Pemimpin Juara Bertahan

Pemimpin Juara Bertahan
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

Pemimpin Besar Berani Digantikan
Salah satu ukuran kematangan seorang pemimpin adalah kemampuannya menerima pergantian. Pemimpin yang matang tidak takut jika suatu hari ada kader yang lebih baik darinya. Ia justru bangga apabila kader yang pernah dibinanya kemudian mampu memimpin organisasi.

Inilah paradoks kepemimpinan:
Pemimpin yang benar-benar berhasil adalah pemimpin yang pada akhirnya tidak lagi terlalu dibutuhkan karena ia telah berhasil membangun sistem dan kader. Sebaliknya, jika setelah bertahun-tahun memimpin seseorang tetap merasa bahwa hanya dirinya yang mampu menyelamatkan organisasi, maka pertanyaan yang perlu diajukan adalah: Apakah ia sedang membangun organisasi atau sedang membangun ketergantungan kepada dirinya?

Muktamar dan Musyawarah: Arena Fastabiqul Khairat, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Musyawarah seharusnya menjadi arena mencari yang terbaik, bukan arena memenangkan orang tertentu. Al-Qur’an memuji orang-orang yang:
وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ
Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura [42]: 38).

Dalam konteks organisasi, musyawarah harus dibangun di atas kejujuran, kebebasan memilih, penghormatan kepada perbedaan, dan orientasi kemaslahatan. Karena itu, kontestasi kepemimpinan tidak boleh berubah menjadi: politik transaksional; mobilisasi kepentingan pribadi; pembentukan faksi; pembunuhan karakter; jual-beli dukungan; tekanan terhadap pemilih; atau upaya mengabadikan figur tertentu.

AD/ART Muhammadiyah sendiri merupakan pedoman konstitusional organisasi yang mengatur antara lain struktur, kepemimpinan, permusyawaratan, dan mekanisme organisasi. Maka, aturan organisasi harus menjadi pagar bagi ambisi individu.

Lima Pertanyaan untuk Setiap Calon Pemimpin
Menjelang setiap pergantian kepemimpinan, ada baiknya setiap calon pemimpin bertanya kepada dirinya sendiri:
Pertama: Apakah saya ingin memimpin karena organisasi membutuhkan saya, atau karena saya membutuhkan jabatan?

Kedua: Jika ada kader yang lebih baik daripada saya, apakah saya rela memberikan kesempatan kepadanya?

Ketiga: Apakah saya siap menerima hasil musyawarah apabila saya tidak terpilih?

Keempat: Apakah selama memimpin saya telah menyiapkan kader yang mampu menggantikan saya?

Kelima: Jika saya tidak lagi memegang jabatan, apakah saya tetap akan setia mengabdi kepada Persyarikatan?

Pertanyaan terakhir adalah ujian yang paling jujur. Sebab: Orang yang mencintai organisasi akan tetap mengabdi meskipun kehilangan jabatan. Sebaliknya, orang yang mencintai jabatan dapat kehilangan semangat ketika kehilangan posisi.

Penutup: Jangan Takut Kehilangan Jabatan, Takutlah Kehilangan Amanah
Pemimpin sejati tidak mengukur keberhasilannya dari berapa lama ia menduduki jabatan. Ia mengukurnya dari: berapa banyak kader yang berhasil ia lahirkan, berapa kuat sistem yang ia bangun, berapa besar kemaslahatan yang ia hasilkan, dan seberapa ikhlas ia menyerahkan amanah ketika waktunya tiba.

Karena itu, seorang pemimpin boleh memiliki pengalaman panjang. Boleh memiliki prestasi besar. Boleh dipercaya kembali. Tetapi ia tidak boleh mengubah semua itu menjadi perasaan bahwa jabatan adalah hak pribadinya.

Prestasi masa lalu bukan tiket kekuasaan selamanya. Senioritas bukan monopoli kepemimpinan. Pengalaman bukan jaminan bahwa seseorang selalu paling layak. Dan jabatan bukan milik orang yang sedang mendudukinya.
Maka, budaya kepemimpinan yang harus dibangun adalah: Berani menerima amanah.
Berani melaksanakan amanah. Berani dievaluasi. Berani dikritik. Berani kalah dalam musyawarah. Dan yang paling penting: berani digantikan.

Sebab pada akhirnya, pemimpin akan meninggalkan jabatan. Tetapi amalnya akan tetap dicatat. Allah SWT berfirman:
وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia.
(QS. Ali ‘Imran [3]: 140).

Maka janganlah seseorang terlalu melekat pada kursi yang pada hakikatnya hanya sementara. Yang harus dipertahankan bukan kursinya, tetapi amanahnya. Yang harus dimenangkan bukan dirinya, tetapi kebaikan organisasi dan umat.

Dan bagi seorang pemimpin Muhammadiyah, ukuran kemenangan yang paling tinggi bukanlah “saya terpilih kembali”, melainkan: “Saya telah berhasil memastikan dakwah, kaderisasi, dan Persyarikatan tetap kuat; bahkan ketika saya tidak lagi berada di kursi kepemimpinan.”
Nashrun Minallahi Wafatun Qarieb.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search