Jodoh, Rezeki, dan Maut : Tiga Rahasia Kehidupan

Jodoh, Rezeki, dan Maut : Tiga Rahasia Kehidupan
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Manusia senang membuat rencana. Kita merancang karier, memilih pasangan, menghitung kekayaan, membeli rumah, bahkan menyusun masa depan hingga bertahun-tahun. Kita hidup seolah-olah masa depan berada sepenuhnya di tangan kita. Padahal ada tiga perkara besar yang sejak awal mengingatkan manusia bahwa ia bukan penguasa mutlak atas hidupnya: jodoh, rezeki, dan maut.

Jodoh mengajarkan bahwa manusia boleh memilih, tetapi tidak selalu menentukan. Kita dapat mencintai seseorang, tetapi tidak bisa memaksa takdir menjadikannya pasangan hidup. Karena itu, tugas manusia bukan mengejar seseorang sampai kehilangan harga diri, melainkan memperbaiki diri, menjaga akhlak, berikhtiar, dan berdoa. Jodoh adalah rahasia Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan memantaskan diri adalah tanggung jawab manusia.

Rezeki pun demikian. Kita diwajibkan bekerja, belajar, berdagang, menciptakan peluang, dan mencari penghasilan yang halal. Tetapi kerja keras tidak pernah memberi manusia hak untuk mengklaim hasil secara mutlak. Ada sesuatu yang berada di luar kalkulasi: kesempatan, kesehatan, keadaan, dan kehendak Allah. Karena itu, ikhtiar harus maksimal, sementara hati tetap bertawakkal.

Kesalahan terbesar adalah menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas. “Kalau rezeki sudah ditentukan, buat apa bekerja?” Logika semacam ini bukan tawakkal, melainkan pembenaran atas kemalasan. Takdir tidak pernah membatalkan ikhtiar. Petani tetap menanam meski ia tidak dapat memerintah hujan. Manusia tetap bekerja meski ia tidak menguasai hasil.

Lalu maut datang sebagai batas paling tegas bagi kesombongan manusia. Kita dapat merencanakan hari esok, tetapi tidak pernah tahu apakah esok masih menjadi milik kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Dan setiap umat mempunyai ajal.” (QS. Al-A’raf: 34). Kematian tidak menunggu manusia selesai dengan seluruh urusannya.

Ironisnya, kita sering menunda kebaikan dengan satu kata: nanti. Nanti bertobat, nanti bersedekah, nanti meminta maaf, nanti memperbaiki diri. Padahal kita tidak pernah diberi tahu berapa banyak “nanti” yang masih tersisa.

Jodoh, rezeki, dan maut akhirnya mengajarkan satu filsafat sederhana: manusia memiliki kewajiban untuk berusaha, tetapi tidak memiliki kuasa penuh atas hasil. Kita mengendalikan niat, pilihan, usaha, dan akhlak. Selebihnya adalah wilayah Allah.

Maka jangan terlalu sombong ketika mendapatkan dan jangan terlalu hancur ketika kehilangan. Yang datang belum tentu selamanya, yang pergi belum tentu sebuah kehancuran, dan yang tertunda belum tentu sebuah penolakan. Bisa jadi manusia sedang berhadapan dengan jalan takdir yang belum mampu ia pahami.

Pada akhirnya, kedewasaan iman bukan kemampuan mengendalikan masa depan, melainkan kemampuan menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya. Berusaha tanpa sombong. Berdoa tanpa memaksa. Menunggu tanpa putus asa. Dan ketika takdir berbicara, menerima dengan hati yang tetap percaya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search