Pendidikan yang Memuliakan Anak, Bukan Membebani Simbol

Pendidikan yang Memuliakan Anak, Bukan Membebani Simbol
*) Oleh : Dr. Jaharuddin
Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta.
www.majelistabligh.id -

Di tengah semangat sekolah-sekolah menghadirkan berbagai program tematik, kita perlu sesekali berhenti dan bertanya dengan jujur, apakah seluruh kegiatan yang dirancang atas nama pendidikan benar-benar mendidik? Ataukah sebagian di antaranya justru tanpa sadar menambah beban psikologis anak dan keluarganya?

Pertanyaan ini penting diajukan, bukan untuk mematahkan kreativitas sekolah, melainkan agar dunia pendidikan tidak terjebak pada hal-hal yang tampak meriah di permukaan, tetapi miskin pertimbangan dari sisi kemanusiaan. Pendidikan yang baik tidak diukur dari semarak acara, melainkan dari sejauh mana ia memuliakan martabat anak, menjaga ketenteraman jiwanya, dan menumbuhkan akalnya secara sehat.

Dalam praktik sehari-hari, tidak sedikit kegiatan sekolah yang tampaknya sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan. Misalnya, kewajiban mengenakan kostum tertentu, pakaian tematik, atau atribut khusus dalam peringatan hari besar.

Bagi sebagian keluarga, hal itu mungkin tidak sulit. Namun bagi keluarga lain, itu bisa menjadi tekanan tersendiri, harus mencari pakaian dalam waktu singkat, harus membeli sesuatu yang belum tentu dibutuhkan lagi, harus menyesuaikan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, dan pada saat yang sama harus menjaga perasaan anak agar tidak merasa berbeda dari teman-temannya. Di sinilah pendidikan diuji, apakah ia hadir sebagai jalan kemudahan, atau justru tanpa sengaja menambah kesulitan?

Islam memberi landasan yang sangat jernih dalam memandang manusia, termasuk anak-anak. Allah Swt. telah memuliakan anak cucu Adam, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 70). Ayat ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan dasar etis bahwa setiap sistem pendidikan harus berangkat dari penghormatan terhadap martabat manusia. Anak didik bukan objek program, bukan pelengkap dokumentasi sekolah, dan bukan pula peserta yang harus menyesuaikan diri dengan seluruh keinginan orang dewasa tanpa pertimbangan atas kondisi batinnya. Mereka adalah manusia yang sedang tumbuh, yang membutuhkan tuntunan, kasih sayang, rasa aman, dan ruang untuk berkembang tanpa dipermalukan oleh keadaan yang tidak mereka pilih.

Muhammadiyah sejak awal meletakkan pendidikan sebagai jalan pencerahan. Pendidikan bukan hanya urusan mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk kepribadian, akhlak, daya pikir, dan keberanian menghadapi kehidupan. Karena itu, pendidikan berkemajuan yang menjadi ciri Muhammadiyah semestinya menjauh dari pendekatan yang menilai anak berdasarkan tampilan lahiriah.

Anak tidak boleh dibiasakan sejak dini untuk merasa berharga karena kostum yang dikenakan, merk yang dipakai, atau kemewahan yang ditampilkan. Pendidikan yang mencerahkan justru mengajarkan bahwa nilai seorang anak terletak pada adabnya, semangat belajarnya, kejujurannya, kepeduliannya, dan kemauan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bermanfaat.

Dalam konteks ini, ada bahaya yang sering luput dibaca oleh para pendidik, ketika sekolah terlalu sering menghadirkan kegiatan yang bertumpu pada simbol, penampilan, dan kelengkapan atribut, anak-anak dapat belajar pesan yang keliru. Mereka bisa menangkap kesan bahwa untuk diakui, seseorang harus tampak “sesuai”; untuk dianggap ikut serta, seseorang harus memiliki sarana tertentu; dan untuk tampil percaya diri, seseorang harus terlebih dahulu memenuhi standar visual yang dibentuk lingkungan.

Padahal Islam mendidik manusia untuk menilai inti, bukan kulit; menegakkan makna, bukan terpesona oleh bungkus. Bila dunia pendidikan kehilangan kepekaan ini, maka sekolah dapat tanpa sadar menjadi tempat tumbuhnya mental perbandingan, bukan mental persaudaraan.

Lebih dari itu, kita perlu membaca persoalan ini dalam kerangka keadilan sosial. Tidak semua keluarga berada dalam kelapangan ekonomi. Tidak semua orang tua memiliki waktu, kendaraan, jaringan, dan biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan tambahan sekolah. Dalam keadaan ekonomi yang menekan, permintaan yang bagi sebagian orang dianggap ringan bisa menjadi beban bagi orang lain.

Islam mengajarkan agar urusan manusia dibangun di atas kemudahan, bukan kesempitan. Rasulullah saw. bersabda, “Permudahlah dan jangan mempersulit” (yassirū wa lā tu’assirū). Prinsip ini sangat relevan untuk dunia pendidikan. Guru dan sekolah semestinya menghadirkan kebijakan yang memudahkan keluarga, bukan membuat orang tua merasa harus selalu mengejar sesuatu di luar kemampuan mereka demi menghindarkan anak dari rasa malu.

