Rezeki Telah Ditakar, Tinggal Pilih Halal atau Haram

Rezeki Telah Ditakar, Tinggal pilih Halal atau Haram
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Wilayah Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Allah telah menakar rezeki manusia sejak awal kehidupan hingga kematiannya. Allah juga memberi dua jalan kepada manusia untuk memilih cara mencari rezeki, antara halal dan haram beserta konsekuensinya. Manusia akan memperoleh nominal yang sama ketika menempuh jalan halal atau haram. Dengan cara halal akan menambah berkah sementara jalan haram akan membawa malapetaka dan musnah meskipun jumlahnya sangat besar. nabi mengarahkan manusia untuk meniti jalan halal sehingga membuat hidupnya tenang di dunia mapun akherat.

Rejeki : Termaktub

Pada umumnya, manusia mengejar rezeki dengan cara apapun guna menikmati kehidupan secara maksimal. Mereka tidak sadar bahwa Allah telah menetapkan dan menjamin seluruh rezekinya. Artinya, seluruh manusia telah tetap kadar dan nomimal rezekinya. Allah pun menguji dengan memberi dua jalan, jalan halal yang diridhai, atau jalan haram yang dilaknat.

Era modern, logika manusia ingin menumpuk kapital daripada berkah. Mereka tak tersadarkan bahwa besaran rezeki sudah termaktub. Yang membedakan hanya caranya, halal yang menentramkan hati, atau haram yang mengikis harapan hidupnya. Nabi menunjukkan jalan terbaik agar manusia bekerja yang dilandari oleh kebergantungan kepada Allah serta menjadi perutnya agar terjaga dari makanan yang haram. Hal ini dikatakan Rasulullah  sebagaimana sabda berikut :

إنَّ رُوحَ القُدُسِ نفثَ في رُوعِي، أنَّ نفسًا لَن تموتَ حتَّى تستكمِلَ أجلَها، وتستوعِبَ رزقَها، فاتَّقوا اللهَ، وأجمِلُوا في الطَّلَبِ، ولا يَحمِلَنَّ أحدَكم استبطاءُ الرِّزقِ أن يطلُبَه بمَعصيةِ اللهِ، فإنَّ اللهَ تعالى لا يُنالُ ما عندَه إلَّا بِطاعَتِهِ

Sesungguhnya Ruhul Qudus –Jibril– telah membisikkan ke dalam hatiku, bahwa satu jiwa sekali-kali tidak akan mati sampai dia menyempurnakan ajalnya dan menghabiskan seluruh rezekinya. Maka bertakwalah kalian kepada Allah, dan perindahlah cara kalian dalam mencari rezeki. Janganlah sekali-kali lambatnya rezeki mendorong salah seorang dari kalian untuk mencarinya dengan cara memaksiati Allah. Karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.” [HR. Abu Nu’aim, Al-Hakim, disahihkan Al-Albani]

Besaran rezeki setiap orang sudah ditulis. Yang belum ditulis adalah jalannya. Mau lewat korupsi atau dagang jujur, nominalnya tetap sama. Bedanya: yang mukmin mengambil dengan “ijmal fi thalab” (cara yang indah, halal, tidak menghinakan diri, sehingga hasilnya berkah. Utsman bin Affan rela membeli sumur Raumah dan mewakafkannya. Hartanya tidak berkurang, justru Allah tambah. Ia membiayai Perang Tabuk hingga Nabi bersabda, “Tidak akan membahayakan ‘Utsman apapun yang ia lakukan setelah hari ini.” Itulah harta halal,  mengalir pahalanya meski pemiliknya wafat.

Hal ini berbeda dengan bandar narkoba, hidup mewah, namun akhirnya mati ditembak atau membusuk di penjara. Hartanya disita negara, anaknya terlunta. Demikian pula dengan penjual miras, omsetnya miliaran, rumahnya terbakar habis dalam semalam. Di akhirat mereka mendapatkan balasan lebih pedih. Mereka memikul beban harta haram itu di punggungnya, lalu dilempar ke neraka yang menghinakan. Harta haram tidak hanya musnah di dunia, tapi menjadi beban siksa yang berat di akherat.

Perintah Memilih Jalan Halal

Allah memberi dua jalan, agar manusia memilih jalan terbaik untuk dirinya di dunia dan akhirat. Tidak ada satu makhluk pun yang dibiarkan kelaparan tanpa jatah. Namun logika kapitalisme mengarahkan manusia untuk memilih kuantitas dengan menyingkirkan kualitas dan berkah”. Padahal besarnya rezeki sudah ditetapkan. Allah pun memerintahkan manusia agar tak tergoda dengan bisikan setan yang membisikkan segala cara untuk mendapatkan rezeki. Sementara Allah memerintahkan manusia memilih jalan halal, sebagaimana firman;Mya :

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

“Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” [QS. Al-Baqarah: 168]

Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memuntahkan makanan dari perutnya ketika tahu bahwa makanan itu hasil upah perdukunan budaknya di masa jahiliyah. Ia berkata, “Aku tidak mau ada daging di tubuhku yang tumbuh dari yang haram.” Abdurrahman bin ‘Auf, saudagar besar Madinah, menolak riba dan gharar meski bisa melipatgandakan harta. Ia memilih berdagang kain dengan jujur. Hasilnya, Allah memberkahi: dalam satu hari ia bisa bersedekah 700 unta. Inilah rezeki halal, tidak selalu terbanyak, tapi pasti menenangkan dan menumbuhkan.

Sebaliknya, cara haram selalu menyisakan luka. Qarun menumpuk emas dengan kesombongan dan menolak zakat. Hartanya ditenggelamkan bumi bersama dirinya. Di zaman modern, kita menyaksikan koruptor yang rumahnya penuh uang tunai, namun hidup dalam ketakutan. Ketika KPK datang, semua musnah, harta disita, nama hancur, keluarga malu. Ada pula penjudi online yang semalam dapat miliaran, sebulan kemudian bunuh diri karena terlilit utang. Inilah sunnatullah: harta haram tidak pernah menetap.

Rezeki sudah ditetapkan, manusialah yang harus cerdik dalam memilih jalan terbaik. Allah memerintahkan makan yang halal lagi baik dan melarang mengikuti langkah setan. Nabi mengingatkan agar memperindah cara mencari, karena lambatnya rezeki bukan alasan untuk bermaksiat. Sejarah sahabat membuktikan: harta halal sedikit tapi berkah, mengantarkan ke surga. Sedangkan harta haram meski banyak pasti musnah di dunia, dan menjadi siksa yang menghinakan di akhirat.

Surabaya, 9 Juni 2026

Tinggalkan Balasan

Search