NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam

NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam
*) Oleh : Suwito Ibnu Kasby
Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan.
www.majelistabligh.id -
3) Cinta tanah air.

Ada suatu pengajaran dari kata-kata mutiara حب الوطان من الإيمان (Cinta tanah air adalah bagian dari Iman). Pengajaran ini membuahkan sikap patriotism (cinta tanah air) bagi bangsa Indonesia. Akar Nasionalisme dan Patriotisme bangsa Indonesia berasal dari ajaran Islam.

Diakui juga oleh Dr. Douwe Dekker (Stya Budi) – sebagaimana yang dikutip dalam laporan penelitian ini – menyatakan bahwa, kalau tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan (Nasionalisme) yang sebenarnya lenyap dari Indonesia.
4) Syimboolbegriep, adanya perkataan atau yel-yel yang mengandung suatu arti tertentu, bagi yang mendengar kalimat itu akan tergugah kesadarannya untuk berjuang. Diantaranya contohnya adalah “ Allohu Akbar “, kalimat ini berhasil mendorong semangat rakyat Indonesia sejak di zaman pergerakan sosial (abad 17 – 19), zaman pergerakan nasional (awal abad 20) pada rapat-rapat akbar Sarekat Islam. Dan pada zaman perjuangan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia, antara lain Takbir Boeng Tomo dalam perang Suarabaya 10 September 1945.
5) Doktrin Amar Ma’ruf Mahi Mungkar, adanya ajaran Islam untuk saling mengajak berbuat baik dan melarang setiap bentuk kemungkaran (termasuk di dalamnya kedzaliman penjahannnya). Ajaran ini menggugah kesadaran rakyat tanah jajahan untuk melawan penindasan dan penjajahan sesama manusia. Dan secara sadar menggerakkan untuk melawan pemerintahan Kolonial yang menjajah saat itu.
Hasil penelitian H. Ahmad Ardaby Darban diatas, mengingatkan kita betapa pentingnya peranan agama bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai agama menjadi ruh dan energi yang tidak ada matinya.
Dalam perspektif Mufakkir Islam, setiap manusia mempunyai potensi ghorizatut tadayyun (naluri untuk beragama), Al Qur’an menyebutnya sebagai fitrah (sesuatu yang melekat pada pada diri manusia dan terbawa sejak kelahirannya) “ Fitrah Allah yang menciptakan manusia atas fitrah itu (Qs. Al-Rum : 30).
M. Quraish Shihab –ahli tafsir terkemuka di Indonesia – menjabarkan ayat diatas bahwa manusia tidak bisa melepaskan diri dari agama. Tuhan menciptakan demikian, karena agama merupakan kebutuhan hidupnya. Memang manusia dapat menangguhkannya sekian lama – boleh jadi sampai dengan menjelang kematiannya. Tetapi pada akhirnya, sebelum ruh meninggalkan jasad, ia akan merasakan kebutuhan itu. Karena itu seorang yang beragama akan selalu berusaha untuk mencari dan mendapatkan yang benar, yang baik, lagi yang indah.
Potret para mujahid Indonesia telah menterjemahkan ungkapan di atas, tidak dengan kata-kata. Tapi dengan tindakan nyata. Ketawadhuan dan keberanian  mereka mengingatkan kita pada karakter hamba Allah yang saleh ; Rahib di malam hari, dan singa di siang hari yang bermakna saat siang hari semangat juangnya dan etos kerjanya menyala-nyala bagai tiada lelahnya. Namun di malam khusuk berkholwat dengan Rabbnya.
Demikian halnya dengan idiom cinta tanah air bagian dari Iman, symboolbegrep diantaranya pekikan semangat Allahu Akbar yang secara verbalis berangkat dari akidah atau keyakinan satu-satunya Dzat yang Maha Besar hanya Allah Swt. Selain Allah kecil, sebesar apapun masalah termasuk diantaranya kedzaliman penjajah masih lebih besar dan lebih agung pertolongan Allah kepada hambanya menunjukkan bukti nyata bahwa agama Islam adalah agama yang mendidik unsur materi maupun rohani.
Tokoh ulama’ fikih kontemporer Sayyid Sabiq Muhammad At tihami dari mesir menegaskan  bahwa Islam satu-satunya agama yang memenuhi dua unsur (unsur Rohani dan unsur materi), karena ajaran-ajarannya telah jelas, dasar-dasarnya mencerminkan keagungan, sumber-sumbernya otentik dan terhindar dari perubahan, pengkaburan dan upaya-upaya pergantian serta terbebas dari kesalahan interprestasi.
Untuk menguatkan statemen ini Beliau memaparkan banyak dalil diantaranya Qs. Fushilat : 42 ; Yang tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.
Dengan demikian suatu hal yang sangat ironis sekaligus ahistoris jika saat ini muncul framing jahat bahwa simbol-simbol Islam ; Term Jihad, hijab, cadar, teriakan Allahu Akbar, bendera Rosulullah SAW dianggap sebagai radikalisme dan terorisme.
Suatu hal patut untuk dicurigai – hendak dibawa kemana negeri ini –  jika dalam rancangan PJPN (Peta Jalan Pendidikan Nasional) 2020-2035 yang tengah digodok oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di salahsatu pasalnya menghilangkan frasa Agama dan cukup digantikan dengan akhlak dan budaya.
Tentu saja rancangan ini memantik kritik dan protes dari berbagai kalangan ; baik dari kaum cendekiawan Muslim, pakar pendidikan, ahli parenting, maupun dari organisasi-organisasi Islam ; MUI, Muhammadiyah, NU, Hidayatullah dan lainnya.  Alhamdulillah, setelah draf ini diprotes dari berbagai macam kalangan akhirnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim berjanii akan merevisi draf ini dan memastikan frasa Agama akan dimuat secara eksplisit dalam Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020-2030.   Bersambung….ke bagian 2.

Tinggalkan Balasan

Search