Pagi Memimpin Madrasah, Sore Mencuci Motor, Helmi Rohmanto Raih Gelar Magister di Umsura

Pagi Memimpin Madrasah, Sore Mencuci Motor, Helmi Rohmanto Raih Gelar Magister di Umsura
www.majelistabligh.id -

Di tengah kesibukan memimpin lembaga pendidikan, Helmi Rohmanto menjalani rutinitas yang mungkin tidak banyak dilakukan oleh seorang kepala madrasah. Setiap pagi ia mengemban amanah sebagai Kepala MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi, mengurus berbagai persoalan pendidikan dan memastikan proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Namun ketika sore tiba, ia berganti peran. Selang air, sabun, dan karpet pelanggan menjadi bagian dari keseharian yang tak pernah ia tinggalkan.

Di tempat usaha cuci motor dan cuci karpet miliknya, Helmi bekerja seperti pelaku usaha pada umumnya. Ia melayani pelanggan, membersihkan kendaraan, hingga mencuci karpet yang datang silih berganti. Dari usaha sederhana itulah ia menopang kebutuhan keluarga sekaligus membantu membiayai pendidikan yang sedang ditempuh.

Perjuangan panjang itu akhirnya berbuah manis. Pada Senin (1/6/2026), Helmi resmi diwisuda dan menyandang gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) dari Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura). Momen yang tampak sederhana di atas panggung wisuda tersebut sejatinya menyimpan cerita tentang kerja keras, pengorbanan, dan keteguhan dalam mengejar ilmu.

Gelar magister yang kini melekat di belakang namanya tidak lahir dari jalan yang lapang. Di balik toga yang dikenakan, terdapat perjalanan bertahun-tahun yang diisi dengan pembagian waktu yang tidak mudah. Di satu sisi, ia harus menjalankan tanggung jawab sebagai pemimpin madrasah. Di sisi lain, ia juga harus memastikan usaha yang dirintis tetap berjalan agar dapat menopang berbagai kebutuhan, termasuk biaya pendidikan.

Bagi Helmi, usaha cuci motor dan cuci karpet bukan sekadar sumber penghasilan tambahan. Usaha tersebut menjadi simbol kemandirian sekaligus ruang belajar yang mengajarkannya tentang kesabaran, kedisiplinan, dan keuletan. Setiap kendaraan yang dibersihkan dan setiap karpet yang dicuci merupakan bagian dari ikhtiar panjang yang perlahan mengantarkannya menuju cita-cita.

Ia meyakini bahwa tidak ada pekerjaan yang rendah selama dilakukan dengan cara yang halal dan penuh tanggung jawab. Justru dari pekerjaan yang kerap dipandang sederhana itu, ia belajar menghargai proses. Berinteraksi dengan pelanggan, menghadapi tantangan usaha, serta menjalani rutinitas yang padat membentuk mental pantang menyerah yang terus ia pegang hingga hari ini.

Perjalanan menempuh pendidikan magister sambil memimpin lembaga pendidikan tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Tugas akademik harus diselesaikan di tengah kesibukan mengelola madrasah dan usaha. Tidak jarang waktu istirahat harus dikorbankan demi menyelesaikan kuliah, penelitian, maupun pekerjaan yang datang bersamaan.

Meski demikian, keterbatasan tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti melangkah. Semangat belajar yang terus menyala membuatnya mampu melewati berbagai rintangan. Sedikit demi sedikit, setiap tahapan pendidikan berhasil diselesaikan hingga akhirnya mengantarkannya berdiri di panggung wisuda.

“Setiap orang memiliki perjuangannya masing-masing. Saya hanya berusaha menjalani apa yang menjadi tanggung jawab saya dengan sebaik-baiknya. Yang terpenting adalah tidak berhenti berikhtiar dan tidak berhenti belajar,” ujarnya.

Bagi Helmi, gelar Magister Pendidikan bukan sekadar tambahan akademik di belakang nama. Gelar tersebut menjadi penanda perjalanan panjang yang dibangun dari kerja keras, pengorbanan waktu, dan kesungguhan menuntut ilmu. Lebih dari itu, gelar tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan sering kali lahir dari kesediaan untuk terus bergerak maju ketika keadaan tidak sepenuhnya berpihak.

Kisah ini juga menjadi inspirasi bagi keluarga besar MTs Muhammadiyah 4 Bulubrangsi. Para guru dan peserta didik tidak hanya menyaksikan seorang kepala madrasah meraih gelar magister, tetapi juga melihat teladan nyata tentang arti kerja keras, kemandirian, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Dari ruang madrasah hingga tempat cuci motor dan cuci karpet, Helmi menunjukkan bahwa setiap pekerjaan dapat menjadi jalan menuju keberhasilan ketika dijalani dengan sungguh-sungguh. Toga yang dikenakannya pada hari wisuda bukan hanya simbol pencapaian akademik, melainkan saksi atas perjalanan seorang pendidik yang menolak menyerah pada keterbatasan. Kisahnya menghadirkan pesan sederhana namun kuat: mimpi tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh keberanian untuk terus berusaha, bekerja keras, dan menjaga harapan tetap menyala. (fathan faris saputro)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search