Keterlibatan Muhammadiyah dalam program pemenuhan gizi masyarakat bukan sekadar urusan kemitraan formal dengan pemerintah, melainkan manifestasi mendalam dari pengamalan teologi Al-Ma’un.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat membuka Bimbingan Teknis Tata Kelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muhammadiyah di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Sabtu (20/6/2026).
Dalam arahannya, Muhadjir menekankan bahwa persoalan gizi buruk dan kelaparan masih menjadi tantangan besar bagi masa depan Indonesia. Berdasarkan pengalamannya memimpin Program Gizi Anak Sekolah (Progas) di NTT, Maluku, dan Papua pada 2019, intervensi gizi terbukti mendongkrak konsentrasi belajar, kecerdasan, hingga ketahanan fisik anak. Data ini juga diperkuat oleh evaluasi independen dari SEAMEO.
Muhadjir menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) harus dikawal dengan serius sebagai bentuk keberpihakan Islam kepada kelompok rentan agar kesenjangan sosial tidak semakin melebar.
“Anak-anak kita harus diurus gizinya dulu. Ada ungkapan Latin, primum vivere deinde philosophari—utamakan hidup dulu, makan dulu, baru berfilsafat atau berpikir. Anak-anak tidak mungkin pintar jika tidak sarapan dengan gizi cukup, terutama protein untuk perkembangan saraf otak dan massa otot,” ujar Muhadjir.
Membangun Sistem Mandiri
Mengutip penegasan M. Nurul Yamin selaku Direktur Pelayanan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM), Muhadjir menyatakan bahwa Muhammadiyah menjadikan program MBG ini sebagai pemantik (trigger) untuk membangun sistem pelayanan gizi yang berkelanjutan secara internal.
“Jika suatu saat program pemerintah itu berakhir, Muhammadiyah berkomitmen untuk mampu melanjutkan pelayanan gizi secara mandiri demi mendukung pemenuhan gizi anak bangsa,” tegasnya.
Ia pun memberikan peringatan keras kepada para pengelola SPPG Muhammadiyah agar mengedepankan amanah dan profesionalitas, bukan mencari keuntungan materi.
“Saya sudah wanti-wanti, jangan di otaknya niat cari untung. Tunjukkan bahwa Muhammadiyah kalau diberi amanah betul-betul bisa melaksanakan dengan sangat baik. Soal untung itu urusannya Tuhan, dan tidak harus selalu dalam bentuk uang,” cetus Muhadjir.
Sebagai Ketua PP Muhammadiyah yang juga membidangi ekonomi dan bisnis, Muhadjir mengingatkan bahwa gerakan sosial yang masif memerlukan pilar ekonomi yang kokoh. Di era yang kompleks ini, Muhammadiyah tidak bisa lagi hanya mengandalkan donasi dan sumbangan.
Untuk mewujudkan kemandirian tersebut, Muhammadiyah tengah agresif mengembangkan berbagai lini usaha produktif strategis, antara lain:
- Penguatan Amal Usaha: Akselerasi sektor pendidikan dan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA).
- Sektor Kesehatan: Pembangunan Pabrik Infus Suryavena yang ditargetkan rampung sebelum Muktamar Muhammadiyah.
- Sektor Energi: Pengembangan usaha pertambangan yang dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Seluruh keuntungan dari unit bisnis ini nantinya akan dialirkan kembali untuk membiayai program pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan umat.
Menutup arahannya, Muhadjir berharap Muhammadiyah dapat terus menjaga kepercayaan (trust) publik sebagai modal sosial terbesar organisasi. Dengan ekonomi yang mandiri dan pengabdian sosial yang nyata, Muhammadiyah akan tetap tegak sebagai gerakan dakwah yang berkemajuan bagi semesta. (*/tim)
