Rabiul Awwal: Refleksi Sejarah, Keteladanan dan Aktualisasi Sunnah

Rabiul Awwal: Refleksi Sejarah, Keteladanan dan Aktualisasi Sunnah
*) Oleh : Hogi Abu Fahad, S.Pd.
Guru SMA Muhammadiyah 10 GKB &Imam dan Mubaligh Muda Jawa Timur.
www.majelistabligh.id -

Rabiul Awwal merupakan salah satu bulan Hijriah yang tidak lepas dari sejarah peradaban yang luar biasa, terutama berkaitan erat dengan sosok manusia yang paling dicintai oleh Allah, yaitu Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antara beberapa peristiwa tersebut adalah:

Pertama, Dilahirkannya Baginda Nabi Muhammad ﷺ

Banyak kaum Muslimin mengaitkan bulan Rabiul Awwal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad ﷺ. Sebagian mengitsbatkan bahwa kelahiran Nabi Muhammad ﷺ jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awwal, tetapi beberapa ahli sejarah berpendapat berbeda. Al-Imam Ibnu Katsir, Al-Waqidi, dan Ibnu Hisyam berpendapat bahwa beliau lahir pada tanggal 8 Rabiul Awwal, sedangkan Ibnu Asakir berpendapat tanggal 10 Rabiul Awwal.

Namun, berkaitan dengan hari lahirnya Rasulullah ﷺ, para ulama sepakat bahwa beliau dilahirkan pada hari Senin. Sebagaimana hadis sahih ketika Rasulullah ﷺ ditanya mengapa beliau berpuasa setiap hari Senin, beliau menjawab:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus, atau diturunkannya wahyu untukku.” (HR. Muslim no. 1162)

Peristiwa kedua di bulan Rabiul Awwal pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Khadijah binti Khuwailid.

Kisah pernikahan tersebut menggambarkan betapa terkagumnya Khadijah terhadap kejujuran dan kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, manusia yang tidak ada padanya tipu muslihat.

Sebagai wanita terhormat, Khadijah tetap menjaga ‘iffah dan muruahnya. Maka, diutuslah sahabatnya yang bernama Nafisah untuk menawarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ pernikahan dengan Khadijah. Pada saat itu, Nabi Muhammad ﷺ berusia 25 tahun, yang pada lazimnya merupakan usia yang sudah matang untuk menikah bagi masyarakat Makkah ketika itu.

Nafisah menawarkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk menikah dengan Khadijah. Maka, heranlah Nabi Muhammad ﷺ karena merasa dirinya terlahir dalam keadaan yatim dan sederhana, sedangkan Khadijah pada saat itu juga banyak disukai oleh para pembesar Quraisy. Maka, menikahlah keduanya.

Khadijah merupakan wanita yang memiliki harta yang melimpah dan rela menggunakan hartanya untuk perjuangan dakwah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, terutama ketika menghadapi masa-masa sulit di Kota Makkah. Sehingga, Khadijah merupakan salah satu wanita yang paling dicintai oleh Baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dari rahim khadijah pula Rasulullah dikaruniai 6 orang anak.

Peristiwa yang ketiga adalah wafatnya Rasulullah ﷺ.

Para ahli sejarah berpendapat bahwa Rasulullah ﷺ wafat pada hari Senin, dan tanggal 12 Rabiul Awwal merupakan pendapat yang masyhur mengenai tanggal wafat beliau. Rasulullah ﷺ kembali ke haribaan Rabbul ‘Alamin setelah mengalami penurunan kondisi kesehatan, terutama setelah Haji Wada’, pada usia 63 tahun.

Dari berbagai peristiwa sejarah tersebut, marilah kita mengambil hikmah yang luar biasa, yaitu senantiasa menjadikan akhlak Rasulullah ﷺ sebagai navigasi utama dalam memperbaiki akhlak kita, baik secara vertikal, yaitu kepada Allah azza wa jalla, maupun secara horizontal, yaitu kepada sesama makhluk, Manusia pada khususnya.

Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Artinya: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ketika tiba momentum Rabiul Awwal seperti ini, sebagian dari kaum Muslimin melakukan berbagai perayaan Maulid Nabi. Maka, hendaknya kita ingat bahwa:

1. Jadikan peristiwa kelahiran Nabi ﷺ sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa cinta yang benar-benar murni, yaitu senantiasa teguh terhadap sunnah-sunnahnya, baik qauliyah, fi’liyah, maupun taqririyah. Sebuah pengakuan cinta tidaklah cukup dilantunkan dalam bait-bait syair yang didendangkan, tetapi harus sesuai dengan petunjuk Rasulullah di dalam niat dan pengamalan.

2. Janganlah kita fokus merayakan sesuatu dengan penuh kegembiraan, tetapi kosong dari esensi yang sebenarnya. Banyak orang yang memeriahkan seremonial Maulid, tetapi keseharian shalat berjamaah di masjid masih sangat sepi; hanya mereka yang sudah berusia lanjut yang menjelang Maghrib datang ke masjid. Banyak yang memperingati Maulid Nabi ﷺ, tetapi anak-anak dan generasi mereka malah jauh dari mengenal sosok Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

3. Di dalam momentum Rabiul Awwal seperti ini, hendaknya kita isi dengan muhasabah dan menyimak sirah Nabawi sebagai sarana menumbuhkan cinta dan kerinduan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh, beliau tidaklah meninggalkan harta benda kepada anak keturunannya, tetapi beliau meninggalkan dua perkara:

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّهِ

Artinya: “Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.

Semoga kita menjadi umat Rasulullah ﷺ yang membuktikan cinta kepada beliau dengan teguh menjalankan sunnah-sunnahnya dan terhindar dari kebid’ahan. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search