Ketika Ilmu Bertambah, tetapi Kebijaksanaan Berkurang

Ketika Ilmu Bertambah, tetapi Kebijaksanaan Berkurang
*) Oleh : Helmi Rohmanto, M.Pd
Kamad MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi Laren Lamongan.
www.majelistabligh.id -

Ilmu seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati. Semakin banyak yang dipelajari, semakin ia sadar bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Namun, tidak selalu demikian. Ada kalanya ilmu bertambah, tetapi kebijaksanaan justru berkurang.

Seseorang bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi sulit menerima nasihat. Bisa memiliki gelar tinggi, tetapi masih suka merendahkan. Bisa pandai berbicara tentang kebaikan, tetapi lupa menjaga perasaan orang lain.

Padahal, ilmu bukan sekadar tentang apa yang kita ketahui. Ilmu seharusnya terlihat dari cara kita bersikap, berbicara, dan memperlakukan orang lain.

Allah SWT berfirman:

«وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ»

Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan, masih ada yang lebih mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76)

Ayat ini mengajarkan bahwa tidak ada alasan bagi manusia untuk merasa paling tahu. Seberapa tinggi pendidikan kita, tetap ada yang lebih mengetahui. Seberapa luas pengalaman kita, tetap ada hal yang belum kita pahami.

Karena itu, semakin berilmu seharusnya semakin mudah berkata, “Saya mungkin keliru.” Sebab kerendahan hati bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa ilmu telah menemukan tempat yang benar dalam diri seseorang.

Ilmu juga seharusnya membuat kita lebih mampu memahami orang lain. Tidak semua orang memiliki perjalanan hidup yang sama. Ada yang tumbuh dalam keterbatasan, ada yang belajar dari kegagalan, dan ada yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk memahami sesuatu. Kebijaksanaan membuat kita tidak tergesa-gesa menghakimi.

Kadang, orang yang paling membutuhkan ilmu bukanlah mereka yang tidak tahu, tetapi mereka yang merasa sudah tahu segalanya. Ketika seseorang berhenti bertanya, berhenti mendengar, dan berhenti menerima nasihat, saat itulah ilmunya berisiko berubah menjadi kesombongan.

Rasulullah SAW juga bersabda:

«فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ»

Hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa kebijaksanaan juga terlihat dari kemampuan menjaga lisan. Tidak semua yang kita tahu harus disampaikan. Tidak semua perbedaan harus diperdebatkan. Dan tidak setiap kesalahan orang lain harus diumbar.

Di zaman ketika setiap orang begitu mudah berbicara, kemampuan untuk menahan diri justru menjadi sesuatu yang berharga. Sebab kata-kata yang keluar mungkin dapat dilupakan oleh kita, tetapi belum tentu hilang dari hati orang yang mendengarnya.

Terkadang, diam bukan berarti tidak memiliki jawaban. Diam bisa menjadi pilihan karena kita memahami bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan dengan kata-kata. Ada saatnya seseorang memilih menahan diri bukan karena lemah, tetapi karena ia tidak ingin kebenaran yang disampaikannya berubah menjadi kesombongan.

Ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan. Pengetahuan tanpa kebijaksanaan dapat membuat seseorang sibuk melihat kesalahan orang lain, tetapi lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Maka, setelah banyak belajar, jangan hanya bertanya, “Seberapa banyak ilmu yang sudah saya miliki?” Bertanyalah juga, “Sudahkah ilmu itu membuat saya lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih bermanfaat?”

Sebab ilmu yang sejati bukan hanya membuat kita semakin pintar memahami dunia, tetapi juga semakin bijak memahami manusia.

Ilmu boleh membuat kita tinggi dalam pengetahuan, tetapi kebijaksanaanlah yang membuat kita tetap rendah hati. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search