#Meneguhkan Etos Perjuangan Dakwah di Tengah Tantangan Zaman
Dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara di mimbar, menyampaikan ceramah, mengisi pengajian, atau menyampaikan nasihat keagamaan. Dakwah adalah amanah untuk mengajak manusia menuju jalan Allah, menegakkan kebaikan, mencegah kemungkaran, membangun kehidupan yang beriman dan berakhlak, serta menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Al-Qur’an menegaskan:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 104).
Ayat tersebut menunjukkan bahwa dakwah merupakan bagian penting dari kehidupan umat. Karena itu, seorang Muslim tidak semestinya memandang dakwah sebagai pekerjaan sampingan yang dilakukan ketika mempunyai waktu luang. Dakwah harus menjadi komitmen kehidupan.
Dalam konteks inilah empat ungkapan berikut memiliki makna yang sangat dalam: “dakwah harga mati, mati-matian dalam berdakwah, berdakwah sampai mati, dan mati dalam berdakwah.”
Keempatnya bukan sekadar permainan kata. Jika dipahami secara proporsional, keempat ungkapan tersebut dapat menjadi manifesto etos perjuangan seorang dai dan aktivis dakwah.
1. Dakwah Harga Mati: Dakwah sebagai Komitmen Prinsip
Ungkapan “dakwah harga mati” jangan dipahami secara literal sebagai sikap keras atau menghalalkan segala cara. Maksudnya adalah bahwa komitmen terhadap dakwah tidak boleh diperjualbelikan demi kepentingan duniawi.
Seorang dai boleh beradaptasi dalam metode, media, bahasa, pendekatan, dan strategi. Tetapi prinsip tauhid, kebenaran, kejujuran, amanah, keadilan, dan akhlak tidak boleh dikorbankan demi popularitas, jabatan, materi, atau kepentingan politik. Allah berfirman:
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan kebajikan, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Muslim’?” (QS. Fussilat [41]: 33).
Menarik bahwa ayat ini tidak hanya menyebut دَعَا إِلَى اللَّهِ—menyeru kepada Allah—tetapi juga وَعَمِلَ صَالِحًا—mengerjakan amal saleh. Dengan demikian, dakwah bukan hanya soal apa yang dikatakan, tetapi juga apa yang dilakukan. Dai yang menyerukan kejujuran tetapi melakukan kebohongan, menyerukan keadilan tetapi berlaku zalim, menyerukan kesederhanaan tetapi hidup bermewah-mewahan, atau menyerukan ukhuwah tetapi gemar memecah belah, sesungguhnya sedang meruntuhkan otoritas moral dakwahnya sendiri.
Karena itu, harga mati dakwah adalah integritas. Dakwah tidak boleh dijual demi kekuasaan. Dakwah tidak boleh menjadi alat mencari keuntungan pribadi. Dakwah tidak boleh kehilangan keberpihakannya kepada kebenaran hanya karena berhadapan dengan orang yang memiliki jabatan, kekayaan, pengaruh, atau kekuasaan.
2. Mati-Matian dalam Berdakwah: Kesungguhan, Pengorbanan, dan Totalitas
“Mati-matian dalam berdakwah” bukan berarti mencari kematian atau menggunakan kekerasan. Ungkapan ini berarti bersungguh-sungguh, bekerja keras, berkorban, dan memberikan kemampuan terbaik dalam menjalankan amanah dakwah.
Dakwah membutuhkan ilmu, waktu, tenaga, pikiran, harta, kesabaran, bahkan keberanian menghadapi risiko sosial. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29]: 69).
Dakwah membutuhkan mujahadah—kesungguhan yang terus-menerus. Seorang dai tidak boleh mudah menyerah hanya karena ceramahnya belum menghasilkan perubahan. Ia tidak boleh berhenti hanya karena menghadapi kritik. Ia tidak boleh mundur hanya karena menghadapi kesulitan.
Nabi Muhammad ﷺ sendiri mengalami penolakan, penghinaan, pemboikotan, bahkan ancaman pembunuhan. Namun beliau tidak berhenti menjalankan risalah. Akan tetapi, kesungguhan dalam dakwah harus tetap berada dalam koridor hikmah dan akhlak. Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125).
Jadi, mati-matian dalam berdakwah tidak berarti keras-kerasan dalam berdakwah. Justru semakin besar perjuangan seorang dai, semakin tinggi tuntutan terhadap ilmu, kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaannya.