Anak-anak usia sekolah dasar, khususnya, masih berada pada tahap perkembangan emosi yang sangat peka. Mereka mudah membandingkan diri, mudah merasa tertinggal, dan belum memiliki ketahanan psikologis yang matang untuk mengelola perbedaan sosial. Di hadapan situasi seperti itu, peran pendidik tidak cukup hanya menyampaikan instruksi. Guru harus mampu melihat dari sudut pandang anak, apakah kegiatan ini akan membuat mereka gembira atau gelisah? Apakah ini menumbuhkan rasa percaya diri atau justru menyisakan rasa rendah diri? Apakah ini mengajarkan substansi atau hanya menekankan penampilan? Pertanyaan-pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya merupakan inti dari pedagogi yang beradab.

Kita tentu akrab dengan gagasan bahwa dakwah bukan hanya disampaikan lewat mimbar, melainkan juga melalui tata kelola kehidupan yang mengandung hikmah. Sekolah adalah salah satu medan dakwah itu. Cara sekolah membuat aturan, memilih program, dan memperlakukan murid adalah bentuk dakwah bil hal yang sangat nyata. Karena itu, ketika sekolah merancang suatu kegiatan, pertimbangan akhlak sosial harus diletakkan di depan.

Jangan sampai atas nama apresiasi budaya, kita mengabaikan rasa aman anak. Jangan sampai atas nama kreativitas, kita menormalisasi pemborosan. Dan jangan sampai atas nama kebersamaan, kita justru menghadirkan pengalaman yang membuat sebagian anak merasa asing di tengah lingkungannya sendiri.

Itulah sebabnya dunia pendidikan membutuhkan keberanian untuk kembali kepada yang esensial. Jika tujuan sebuah kegiatan adalah mengenalkan nilai perjuangan, maka ajarkan perjuangannya. Jika tujuannya menanamkan cinta budaya, maka ajarkan makna budaya itu. Jika tujuannya membentuk karakter, maka pusatkan pada pembiasaan akhlak, empati, tanggung jawab, dan kerja sama. Anak-anak tidak selalu harus diminta membeli, membawa, atau mengenakan sesuatu agar bisa belajar. Dalam banyak keadaan, justru pembelajaran paling kuat lahir dari percakapan yang jujur, keteladanan yang nyata, proyek sederhana yang melibatkan kebersamaan, dan ruang ekspresi yang tidak menuntut biaya.

Solusi yang bisa ditempuh sekolah sesungguhnya sangat mungkin dan sangat masuk akal. Pertama, setiap program perlu diuji dengan pertanyaan dasar, adakah anak yang mungkin terbebani secara ekonomi atau psikologis? Kedua, jika suatu tema tetap ingin dihadirkan, buatlah dengan prinsip keluwesan, bukan kewajiban yang kaku. Anak dapat diberi pilihan menggunakan apa yang sudah ada di rumah, tanpa tuntutan keseragaman visual.

Ketiga, sekolah perlu secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada penilaian atas kemewahan atau kelengkapan atribut. Keempat, bila memang diperlukan perlengkapan khusus, sekolah dapat menyediakan sistem pinjam pakai atau gotong royong antarkelas. Kelima, guru perlu dibekali sensitivitas sosial agar mampu membaca tanda-tanda ketidaknyamanan anak, bukan sekadar memastikan acara berjalan sesuai rencana.

Muhammadiyah memiliki warisan besar dalam membangun amal usaha pendidikan yang berorientasi pada kemajuan umat. Tetapi kemajuan tidak boleh dipersempit menjadi modernitas administratif atau kemeriahan kegiatan. Kemajuan yang sejati adalah ketika sekolah mampu menumbuhkan generasi yang cerdas pikirannya, halus akhlaknya, tangguh jiwanya, dan peka nuraninya. Generasi seperti itu tidak lahir dari lingkungan yang gemar membandingkan, melainkan dari lingkungan yang adil, tenang, mendidik, dan penuh penghormatan kepada keadaan setiap anak.

Pendidikan berkemajuan bukan pendidikan yang memaksa anak menyesuaikan diri dengan simbol-simbol yang berat, melainkan pendidikan yang membantu anak menemukan kemuliaan dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi.

Akhirnya, kita perlu menegaskan kembali bahwa tugas utama pendidikan bukanlah membuat anak tampak hebat, melainkan membuat mereka sungguh bertumbuh. Tidak semua yang indah dipandang baik bagi jiwa anak. Tidak semua yang meriah membawa maslahat. Dan tidak semua kebiasaan sekolah layak diteruskan hanya karena telah lama dilakukan.

Dunia pendidikan perlu lebih berani melakukan muhasabah, agar setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kemaslahatan peserta didik. Sebab anak-anak tidak sedang dipersiapkan untuk menjadi penghuni panggung simbolik, melainkan untuk menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berguna bagi sesama. Di situlah pendidikan menemukan kehormatannya, ketika ia memuliakan anak, bukan membebaninya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search