Puasa Tasua (9 Muharram) dan Asyura (10 Muharram) merupakan wasiat dan cita-cita Rasulullah saw. Meskipun beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya, beliau menganjurkan umatnya untuk menggabungkan kedua puasa ini.
Mengacu pada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Puasa Tasua jatuh pada hari Rabu, 24 Juni 2026. Sedangkan puasa Asyura bertepatan dengan hari Kamis, 25 Juni 2026.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, aku pasti akan berpuasa pada hari kesembilan (Tasu’a).” (HR. Muslim).
Ini adalah wasiat beliau untuk menyempurnakan puasa Asyura dan membedakannya dengan tradisi umat lain.
Salah satu bukti anjuran berpuasa di hari bersejarah Asyura adalah atas kemenangan Nabi Musa terhadap Fir’aun di Laut Merah. Sebelumnya, Nabi Musa selalu mengajak Fir’aun untuk beribadah kepada Allah, tapi angkuh dan enggan menerima ajakan tersebut. Fir’aun bahkan berkata: Aku adalah tuhan kalian yang maha tinggi. Dari perkataan itu, betapa angkuh dan sombongnya Fir’aun, kemudian Allah melenyapkan di Laut Merah bersama pasukannya.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
وحَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ صِيَامًا، يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟» فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»
Artinya: “Dari Ibnu Abbaz bahwa Rasulullah Sallahu Alaihi Wasallam tiba di Madinah, dan mendapati seorang Yahudi dalam keadaan berpuasa pada hari Asyura. Kemudian Rasulullah bertanya: Hari apa yang kalian puasakan ini? Mereka menjawab: Ini adalah hari yang agung, yang mana Allah menangkan Nabi Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Dan Nabi Musa berpuasa pada hari itu karena bersyukur. Maka kami pun berpuasa. Rasulullah berkata: Aku lebih berhak dan layak terhadap Nabi Musa dari kalian. Kemudian Rasulullah berpuasa dan memerintahkan untuk puasa Asyura.” (Muslim ibn al-Hajjaj, Shahih Muslim, bab Shaumu Yaumi ‘Asyura, nomor 1130, Bairut: Dar Ihya’ al-Turath al-‘Araby, juz 2, halaman: 796)
Keutamaan puasa Asyura di antaranya adalah meleburkan dosa di tahun yang lalu, seperti hadis yang diriwayatkan Abi Qatadah. Bahwa Rasulullah pernah ditanya tentang puasa di hari Asyura, beliau menjawab: Menghapuskan dosa di tahun yang lalu.
Selain puasa Asyura, Nabi menganjurkan untuk puasa Tasu’a, anjuran ini seperti hadis yang dikutip kitab Irsyad al-Ibad, diriwayatkan oleh Baihaqi:
صوموا التاسع و العاشر و لا تشبهوا باليهود
Artinya: “Berpuasalah pada hari kesembilan dan sepuluh (bulan Muharram), dan janganlah menyerupai orang Yahudi.” (Zainuddin al-Malibary, Irsyad al-‘Ibad, halaman: 48-49).
Maksud dari sabda tersebut adalah anjuran bagi umat Islam untuk membedakan ibadah puasa 10 Muharram (Asyura) dengan tradisi kaum Yahudi. Umat Yahudi berpuasa di tanggal 10 Muharram, maka Rasulullah saw memerintahkan umat Islam untuk berpuasa di hari sebelumnya (tanggal 9) atau sesudahnya (tanggal 11) agar memiliki identitas tersendiri dan tidak menyerupai mereka. (*)
