Dalam kehidupan sehari-hari, seorang Muslim sering kali mengucapkan kalimat yang terasa biasa, spontan, bahkan refleks—namun sesungguhnya bersumber dari wahyu Ilahi.
Ketika menghadapi kesulitan, ia berkata:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
Saat merasa cemas terhadap masa depan:
حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Ketika menasihati tentang kesabaran:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. ”
Menariknya, kalimat-kalimat ini sering diucapkan tanpa kesadaran eksplisit bahwa ia merupakan bagian dari Al-Qur’an. Ia telah melebur dalam bahasa, menjadi bagian dari ekspresi emosi, bahkan menjadi respons alami dalam menghadapi realitas kehidupan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca sebagai teks, tetapi hidup dalam percakapan. Ia hadir dalam nasihat seorang sahabat, dalam doa seorang ibu, dalam penguatan seorang guru, bahkan dalam obrolan santai yang tetap sarat makna.
Di sinilah kita menemukan praktik nyata dari sebuah gaya bahasa dalam tradisi balāghah Arab yang disebut:
الاقتباس
Secara bahasa, iqtibās berarti “mengambil nyala api” atau “meminjam cahaya.” Dalam konteks sastra, ia adalah teknik menyisipkan potongan ayat Al-Qur’an atau hadis ke dalam ucapan tanpa menyebutkan secara eksplisit sumbernya.¹ Dengan demikian, tanpa disadari, banyak orang telah mempraktikkan iqtibās jauh sebelum mengenal istilahnya.
Hakikat dan Definisi Iqtibās
Para ulama balāghah mendefinisikan iqtibās sebagai:
هو تضمين الكلام شيئًا من القرآن أو الحديث من غير أن يقال: قال الله أو قال الرسول
“Memasukkan sebagian lafaz Al-Qur’an atau hadis ke dalam ucapan tanpa menyebutkan ‘Allah berfirman’ atau ‘Rasul bersabda’.” ²
Berbeda dengan kutipan ilmiah, iqtibās bersifat estetika melebur dalam kalimat dan memperkaya makna tanpa menghilangkan kesakralannya.
Dalam tradisi Arab klasik, teknik ini banyak digunakan dalam khutbah, syair, maupun prosa, sebagai bentuk penguatan makna sekaligus penghias retorika.
Klasifikasi Iqtibās dalam Perspektif Ulama
Para ulama membagi iqtibās menjadi tiga kategori utama:
1. Iqtibās al-Maqbūl (yang diterima)
Digunakan dalam konteks yang mulia seperti khutbah, nasihat, dan dakwah.
2. Iqtibās al-Mubāḥ (yang dibolehkan)
Digunakan dalam karya sastra, surat, atau percakapan santai selama tetap menjaga adab.
3. Iqtibās al-Mardūd (yang ditolak)
Penggunaan ayat untuk hal maksiat, ejekan, atau merendahkan kesucian wahyu.³
Pembagian ini menunjukkan bahwa iqtibās bukan sekadar teknik bahasa, tetapi juga bagian dari etika berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Iqtibās dalam Realitas Sosial Umat
Jika diperhatikan lebih dalam, praktik iqtibās sangat hidup dalam budaya Muslim, termasuk di Indonesia.
Ungkapan seperti:
“InsyaAllah besok selesai”
“Alhamdulillah, sudah sembuh”
“Astaghfirullah, kok bisa begitu?”
meskipun bukan selalu ayat utuh, mencerminkan semangat yang sama: menghadirkan bahasa wahyu dalam komunikasi sehari-hari. Bahkan dalam nasihat sederhana:
“Sabar ya, Allah bersama orang sabar” itu sejatinya adalah bentuk iqtibās dari ayat:
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah menjadi “bahasa hidup” umat, bukan sekadar teks bacaan.
Dimensi Spiritual: Kisah Dzun Nūn al-Miṣrī
Dalam tradisi tasawuf, iqtibās mencapai tingkat yang sangat dalam, sebagaimana tergambar dalam kisah seorang sufi besar, ذو النون المصري (Dzun Nūn al-Miṣrī).
Dikisahkan, beliau bertemu seorang wanita tua di padang pasir yang hanya berbicara dengan ayat Al-Qur’an.
Cuplikan dialog:
ذو النون:
السلام عليكم، ما تصنعين هاهنا؟
المرأة: وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا
(QS. Az
-Zumar: 73)
ذو النون: أين القوم؟
المرأة: وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا(
QS. Yāsīn: 9)
ذو النون: إلى أين تريدين؟
المرأة: وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ
(QS.
Āli ‘Imrān: 97)
ذو النون: ألك طعام؟
المرأة: ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ
(QS.
Al-Baqarah: 187)
Makna dan Hikmah Kisah
Menurut riwayat, wanita tersebut melakukan hal itu selama puluhan tahun karena takut lisannya tergelincir dalam ucapan sia-sia.
Kisah ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tetapi bisa menjadi bahasa hidup seseorang. Dalam konteks ini, iqtibās bukan lagi sekadar gaya bahasa, melainkan bentuk penghayatan total terhadap wahyu.
Relevansi di Era Modern
Di era media sosial, praktik iqtibās semakin luas. Banyak orang menyisipkan ayat dalam status, caption, atau ceramah singkat. Namun demikian, tantangan besar muncul: penggunaan ayat tanpa pemahaman konteks atau bahkan untuk candaan yang tidak pantas.
Karena itu, penting untuk menjaga:
-Adab terhadap ayat
-Kesesuaian konteks
-Tujuan yang benar (bukan sekadar estetika)
Penutup
Iqtibās adalah bukti bahwa Al-Qur’an hidup dalam bahasa umat. Ia mengalir dalam percakapan, menyatu dalam ekspresi, dan memperkuat makna dalam komunikasi manusia.
Dalam bentuk sederhananya, ia hadir dalam nasihat sehari-hari. Dalam bentuk tertingginya, ia menjadi jalan hidup—di mana setiap kata yang keluar adalah pantulan dari wahyu.
Maka, memahami iqtibās bukan hanya soal sastra, tetapi juga soal bagaimana seorang Muslim menjaga lisannya agar tetap terhubung dengan langit. (*)
Footnote:
1. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2008), 2:315.
2. ‘Abd al-Qāhir al-Jurjānī, Dalā’il al-I‘jāz (Kairo: Maktabah al-Khānjī, 1992), 189.
3. al-Khaṭīb al-Qazwīnī, al-Īḍāḥ fī ‘Ulūm al-Balāghah (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 312.
4. Abū Nu‘aym al-Aṣbahānī, Ḥilyat al-Awliyā’ (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1988), 9:331.
5. Ibn al-Jawzī, Ṣifat al-Ṣafwah (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2000), 2:215.
