Abdullah bin Mas’ud pernah berkata: “Kebenaran itu berat namun menentramkan, sedangkan kebatilan itu ringan namun membinasakan. Betapa banyak syahwat (kesenangan sesaat) yang mewariskan kesedihan yang panjang”
Sering kali yang benar terasa berat untuk dijalani, sementara yang salah tanpak mudah dan menyenangkan. Namun kenikmatan yang hanya sesaat dapat meninggalkan penyesalan yang panjang. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk memilih jalan kebenaran meski terasa berat, karena di sanalah ketenangan dan keberkahan berada.
Pernahkah kita membayangkan betapa cepatnya rasa lezat dari makanan favorit hilang begitu makanan itu melewati tenggorokan? Atau betapa cepatnya rasa senang setelah membeli barang impian menguap begitu saja setelah beberapa hari? Itulah tabiat dasar dari nikmat duniawi: ia selalu singkat, nisbi, dan cepat berlalu. Sayangnya, dalam urusan dosa dan kemaksiatan, jebakan nikmat sesaat ini sering kali membuat manusia menukar masa depan abadi mereka di akhirat bahkan kedamaian hidup mereka di dunia demi kenikmatan semu yang hanya bertahan beberapa detik atau menit.
Jebakan Halus Bernama “Lazzah Mu’aqqatah”
Dalam literatur Islam, para ulama menyebut kenikmatan maksiat sebagai lazzah mu’aqqatah (kenikmatan sementara). Syaitan sengaja menghiasi kemaksiatan dengan bungkus yang sangat indah untuk memancing hawa nafsu kita. Namun, di balik bungkus manis itu, ada racun yang siap merusak jiwa.
Rasulullah SAW., pernah mengingatkan kita dalam sebuah hadis yang sangat dalam maknanya: “Pintu neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan hawa nafsu, sedangkan pintu surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika seseorang melanggar batas-batas Allah demi menuruti hawa nafsunya baik itu berupa zina, rasywah (suap), judi online, atau maksiat tersembunyi di balik layar ponsel kenikmatan yang dirasakan sungguh sangat singkat. Namun, bayaran yang harus ditanggung sering kali berupa penyesalan yang teramat panjang.
Anatomi Penyesalan: Dari Dunia Hingga Akhirat
Penyesalan akibat menuruti nikmat sesaat ini tidak hanya hadir di akhirat nanti, tetapi sudah mulai memagut hidup seseorang sejak di dunia:
– Hilangnya Manisnya Iman: Salah satu hukuman paling awal dari dosa adalah dicabutnya kelezatan dalam beribadah dan rasa tenang dalam hati.
– Kehancuran Rumah Tangga & Karir: Berapa banyak rumah tangga yang hancur hanya karena perselingkuhan beberapa saat? Berapa banyak pejabat atau profesional yang kehilangan kehormatan dan masuk penjara hanya karena suap yang dinikmati sesaat?
– Penyesalan Terbesar di Akhirat: Penyesalan terberat adalah ketika manusia berdiri di hadapan Allah dan menyadari bahwa kenikmatan dosa yang dulu dirasakannya di dunia sama sekali tidak berbekas, kecuali dosa dan dosanya yang terus dicatat.
Ibnu al-Qayyim rahimahullah pernah memberikan ungkapan yang amat bijak:
“Seandainya engkau memikirkan pedihnya rasa sakit akibat penyesalan setelah berbuat dosa, niscaya rasa sakit itu jauh lebih besar daripada lezatnya kenikmatan maksiat yang engkau kejar.”
Untuk memutus rantai godaan nikmat sesaat, ada beberapa langkah yang bisa kita latih dalam kehidupan sehari-hari:
1. Gunakan Akal Sehat dan Muraqabah (Kesadaran Diri)
Saat godaan maksiat datang, berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah nikmat yang hanya 5 menit ini sepadan dengan murka Allah dan hilangnya kedamaian hidupku?”
