Bahaya Mencela dan Ghibah

www.majelistabligh.id -

Menjaga lisan dari perbuatan cela mencela dan membicarakan keburukan orang lain (ghibah) menjadi kunci utama dalam memelihara kesucian hati serta keharmonisan sosial seorang muslim. Hal tersebut ditegaskan dalam kajian rutin bakdah subuh bertajuk “Perbuatan yang Dibenci Allah Part 4” di Masjid Al-Muhajirin Jojoran 1, Surabaya.

Dalam Kajian Kitab Riyadhus Shalihin tersebut, menghadirkan pembicara Ust. Drs. H. Suhadi M. Sahli, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya.

Dalam ceramahnya, Ustaz Suhadi M. Sahli menekankan bahwa lisan sering kali menjadi sumber dosa besar yang tanpa disadari dapat mengikis pahala amalan seseorang. Salah satu perbuatan yang dibenci oleh Allah Swt adalah kebiasaan mencela, baik mencela sesama manusia, keadaan, maupun mencela takdir dan waktu.

“Mencela dan membicarakan keburukan orang lain tidak hanya merusak hubungan antar-sesama, tetapi juga mengundang kemurkaan Allah Swt. Lisan yang tidak dijaga bisa menjadi penghalang seseorang untuk meraih keridaan-Nya,” ujar Suhadi M. Sahli.

Kajian tersebut merupakan bagian dari seri pembahasan tindakan dan sikap yang dibenci oleh Allah Swt. Pada bagian ke-4 ini, fokus utama diarahkan pada larangan tegas terhadap ghibah (menggunjing) dan namimah (adu domba). Jamaah diingatkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kehormatan seorang muslim, sehingga merusak nama baik orang lain melalui celaan merupakan tindakan yang sangat terlarang.

Selain larangan ghibah, jamaah juga diajak untuk senantiasa mengintrospeksi diri sebelum menilai kekurangan orang lain. Mengalihkan perhatian pada perbaikan diri sendiri dinilai jauh lebih bermanfaat daripada sibuk mencari-cari kesalahan sesama. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search