Merenungkan nasihat para ulama tentang datangnya ajal sejatinya memberikan alarm dalam diri bahwa kematian tidak pernah melihat usia. Siapa pun tak ada yang tahu.
Ia bisa datang di tengah puncak kebahagiaan, di tengah perjalanan, bahkan di tengah rencana panjang yang sudah kita susun tapi belum sempat dijalani.
Pesan mendalam pernah disampaikan Hasan Al-Bashri: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka hilang pulalah sebagian dari dirimu.”
Kalimat itu sederhana, tapi menyesakkan dada. Hidup kita sesungguhnya terus berkurang dari hari ke hari. Dan pengingat itu tidak menunggu kita siap, tidak juga menunggu pekerjaan selesai. Kadang ia datang dalam kondisi yang sama sekali tidak kita duga.
Di ruang bersalin, hari ini seorang ibu tersenyum riang menyambut kelahiran bayinya, namun tak dinyana esok harinya ia berbalik menangis lantaran sang buah hati telah berpulang.
Di tempat lain, seorang dokter angkat tangan karena kondisi pasien yang diperkirakan tak lama lagi akan meninggal dunia. Namun takdir berkata lain. Allah ternyata masih memperpanjang napasnya bertahun-tahun kemudian, meskipun sebatas di atas ranjang.
Sementara itu, tak berapa lama justru dokternya menghadapi sakaratul maut lebih dahulu. Tidak ada teman seprofesi yang sanggup mengulur waktu. Tidak juga peralatan medis ataupun obat-obatan. Semuanya menjadi tidak ada arti. Tinggal kepasrahan menghadapi takdir kematian.
Ternyata kita tidak bisa memegang kendali dan tidak bisa merencanakan kepastiannya. Itulah misteri kehidupan.
Usia boleh sama, tetapi waktu ajal dapat saling mendahului satu sama lain. Ada yang dipercepat, ada pula yang diperlambat. Karena usia murni urusan Ilahi, kita tidak pernah tahu sampai kapan menjalani hidup di dunia ini.
Namun sayangnya, manusia kerap bersikap seolah memiliki garansi umur panjang. Sering kali terjebak dalam rutinitas tanpa kesadaran penuh. Pagi hari sibuk menyusun rencana harian, siang hari mengejar target pencapaian, dan malam harinya menunda tobat dengan dalih usia masih muda. Padahal, jarak antara “sekarang” dan “nanti” hanya dipisahkan oleh satu hembusan napas.
Saya masih ingat, saat pulang kerja kerap berpapasan dengan seorang bapak tua di dekat rumah. Ia berjalan tertatih-tatih seusai menunaikan salat berjemaah di masjid.
Melihat fisiknya yang renta, suatu kali saya menyarankannya untuk salat di rumah saja dengan alasan uzur. Namun, jawabannya sungguh menampar kesadaran saya: “Terima kasih. Ini mumpung masih diberi waktu. Kapan lagi bisa berjemaah selagi masih ada umur.”
Saya pulang membawa malu. Beliau yang tertatih justru berjuang melangkah ke rumah Allah, sementara saya yang masih bugar sering kali menunda waktu salat demi alasan pekerjaan yang belum tuntas.
Peristiwa itu menyadarkan bahwa kita ternyata lebih mahir merangkai alasan daripada melangkah. Padahal, ajal tidak pernah berdalih. Ia datang tanpa permisi, tanpa memedulikan apakah bekal sudah cukup atau belum.
Ironisnya, salah satu sebabnya adalah terlalu sibuk mengejar dunia. Kita beranggapan dengan harta dan fasilitas bisa “membeli” umur yang lebih panjang.
Nasihat dan tips praktis agar bisa memperpanjang usia membuat kita terbuai untuk menjaga pola makan dan pola hidup semaksimal mungkin. Tapi kenyataannya, tak menjamin seseorang bisa hidup lebih lama dari orang sebayanya.
Inilah yang sering tidak kita sadari: semua itu sebatas ikhtiar. Karena bagaimanapun rumah sakit terbaik, dokter spesialis, dan paket liburan termahal sekalipun tidak akan bisa menahan satu detik pun saat malaikat maut datang.
Setiap matahari terbit, jatah umur berkurang. Setiap malam tiba, lembar catatan amal bertambah. Orang yang bijak bukanlah mereka yang paling banyak menyusun rencana duniawi, melainkan mereka yang paling siap membawa “perbekalan” saat panggilan pulang itu tiba.
Perbekalan yang dibawa sejak lahir dan mendampingi kita sampai liang lahat hanya berisi tiga hal: amal saleh, ilmu yang bermanfaat, serta doa dari anak yang saleh. Tidak ada di dalamnya, ruang untuk menyimpan perhiasan berharga, kendaraan, maupun saldo simpanan.
Kita tidak dilarang medical check up. Healing sampai ke luar negeri. Bahkan mengeluarkan uang demi badan tetap fit, pikiran tidak stres, dan hidup terasa bahagia. Namun perlu dipahami bahwa itu bukan wasilah agar hidup kita di dunia ini abadi.
Kesadaran akan batas waktu ini seharusnya meluruhkan ketertundaan dalam beramal. Maaf yang bisa disampaikan hari ini tak perlu menunggu esok, dan tobat tak layak ditangguhkan hingga usia senja. Mungkin bisa menunda agenda kehidupan, tetapi ajal tidak akan pernah mengulur waktu. Semuanya hanya tinggal menunggu giliran.
Jika hari ini adalah kesempatan terakhir yang diberikan Tuhan, tentu kita perlu memaksa diri untuk konsisten di jalan kebaikan. Melawan rasa malas dan menjaga istiqamah, sebab kita tidak pernah tahu amal mana yang kelak menjadi penutup lembaran hidup kita.
Semoga Allah menutup usia kita dalam husnul khatimah, seraya memanjatkan doa untuk kebaikan di dunia dan akhirat. “Wahai dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-MU”.
“Ya Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang merupakan penjaga urusanku.
Perbaikilah bagiku duniaku yang di dalamnya adalah tempat aku mencari penghidupan.
Perbaikilah bagiku akhiratku yang kepadanya tempat aku kembali.
Dan jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala keburukan.” (HR. Muslim no. 2720)