2. Ingat Efek Jangka Panjang (Baqiyat)
Alih-alih berfokus pada apa yang nikmat sekarang, fokuslah pada apa yang akan berdampak lama. Ketaatan mungkin terasa berat di awal, tetapi buah manisnya akan dirasakan selamanya.
3. Segera Bertobat (Taubatan Nasuha)
Jika sudah terlanjur jatuh, jangan biarkan diri larut dalam keputusasaan. Pintu tobat Allah jauh lebih luas daripada gunung dosa kita. Hapuskan rasa sesal itu dengan sujud yang panjang dan perbaikan diri.
Dunia ini adalah tempat ujian, bukan tempat pemuasan nafsu tanpa batas. Nikmat yang hakiki bukanlah kenikmatan yang menyisa rasa bersalah di dada, melainkan kenikmatan yang mendatangkan ketenangan jiwa dan ridha dari Sang Pencipta.
Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur’an yang secara eksplisit maupun implisit menjelaskan tentang hakikat nikmat sesaat (kenikmatan duniawi/maksiat) yang berujung pada penyesalan berkepanjangan:
1. Kesenangan Dunia Hanya Kesenangan Palsu / Menipu
Allah SWT. menegaskan bahwa kenikmatan hidup di dunia yang sering kali membuat manusia terlena dan terjerumus ke dalam dosa hanyalah kesenangan yang menipu dan sementara.
QS. Al-Hadid (57): 20
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ كَمَثَلِ غَيْثٍ اَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهٗ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرٰىهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًاۗ وَفِى الْاٰخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌۙ وَّمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَانٌ ۗوَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Artinya: Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
2. Penyesalan Orang-Orang yang Menukar Akhirat demi Kesenangan Sesaat
Di akhirat kelak, orang-orang yang menuruti hawa nafsunya demi nikmat sesaat di dunia akan merasakan penyesalan yang luar biasa hebatnya. Mereka menyadari betapa singkatnya waktu yang mereka habiskan di dunia.
QS. Asy-Syu’ara (26): 205–207
اَفَرَءَيْتَ اِنْ مَّتَّعْنٰهُمْ سِنِيْنَ ۙ ثُمَّ جَاۤءَهُمْ مَّا كَانُوْا يُوْعَدُوْنَ ۙ مَآ اَغْنٰى عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يُمَتَّعُوْنَ ۗ
Artinya: Bagaimana pendapatmu jika kepada mereka Kami berikan kenikmatan hidup beberapa tahun?. Kemudian, ia (azab) yang diancamkan datang kepada mereka. Niscaya kenikmatan yang mereka rasakan tidak berguna baginya.
3. Penyesalan Mengikuti Hawa Nafsu dan Teman yang Menyesatkan
Sering kali kenikmatan sesaat (seperti pergaulan bebas, maksiat bersama) membawa penyesalan di mana seseorang menggigit tangannya sendiri karena menyesali perbuatannya
QS. Al-Furqan (25): 27–28
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا
Artinya: (Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul. Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan530) sebagai teman setia.
4. Kehidupan Dunia Terasa Hanya “Sehari atau Setengah Hari”
Ketika manusia berada di alam akhirat dan merasakan akibat dari dosa-dosanya, mereka baru sadar bahwa nikmat dunia yang mereka kejar mati-matian itu terasa sangat singkat
QS. Al-Mu’minun (23): 112–114
قٰلَ كَمْ لَبِثْتُمْ فِى الْاَرْضِ عَدَدَ سِنِيْنَ قَالُوْا لَبِثْنَا يَوْمًا اَوْ بَعْضَ يَوْمٍ فَسْـَٔلِ الْعَاۤدِّيْنَ قٰلَ اِنْ لَّبِثْتُمْ اِلَّا قَلِيْلًا لَّوْ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya: Dia (Allah) berfirman, “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab, “Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari. Tanyalah kepada mereka yang menghitung.” Dia (Allah) berfirman, “Kamu tinggal (di bumi) hanya sebentar jika kamu benar-benar mengetahui.”
