NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam

NKRI Berdiri di Atas Tumpukan Tulang & Siraman Darah Umat Islam
*) Oleh : Suwito Ibnu Kasby
Ketua Majelis Tabligh PDM Lamongan.
www.majelistabligh.id -
Bertalian dengan tema di atas, Ahmad Mansur Suryanegara – tokoh yang berperan penting dalam Islamisasi penulisan sejarah – mengemukakan 4 teori plus sumber eksternal tentang waktu masuk dan berkembangnya Agama Islam di Nusantara Indonesia.
Tidak sekedar menarasikan, tapi beliau mempunyai catatan kritis dan bernas tentang 4 teori ini sekaligus mengafirmasi manakah yang paling mendekati kebenaran dengan hujjah rasional dan sulit untuk dibantah;
1) Teori Gujarat, 2) Teori Makkah,3) Teori Maritim,
Pada bagian awal dari pembahasan masalah ini, menurut tokoh yang pada tahun 1975 mengoreksi buku Sejarah Nasional Indonesia ini  mengaku sukar untuk memastikan wilayah mana yang pertama menerima wiraniagawan atau wirausahawan Muslim Arab, India, Maladewa, Yunan dan Cina, sebab keseluruhan wilayah Indonesia seluas 5.200.000 km2 ; 27.000 pulau, daratan sekitar 2.000.000.000 km2 dan lautan seluas 3.200.000 km2.
Tapi setelah penulis cermati uraian selanjutnya nampaknya beliau lebih cendrung pada temuan sejarah yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke Nusantara Indonesia pada abad ke-7 Masehi. Hal itu berdasarkan keterangan Drs. Ibrahim Buchari, berdasarkan angka tahun yang terdapat pada nisan seorang ulama, Syaikh Mukaiddin di Baros Tapanuli yang bertuliskan 48 Hijriyah atau 670 Masehi atau pada abad ke-1 Hijriah. Bahkan angka ini masih agak terbelakang waktunya, bila dibandingkan dengan keterangan Syaikh Syamsudin Abu Ubaidillah Muhammad bin Thalib Ad-Dimsyaqi bahwa Islam masuk ke Nusantara Indonesia pada masa Khalifah Ustman bin Affan, 24-36 H/644-656 M atau pada 30 Hijriah. Walaupun masih sama pada abad ke-7 Masehi, namun waktunya maju sekitar 20 tahunan.
Dari pemaparan di atas kita menjadi tahu, jika tercatat bahwa Indonesia pernah dijajah oleh 6 Negara ; 1) Portugis (1509-1595), 2) Spanyol (1521-1692), 3) Belanda (1602-1942), 4) Prancis (1806-1811), 5) Inggris (1811-1816), 6) Jepang (1942-1945) , maka Islam telah menjadi Agama Mayoritas Bangsa Indonesia selama 839 tahun lamanya sebelum Portugis (1509-1595) sebagai Bangsa Penjajah pertama Negara ini.
Berarti kurang lebih Agama Islam telah mewarnai sekitar 8 generasi jika dibuat rata-rata umur ummat Islam saat itu 100 an tahun. Tentu saja hal ini merupakan durasi waktu yang cukup lama untuk berkembangnya sebuah Agama yang menjadi sibghah dan denyut nadi dalam peradaban Bangsa Indonesia.
Oleh sebab itu, H. Ahmad Ardaby Darban dalam laporan penelitiannya yang berjudul Islam Ditengah Perjuangan Bangsa Indonesia, memaparkan temuan fakta sejarah yang menakjubkan. Menurutnya, di dalam membicarakan masalah peranan Islam baik dalam pergerakan sosial dan nasional di Indonesia, dapat kita bagi menjadi dua bagian, yaitu pertama peranan ajaran Islam-nya dan yang kedua peranan ummat Islam-nya.
Beliau menguraikan cukup detail masalah ini, betapa Islam sebagai nilai atau ajaran yang dipeluk oleh hampir seluruh rakyat Indonesia, merupakan bimbingan kepada Bangsa Indonesia sehingga menimbulkan karakter yang kuat untuk menghapuskan kedzaliman yang dilakukan oleh rezim kolonial penjajah Belanda.
Menurutnya ada 5 point penting dimana Islam sebagai ruh dan nilai yang mewarnai gerak laju para pahlwan Islam didalam mengusir penjajah ; 1) Berperang melawan penjajah, sebagai landasan teologisnya Qs. Al Hajj : 39 ; “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu”.
Ayat ini diajarkan di pesantren-pesantren, di pengajian-pengajian Keislaman oleh para Ulama’, maka muncullah semangat melawan penjajahan.
2) Ideologi Perang Sabilillah. Dalam hal ini sang peneliti mengutif Sejarawan Indonesia Prof. Dr. Sartono Kartodirjo yang  mengungkapkan bahwa, idiologi Jihad fii Sabilillah telah memperkuat semangat rakyat untuk berjuang melawan melawan penjajah. Hal ini dipahami bahwa berjuang untuk menegakkan ajaran Allah Azza Wajalla, melawan penjajahan yang dzalim ; seperti menindas rakyat, memusuhi Islam dan ummatnya, adalah termasuk berperang di jalan Allah Azza Wajalla, dan dianggap sebagai perang suci. Sedangkan jika mati dalam perjuangan ini tergolong mati syahid yang balasannya adalah surga. Karenanya, doktrin ini adalah doktrin ampuh dan sulit untuk dihadang penjajah.

Tinggalkan Balasan

Search