Kita mulai dari sini:
مَنْ دَاوَمَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ فِي الْجَمَاعَةِ أَعْطَاهُ اللَّهُ تَعَالَى خَمْسَ خِصَالٍ أَوَّلُهَا يَرْفَعُ عَنْهُ ضِيقَ الْعَيْشِ، وَيَرْفَعُ عَنْهُ عَذَابَ الْقَبْرِ، وَيُعْطَى كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ، وَيَمُرُّ عَلَى الصِّرَاطِ كَالْبَرْقِ الْخَاطِفِ، وَيَدْخُلُ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Barangsiapa yang istikamah melaksanakan salat lima waktu secara berjamaah, maka Allah akan memberikan lima hal:
- Allah akan menghilangkan kesempitan dalam hidupnya.
- Allah angkat azab dalam kuburnya.
- Menerima catatan amalnya dengan tangan kanan.
- Melintasi jembatan (sirat) seperti kilat yang menyambar.
- Masuk surga tanpa hisab.
(Tanbihul Ghafilin, juz. 1, hlm. 276)
Penjelasan singkat:
- Dihilangkan kesempitan hidup: Allah akan memberikan keberkahan pada rezekinya, ketenangan jiwa, dan kemudahan dalam urusan dunia.
- Diangkat azab kubur: Diselamatkan dari siksaan di alam barzakh (kubur) dan dilapangkan kuburnya.
- Menerima catatan amal dengan tangan kanan: Menjadi tanda bahwa ia termasuk golongan kanan (ahli surga) yang selamat pada hari kiamat.
- Melintasi jembatan (sirat) seperti kilat: Melewati jembatan penyeberangan di atas neraka menuju surga dengan sangat cepat tanpa terjatuh.
- Masuk surga tanpa hisab: Langsung masuk ke dalam surga tanpa perlu melalui proses perhitungan dan pemeriksaan amal yang panjang dan menegangkan.
Kelima hal ini menjadi motivasi besar bagi setiap Muslim untuk tidak melalaikan kewajiban salatnya.
إِنَّ الْمَيِّتَ إِذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ إِنَّهُ يَسْمَعُ خَفْقَ نِعَالِهِمْ حِينَ يُوَلُّونَ عَنْهُ، فَإِنْ كَانَ مُؤْمِنًا؛ كَانَتِ الصَّلَاةُ عِنْدَ رَأْسِهِ، وَكَانَ الصِّيَامُ عَنْ يَمِينِهِ، وَكَانَتِ الزَّكَاةُ عَنْ شِمَالِهِ، وَكَانَ فِعْلُ الْخَيْرَاتِ مِنَ الصَّدَقَةِ وَالصِّلَةِ وَالْمَعْرُوفِ وَالْإِحْسَانِ إِلَى النَّاسِ عِنْدَ رِجْلَيْهِ، فَيُؤْتَى مِنْ قِبَلِ رَأْسِهِ فَتَقُولُ الصَّلَاةُ: مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ…
“Sesungguhnya mayit apabila telah diletakkan di dalam kuburnya, ia dapat mendengar bunyi alas kaki orang-orang yang mengantarkannya ketika mereka mulai pulang berpaling darinya. Jika mayit itu seorang mukmin, maka salat akan berada di dekat kepalanya, puasa berada di sebelah kanannya, zakat berada di sebelah kirinya, dan amal-amal kebaikan berupa sedekah, silaturahmi, perbuatan makruf, serta kebaikan kepada manusia berada di dekat kedua kakinya. Lalu ia didatangi (oleh azab/malaikat) dari arah kepalanya, maka salat berkata: ‘Tidak ada jalan masuk dari arahku.’…” (HR. Ibnu Hibban, Al-Hakim, dan At-Thabrani)
Catatan Makna:
Kalimat “مَا قِبَلِي مَدْخَلٌ” (Mā qibalī madkhalun) secara harfiah berarti “Tidak ada pintu masuk/akses dari sisiku.” Ini adalah bentuk pembelaan nyata dari amal salat yang menjaga seorang hamba yang taat agar tidak tersentuh oleh azab kubur.
Amal saleh melindungi seorang mukmin di alam kubur adalah:
- Pembelaan Amal Saleh: Amal ibadah yang dikerjakan semasa hidup akan datang dalam bentuk penjagaan untuk menolak azab atau gangguan dari berbagai penjuru.
- Posisi Penjagaan Amal:
- Kepala: Dijaga oleh salat (menandakan posisi salat sebagai amal paling utama).
- Sisi Kanan: Dijaga oleh puasa.
- Sisi Kiri: Dijaga oleh zakat.
- Kedua Kaki: Dijaga oleh amal kebaikan lain seperti sedekah, silaturahmi, dan perbuatan baik kepada sesama.
- Keselamatan di Alam Barzakh: Ketika azab atau fitnah kubur datang dari suatu arah, amal di arah tersebut akan maju dan berkata, “Tidak ada jalan masuk dari arahku,” sehingga orang mukmin tersebut selamat dan diberi ketenangan untuk menjawab pertanyaan malaikat. (*)
