Betapa mudahnya manusia lupa kenikmatan yang baru saja dirasakannya. Kenikmatan dari Tuhannya yang belum kering di tenggorokan justru ia mencari tuhan lain yang pasti lemah, dan tidak mampu memberi harapan atas kebutuhannya.
Bani Israil merupakan contoh paling telanjang. Mereka baru diselamatkan Tuhannya dari penindasan Fir’aun, namun begitu dalam keadaan aman, justru meminta berhala untuk mendapatkan kebahagiaan. Ini menunjukkan rapuhnya keyakinan akan tuhannya hingga mencari pegangan lain yang dipandang bisa menolongnya guna mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan.
Lalai Kenikmatan Besar
Manusia seringkali melupakan kenikmatan besar yang baru saja dirasakannya. Mereka begitu mudah hilang memori kebaikan Tuhannya. Betapa banyak kenikmatan yang diperolehnya secara bergiliran. Alih-alih mengingat dan mengagungkan Tuhan yang telah memberikan segalanya, namun justru menguburkan-Nya hingga mencari tuhan lain yang dianggap bisa mendatangkan kenikmatan serupa.
Bani Israil bisa menjadi prototipe komunitas yang mudah sekali jasa besar Tuhannya. Nabi Musa telah mendampingi untuk membebaskan kaumnya untuk lepas dari penindasan dan perbudakan Fir’aun. Penyelamatan Tuhan dari kejaran Fir’aun dan tentaranya yang berupaya untuk menghabisi nyawanya telah hilang. Bahkan Allah telah menenggelamkan Fir’aun beserta bala tentaranya, tiba-tiba hilang dari memorinya.
Namun begitu selamat Bani Israil justru meminta berhala untuk disembah sebagaimana yang dilakukan oleh suatu kaum yang dilihatnya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَ تَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰۤى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّـنَاۤ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗ قَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ
Artinya :
“Dan Kami selamatkan Bani Israil menyeberangi laut itu. Ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka berkata, Wahai Musa! Buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai tuhan. Musa menjawab, Sungguh, kamu orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf : 138)
Perhatikan, ayat ini terjadi beberapa saat setelah mukjizat terbesar dalam sejarah mereka. Padahal, sebelum meminta berhala itu, Allah telah menumpukkan kenikmatan yang tidak terhitung kepada mereka. Nikmat selamat dari Genosida. Mereka menjadi budak Fir’aun dari generasi ke generasi. Anak laki-laki mereka disembelih, wanita mereka dihinakan. Bahkan Allah belah laut untuk mereka.
Nikmat ekonomi tanpa kerja, mereka mendapatkan Manna dan Salwa, yang tidak membuat mereka lapar di tengah padang pasir. Nikmat infrastruktur langit, dimana di padang pasir yang panasnya 50 derajat, Allah kirimkan _awan (al-ghamam) yang menaungi mereka ke mana pun berjalan, demikian pula nikmat air dari batu yang memancar untuk menghilangkan rasa hausnya.
Semua kenikmatan itu dilupakan hanya karena melihat satu kaum menyembah patung yang berkilau. Mereka mengira kebahagiaan ada pada benda yang terlihat.
Berhala Modern
Ketika manusia bebas dari beban, tidak jarang melupakan pihak yang melepas bebannya. Hal ini bisa dilihat dari kisah Bani Israil yang telah Allah bebaskan dari berbagai beban dan penderitaan. Namun begitu beban itu hilang maka langsung hilang memori Sang urpelepas beban.
Al-Qur’an mengabadikan kenikmatan besar itu karena kesabaran dalam menghadapi kehidupan. Hal ini sebagaimana dinarasikan Al-Qur’an berikut :
وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَا ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ ۙ بِمَا صَبَرُوْا ۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ
Artinya :
“Dan Kami wariskan kepada kaum yang tertindas itu, bumi bagian timur dan baratnya yang telah Kami berkahi. Dan telah sempurnalah firman Tuhanmu yang baik itu untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya.” *(QS. Al-A’raf: 137)*
Fir’aun telah membangun piramida, istana, dan tentara. Semuanya dihancurkan dalam waktu sekejab. Bani Israil yang tertindas, mewarisi bangunan dan kekayaan Fir’aun. Inilah nikmat paling besar, dari budak menjadi pemilik negeri. Tapi kesabaran mereka hanya sebentar.
Hal ini juga berlaku pada manusia modern. Mereka melakukan pemberhalaan dengan mencari tuhan baru. Apa yang dilakukan Bani Israil di tepi laut itu persis terjadi hari ini. Kita baru saja ditolong Allah, tapi kita mencari tuhan-tuhan baru untuk menambah kenikmatan.
Contoh nyata ketika manusia sukses setelah memperoleh jabatan atau kekuasaan. Seorang pegawai baru saja diselamatkan Allah dari pengangguran, diberi pekerjaan yang halal. Tapi untuk naik jabatan, ia mulai menyembah tuhan baru bernama “Atasan”. Ia siap menjilat, memfitnah teman, bahkan meninggalkan shalat demi rapat. Ia berkata seperti Bani Israil: “Buatkan untukku jabatan sebagaimana mereka punya jabatan.”_ Padahal jabatannya yang pertama adalah murni pemberian Allah.
Seorang pemuda diselamatkan Allah dari kesepian, diberi keluarga yang baik. Namun ia merasa belum bahagia sebelum memiliki ribuan followers. Ia menyembah algoritma TikTok, Instagram. Ia rela membuka aurat, membuat konten ghibah, demi tuhan baru bernama “Viral”. Ia lupa, kebahagiaan sejatinya sudah ada di rumah.
Seorang pedagang diselamatkan Allah dari kebangkrutan saat Covid, tokonya kembali laku. Tapi ia tidak puas. Ia ingin kaya seperti konglomerat. Ia mulai menyembah tuhan baru bernama “Riba” dan “Suap Proyek”. Ia mengambil kredit riba, menyogok pejabat, demi fasilitas yang lebih. Ia lupa, yang menyelamatkannya dari bangkrut kemarin adalah Allah, bukan bank.
Inilah rapuhnya tauhid masyarakat secara umum. Tauhid seperti buih di tepi laut. Sangat tebal saat di masjid, sangat tipis saat di depan kekuasaan, jabatan, dan uang. Semua tuhan palsu dan akan hancur. Jabatan akan pensiun, viral akan dilupakan, harta riba akan menjadi api. Namun kebanyakan manusia lalai dan mudah tergoda hingga melupakan Allah, Sang segala sumber.
Surabaya, 30 September 2026
