Bayangkan seseorang berdiri di depan sebuah pintu. Ia membawa pesan yang diyakininya benar. Namun, ada dua cara untuk menyampaikannya. Ia dapat menggedor pintu sekeras-kerasnya, berteriak, memaksa orang di dalam keluar, bahkan menganggap siapa pun yang tidak segera membuka pintu sebagai musuh. Atau, ia dapat mengetuk dengan sopan, memperkenalkan diri, lalu menyampaikan maksudnya dengan bahasa yang dapat dipahami.
Surat An-Nahl ayat 125 mengajarkan jalan kedua. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Ayat ini bukan sekadar pedoman berbicara. Ia adalah pelajaran tentang kecerdasan, kesabaran, dan kerendahan hati dalam menyampaikan kebenaran.
Tiga Jalan Menuju Hati dan Pikiran
Pertama, bil-hikmah: dengan kebijaksanaan. Kebenaran tidak selalu cukup hanya diucapkan. Ia juga harus disampaikan pada waktu yang tepat, dengan bahasa yang tepat, kepada orang yang tepat. Hikmah menuntut ilmu, kecerdasan membaca keadaan, dan kemampuan memahami manusia.
Kedua, al-mau’idzatul hasanah: nasihat yang baik. Nasihat bukan palu untuk menghantam kepala orang lain. Ia seharusnya menjadi cahaya yang membantu seseorang melihat jalan. Kata-kata yang lembut tidak selalu berarti lemah. Justru sering kali, kelembutan membutuhkan kekuatan jiwa yang lebih besar daripada kemarahan.
Ketiga, wa jadilhum billati hiya ahsan: berdialog atau berdebat dengan cara yang terbaik. Perbedaan pendapat tidak harus berubah menjadi permusuhan. Dalil tidak perlu ditemani caci maki. Argumentasi tidak menjadi lebih kuat hanya karena suara semakin keras.
Ketika Dakwah Berubah Menjadi Pertarungan Ego
Di sinilah pesan ayat tersebut terasa semakin relevan. Tidak sedikit perdebatan keagamaan yang sebenarnya berhenti mencari kebenaran dan mulai mencari kemenangan. Orang tidak lagi bertanya, “Apakah pendapat saya benar?” melainkan, “Bagaimana agar saya tidak kalah?”
Padahal, kemenangan dalam perdebatan tidak selalu berarti kemenangan dalam kebenaran.
Surat An-Nahl ayat 125 mengingatkan bahwa tugas manusia adalah menyampaikan. Hidayah bukan milik pendakwah, bukan pula hadiah bagi orang yang paling keras berbicara. Pada akhirnya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala lebih mengetahui siapa yang tersesat dan siapa yang memperoleh petunjuk.
Menyampaikan, Bukan Menghakimi
Kesadaran inilah yang seharusnya melahirkan kerendahan hati. Seseorang boleh meyakini pendapatnya benar berdasarkan ilmu dan argumentasi yang ia miliki. Namun, keyakinan terhadap kebenaran tidak otomatis memberikan hak untuk merendahkan, mencaci, atau dengan mudah memvonis orang lain.
Dakwah bukan proyek memperbesar ego. Dakwah adalah ikhtiar menyampaikan jalan kebaikan.
Karena itu, mungkin pertanyaan penting bagi setiap orang yang berbicara atas nama agama bukan hanya, “Apakah yang saya sampaikan benar?” tetapi juga, “Apakah cara saya menyampaikannya sudah mencerminkan kebenaran itu sendiri?”
Sebab terkadang, sebuah pintu tidak tertutup karena orang di dalam membenci kebenaran. Bisa jadi, pintu itu tertutup karena kita datang dengan cara menggedor terlalu keras.
Penafsiran terhadap istilah hikmah, al-mau’idzatul hasanah, dan jidal ahsan memiliki penjelasan yang beragam dalam khazanah tafsir. Artikel ini menyajikan pemaknaan populer berdasarkan tema umum ayat, sehingga tidak dimaksudkan sebagai pengganti kajian tafsir yang lebih mendalam.(*)
