Di antara pintu-pintu besar yang digunakan setan untuk menggoda manusia adalah amarah dan syahwat. Sebab amarah adalah perusak akal. Jika pasukan akal melemah, maka pasukan setan akan menyerang. Ketika seseorang marah, setan akan mempermainkannya sebagaimana seorang anak mempermainkan bola.
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa `alaihis salam pernah bertemu dengan Iblis. Iblis berkata:
“Wahai Musa, engkau adalah orang yang dipilih Allah untuk membawa risalah-Nya dan diajak berbicara langsung oleh-Nya. Aku hanyalah salah satu makhluk Allah. Aku telah berbuat dosa dan ingin bertobat. Maka mintakanlah kepada Tuhanmu agar menerima tobatku.”
Musa menjawab, “Ya.”
Ketika Musa naik ke gunung, berbicara dengan Rabbnya, lalu hendak turun, Allah berfirman kepadanya: “Tunaikan amanah itu.”
Musa berkata: “Wahai Rabbku, hamba-Mu Iblis ingin Engkau menerima tobatnya.”
Allah mewahyukan kepada Musa: “Wahai Musa, Aku telah mengabulkan permintaanmu. Suruhlah dia bersujud kepada kubur Adam, niscaya tobatnya akan diterima.”
Musa pun menemui Iblis dan menyampaikan perintah tersebut. Namun Iblis marah dan menyombongkan diri seraya berkata: “Aku tidak mau bersujud kepadanya ketika ia masih hidup, apakah sekarang aku harus bersujud kepadanya setelah mati?”
Kemudian Iblis berkata: “Wahai Musa, karena engkau telah memberi syafaat kepadaku kepada Rabbmu, maka aku mempunyai kewajiban berterima kasih kepadamu. Ingatlah aku pada tiga keadaan, maka aku tidak akan membinasakanmu pada saat-saat itu:
- Ingatlah aku ketika engkau marah, karena sesungguhnya ruhku berada di hatimu, mataku berada di matamu, dan aku mengalir dalam dirimu sebagaimana aliran darah.
- Ingatlah aku ketika marah, sebab apabila manusia marah, aku meniup hidungnya sehingga ia tidak sadar apa yang sedang ia lakukan.
- Ingatlah aku ketika menghadapi peperangan, karena aku datang kepada anak Adam saat ia menghadapi medan perang. Aku mengingatkannya kepada istri, anak, dan keluarganya hingga ia berpaling dan mundur.”
Kemudian Iblis berkata:
“Jauhilah duduk berduaan dengan wanita yang bukan mahrammu. Sebab aku menjadi perantaranya kepadamu dan perantaramu kepadanya. Aku akan terus menggoda hingga aku menjerumuskanmu melalui dirinya dan menjerumuskannya melalui dirimu.” (*)
