut demi sepetak kursi kekuasaan, perhelatan Muhammadiyah justru berjalan adem.
Tak ada persaingan berdarah-darah, tak ada politik uang yang bikin elus dada. Semua orang datang hanya untuk menjadi saksi: siapa lagi figur berilmu yang bakal “dipaksa” memegang tampuk pimpinan untuk masa khidmat berikutnya.

Namun, ada satu hal yang jauh lebih menarik dibanding sekadar daftar nama calon pimpinan. Ini tentang cara Muhammadiyah membuat hajatan besar.
Tradisi Anti-Tenda Bongkar Pasang
Pernahkah Anda menghadiri acara kelas nasional yang anggaran sewanya habis puluhan miliar hanya untuk tenda, air conditioner raksasa, panggung megah, dan dekorasi megah yang usianya cuma tiga hari? Setelah acara selesai, tenda dibongkar, panggung diangkut truk, dan yang tersisa hanyalah tumpukan sampah plastik serta lapangan rumput yang gundul.
Muhammadiyah tampaknya terlalu “pelit” untuk membuang uang dengan cara seperti itu. Bagi ormas ini, menyewa tenda mahal demi hajatan beberapa hari adalah kesia-siaan tingkat tinggi. Maka lahir sebuah tradisi unik: Muktamar Muhammadiyah tanpa tenda.
Setiap kali muktamar digelar, syarat utamanya hampir selalu sama: harus ada bangunan baru yang megah, permanen, dan saat hari penutupan nanti, masih ada sedikit bau cat segar.
Tradisi ini bukan cerita baru. Lihat saja jejaknya dalam beberapa dekade terakhir:
- UMM Dome di Malang (Muktamar 2005): Menjadi kubah megah tempat mencetak ribuan sarjana baru.
- Sportorium UMY di Yogyakarta (Muktamar 2010): Gedung olahraga dan sidang raksasa yang tak pernah sepi agenda.
- Balai Sidang Muktamar Unismuh di Makassar (Muktamar 2015): Menjelma jadi pusat kegiatan ilmiah dan keagamaan di Indonesia timur.
- Edutorium KH Ahmad Dahlan di Surakarta (Muktamar 2022): Gedung berkapasitas belasan ribu orang yang kini jadi kiblat acara-acara berskala internasional di Solo Raya.
Setelah Keringat Muktamar Mengering
Menjelang Muktamar 2027 di Sumatera Utara, skenario yang sama dipastikan berulang. Pembangunan fasilitas baru di bumi Sumatra sedang disiapkan. Alat berat beroperasi, cetak biru disahkan, dan fondasi mulai ditanam.
Di sinilah satire manisnya. Ketika panitia hajatan lain sibuk menghitung berapa biaya “pembongkaran venue” pasca-acara, Muhammadiyah justru mulai mengatur jadwal pemakaian gedung baru tersebut untuk sepuluh tahun ke depan.
Setelah euforia Muktamar usai, lampu telah padam, dan para peserta pulang ke daerah masing-masing, gedung-gedung itu tak lantas nasibnya seperti stadion bekas Multi-Event Olahraga yang mendadak jadi sarang hantu dan ditumbuhi semak belakuk.
Gedung Muktamar Muhammadiyah langsung berpindah gigi: pagi dipakai wisuda mahasiswa, siang untuk kejuaraan olahraga, malam dijadikan konser musik atau seminar internasional, dan akhir pekan dipakai hajatan warga sekitar.
Monumen ini hidup. Ia tidak dibiarkan merana menjadi “bekas venue” yang kesepian.
Satu-satunya yang sementara dari Muktamar Muhammadiyah adalah pidato sambutannya. Sisanya—bangunan dan manfaatnya—didesain untuk bertahan lintas generasi.
Maka, kembali ke pertanyaan mendasar: Apakah gedung-gedung Muktamar ini bisa disebut sebagai bagian dari warisan peradaban?
Jawabannya: Ya, tentu saja.
Muhammadiyah membuktikan bahwa pragmatisme berbalut niat ikhlas bisa melahirkan karya yang melampaui zamannya. Mereka tidak hanya mewariskan kepemimpinan baru atau sederet resolusi organisasi di atas kertas stampel. Mereka meninggalkan beton, baja, dan atap yang menaungi jutaan aktivitas manusia bertahun-tahun setelahnya.
Pada akhirnya, besarnya sebuah acara tidak diukur dari seberapa megah tenda yang berdiri saat pembukaan. Besarnya sebuah acara diukur dari seberapa panjang manfaat bangunan tersebut bertahan setelah panggungnya dibongkar dan hajatan itu selesai. (*)
