Membaca Kembali Romantisme Persahabatan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari

Membaca Kembali Romantisme Persahabatan KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari
*) Oleh : Chandra Aditya
‎Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kota Kediri
www.majelistabligh.id -

‎Jagat media sosial beberapa waktu terakhir kembali diramaikan oleh perbincangan mengenai surat MWC NU Kasembon terkait dengan penolakan terhadap kegiatan KKN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Peristiwa tersebut kemudian berkembang menjadi percakapan yang cukup luas di ruang publik, terutama di antara warga Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).

‎Tulisan ini tidak hendak masuk terlalu jauh ke dalam persoalan tersebut, apalagi ikut memperpanjang perdebatan yang berkembang di media sosial. Setiap persoalan tentu memiliki konteks, latar belakang, dan sudut pandang masing-masing yang perlu dipahami secara utuh.

‎Ada sesuatu yang jauh lebih penting untuk kita renungkan: bagaimana menjaga ukhuwah di tengah perbedaan?

‎Sebab, menjadi berbeda bukan berarti harus bermusuhan. Perbedaan pandangan keagamaan tidak semestinya menghilangkan rasa persaudaraan sebagai sesama Muslim. Justru di tengah perbedaan itulah kita dituntut untuk belajar saling menghormati, saling melengkapi, saling membantu, saling menjaga, dan berkolaborasi dalam kebaikan.

‎Allah SWT berfirman:

‎إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

‎”Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
‎(QS. Al-Hujurat: 10)

‎Rasulullah SAW juga bersabda:

‎الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

‎”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dalam kesulitan, dan tidak merendahkannya.”
‎(HR. Muslim)

‎Pesan ini terasa semakin penting ketika kita membaca kembali sejarah dua tokoh besar umat Islam Indonesia: KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari.

‎Satu Guru, Satu Perjuangan, Dua Jalan Dakwah

‎Jauh sebelum Muhammadiyah dan NU berdiri sebagai organisasi besar, Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy’ari telah lebih dahulu dipertemukan sebagai dua orang santri.

‎Keduanya pernah belajar kepada ulama besar Nusantara, KH Sholeh Darat di Semarang. Ketika itu Ahmad Dahlan masih bernama Muhammad Darwis. Ahmad Dahlan berusia sekitar 16 tahun, sementara Hasyim Asy’ari sekitar 14 tahun. Perbedaan usia tersebut melahirkan panggilan yang penuh keakraban: Hasyim memanggil Dahlan dengan sebutan “Mas” atau “Kangmas”, sementara Dahlan memanggil Hasyim dengan sebutan “Adi” atau adik.

‎Kisah keduanya bahkan sangat dekat secara personal. Beberapa sumber mencatat bahwa mereka pernah tinggal dalam satu kamar ketika belajar di pesantren KH Sholeh Darat. Mereka mengalami suka dan duka sebagai santri bersama, bahkan saling menyiapkan makanan. Dalam suasana sederhana itulah persahabatan mereka tumbuh.

‎Persahabatan tersebut tidak berhenti di Semarang. Keduanya kembali dipertemukan ketika menuntut ilmu di Makkah. Mereka sama-sama belajar kepada ulama-ulama besar, termasuk Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Dengan demikian, sebelum menjadi tokoh besar dengan organisasi masing-masing, keduanya adalah sesama pencari ilmu, sesama santri, dan sesama saudara Muslim.

‎Di sinilah kita menemukan pelajaran penting: perbedaan jalan perjuangan tidak selalu berarti perbedaan tujuan.

‎Ahmad Dahlan kemudian mendirikan Muhammadiyah pada 1912. Hasyim Asy’ari kemudian mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926. Dua organisasi tersebut berkembang dengan corak, tradisi, dan pendekatan dakwah yang memiliki sejumlah perbedaan. Tetapi keduanya sama-sama bergerak untuk memajukan umat, mendidik masyarakat, memperjuangkan kemerdekaan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi bangsa.

‎Mereka Berbeda, Tetapi Tidak Saling Meniadakan

‎Ada hal yang sangat menarik dari hubungan kedua tokoh ini. Perbedaan pandangan tidak membuat mereka kehilangan rasa hormat.

‎Ketika KH Ahmad Dahlan melakukan perjalanan dakwah ke Jawa Timur pada 1921, beliau bertemu dengan Kiai Mas Mansur, yang merupakan murid KH Hasyim Asy’ari dan kemudian menjadi Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah. Dalam pertemuan tersebut, Ahmad Dahlan justru menanyakan kabar Hasyim Asy’ari dan perkembangan Pesantren Tebuireng. Di sisi lain, Kiai Mas Mansur juga menyampaikan kekaguman KH Hasyim Asy’ari terhadap Ahmad Dahlan.

 

Tinggalkan Balasan

Search