مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-Ahzab : 40)
Dalam khazanah ajaran Islam, Nabi Muhammad SAW digambarkan bukan sekadar sebagai seorang utusan Allah, melainkan sebagai penutup para nabi (Khatamun-Nabiyyin) yang melengkapi risalah tauhid sejak zaman Nabi Adam AS. Salah satu perumpamaan paling indah dan mudah dipahami mengenai kedudukan beliau terdapat dalam sebuah hadits shahih yang menyebutkan beliau sebagai Labinah (batu bata) terakhir.
Makna Hadis tentang Labinah Terakhir
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلِي وَمَثَلَ الأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بَيْتًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ، إِلاَّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةٍ. فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوفُونَ بِهِ وَيَعْجَبُونَ لَهُ وَيَقُولُونَ: هَلاَّ وُضِعَتْ هَذِهِ اللَّبِنَةُ. قَالَ: فَأَنَا اللَّبِنَةُ، وَأَنَا خَاتِمُ النَّبِيِّينَ
“Dari Abu Hurairah r.a. : Bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Perumpamaanku dengan nabi-nabi sebelumku adalah seperti seseorang yang membangun sebuah rumah, lalu ia memperindah dan mempercantiknya, kecuali ada satu tempat batu bata (labinah) di salah satu sudutnya. Orang-orang pun mengelilingi rumah itu, kagum padanya, dan berkata: ‘Mengapa batu bata ini tidak dipasang?’ Maka akulah batu bata itu, dan akulah penutup para nabi.”(HR. Bukhari no. 3535 & Muslim no. 2286)
Kata labinah secara harfiah berarti batu bata yang dibuat dari tanah liat yang dikeringkan. Dalam tamsil ini, risalah syariat yang dibawa oleh para nabi terdahulu diibaratkan sebagai fondasi dan dinding-dinding rumah yang megah. Rumah tersebut sudah sangat indah, namun masih menyisakan satu ruang kecil yang kosong. Nabi Muhammad SAW hadir untuk mengisi ruang tersebut sehingga bangunan kenabian menjadi sempurna dan utuh.
Hikmah di Balik Perumpamaan Labinah
Ada beberapa pelajaran mendalam dari perumpamaan batu bata terakhir ini :
1. Kesatuan Risalah Para Nabi
Para nabi dan rasul sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Isa AS membawa pokok ajaran yang sama, yaitu tauhid (mengesakan Allah). Nabi Muhammad SAW tidak datang membawa fondasi agama yang baru, melainkan meneruskan dan menyempurnakan bangunan agama tauhid yang telah dirintis oleh para nabi sebelumnya.
2. Penyempurnaan Ajaran (Akmalu ad-Din)
Tanpa batu bata terakhir, sebuah bangunan belum dianggap selesai dan belum bisa berfungsi secara maksimal. Kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa syariat yang bersifat universal (rahmatan lil ‘alamin) dan berlaku hingga akhir zaman, menyempurnakan hukum-hukum dan akhlak manusia yang sebelumnya terbatas pada kaum tertentu. Hal ini juga menegaskan bahwa Rasulullah tidak membuat rumah baru. Lewat metafor tersebut seolah hendak menegaskan ajaran yang beliau terima bukan untuk menegasikan ajaran Nabi sebelumnya; tapi justru membuat ‘rumah’ terasa lebih indah.
3. Kepastian Berakhirnya Wahyu Kenabian
Dengan terpasangnya batu bata terakhir, tidak ada lagi ruang yang tersisa pada bangunan tersebut. Ini memberikan ketegasan aqidah bahwa setelah Nabi Muhammad SAW, tidak akan ada lagi nabi atau rasul baru. Pengakuan atas kenabian setelah beliau adalah sebuah kebohongan yang menyimpang dari ajaran Islam.
4. Kerendahan Hati Rasulullah saw.
Nabi saw mengibaratkan dirinya dengan satu buah batu bata pada sebuah bangunan. Tidak tidak mengibaratkan dirinay fondasi, dindin atau atap rumah. Hal ini menunjukkan bagaimana kerendahan hati Rasulullah diantara Nabi-nabi yang lainnya.
Nabi melarang umatnya membandingkan dirinya bahkan melebihkan dirinya dari nabi-nabi sebelumnya. Dalam riwayat lain (Shahih Bukhari Hadis Nomor 3156) ada seorang Muslim yang bertengkar dengan Yahudi dimana masing-masing membanggakan Nabinya. Maka Rasul bersabda:
“Janganlah kamu lebihkan aku terhadap Musa karena nanti saat seluruh manusia dimatikan dan akulah orang yang pertama kali dibangkitkan (dihidupkan) namun saat itu aku melihat Musa sedang berpegangan sangat kuat di sisi ‘Arsy. Aku tidak tahu apakah dia termasuk orang yang dimatikan lalu bangkit lebih dahulu daripadaku, atau dia termasuk diantara orang-orang yang dikecualikan (tidak dimatikan)”.
Meski Rasulullah telah Allah lebihkan dari para Nabi yang lain, namun sikap rendah hati beliau tidak mau dianggap lebih dari para Nabi yang lain.
Penutup
Perumpamaan Labinah menggambarkan betapa indahnya konsep wahyu ilahi dalam menuntun peradaban manusia. Nabi Muhammad SAW adalah pelengkap keindahan risalah langit. Sebagai umatnya, tugas kita bukan lagi mencari “batu bata” baru, melainkan merawat, menghuni, dan mengamalkan seluruh keindahan ajaran yang ada di dalam “rumah kenabian” yang telah sempurna tersebut. (*)
