Sayangi Istri Apa Adanya

Sayangi Istri Apa Adanya
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Majelis Tabligh dan KMM PDM Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Istri merupakan belahan jiwa suami dalam rumah tangga. Keberadaan istri dan suami seperti keping mata uang yang kedua sisinya tidak bisa dipisahan satu sama lain. Meskipun kedua sisinya berbeda namun saling mengisi dan melengkapi. Dengan demikian, suami dan istri sudah selayaknya saling mengasihi dan menyayangi apa adanya dengan tulus.

Prinsip menyayangi istri “apa adanya” adalah inti dari ajaran Islam tentang rumah tangga. Cinta sejati dalam pernikahan bukanlah mencari kesempurnaan, melainkan menerima kekurangan pasangan sebagai bagian dari fitrah penciptaan dan sebagai ladang pahala bagi suami.

Allah SWT sendiri menetapkan pernikahan sebagai wadah untuk mencapai ketenangan dan kasih sayang yang tulus. Ini adalah tanda kebesaran-Nya yang harus dijaga. Menyayangi istri apa adanya juga menjadi jalan terwujudnya ketenteraman dalam rumah tangga. Allah SWT berfirman:

وَمِنْآيَاتِهِأَنْخَلَقَلَكُممِّنْأَنفُسِكُمْأَزْوَاجًالِّتَسْكُنُواإِلَيْهَاوَجَعَلَبَيْنَكُممَّوَدَّةًوَرَحْمَةً

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang (mawaddah wa raḥmah).” (QS. Ar-Rūm: 21).

Rasulullah SAW secara eksplisit mengajarkan suami untuk menerima kekurangan istri dengan penuh kesabaran, karena itu adalah fitrah penciptaan wanita. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Berwasiatlah kepada para wanita dengan kebaikan. Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika engkau luruskan ia, niscaya engkau mematahkannya. Dan jika engkau biarkan ia tetap bengkok, niscaya engkau dapat menikmati (manfaat darinya) di samping kebengkokannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Makna dari hadis di atas adalah suami tidak boleh memaksakan kesempurnaan pada istri. Menerima “kebengkokannya” (kekurangan, sifat sensitif, atau kekhilafan) dengan sabar adalah kunci menikmati kebaikan (kasih sayang, ketenangan, pengasuhan) yang ada pada dirinya.

Islam melarang suami hanya berfokus pada kekurangan, tetapi harus menimbang semua kebaikan yang dimiliki istri. Suami harus bijak terhadap istri. Suami mesti obyektif menilai istri baik terhadap kebaikannya ataupun keburukannya. Penilaain tersebut bukan untuk membandingkan, akan tetapi agar bijak dalam memperlakukan isteri.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Seorang mukmin (suami) tidak boleh membenci seorang mukminah (istrinya). Jika ia tidak menyukai suatu perangai darinya, niscaya ia masih meridhai perangai lainnya.” (HR. Muslim)

Dalam ranah praksis, bila suami tidak menyukai sifat cerewet istri, ia harus mengingat kebaikan istri dalam mendidik anak, melayani suami, atau merawat rumah. Cinta “apa adanya” berarti kebaikan harus menutupi kekurangan.

Cinta sejati diekspresikan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui perlakuan yang meneladani Rasulullah SAW. Sebagi contoh, Beliau tidak pernah mencela penampilan fisik, kondisi pasca melahirkan, atau kekurangan lainnya. Rasulullah tidak pernah melakukan kekerasan (fisik maupun verbal) kepada istrinya.

Rasuallah SAW adalah sosok yang senantiasa menjaga aib. Beliau tidak pernah menceritakan aib, kekurangan, atau rahasia istri kepada siapa pun, karena kehormatannya adalah kehormatan suami.

Sebagai suami, Rasulalah SAW memiliki hati yang lapang. Beliau mengambil sikap tidak terlalu sering mempersoalkan kesalahan kecil istri. Selalu berbicara dengan kata-kata yang lembut, menunjukkan cinta kasih secara verbal dan membantu pekerjaan rumah tangga seperti menjahit pakaian dan membantu menyiapkan makanan.

Nabi Muhammad SAW senantiasa membimbing isteri-isterinya. Beliau tidak hanya menerima kekurangannya, tetapi juga sabar membimbing istri dalam urusan agama tanpa mencela kebodohannya, agar ia menjadi lebih baik

Berkaca pada perjalanan rumah tangga Nabi Muhammad SAW di atas, dapat kita pahami bahwa menyayangi istri apa adanya adalah praktik ketaatan tertinggi dalam rumah tangga. Ini adalah kesadaran bahwa pasangan (istri) diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan sekaligus.

Tugas suami sebagai pemimpin adalah menjadi sumber kasih sayang (raḥmah) yang stabil, yang tidak goyah oleh perubahan penampilan, kondisi keuangan, atau sifat sensitif. Dengan demikian, rumah tangga akan mencapai ketenteraman (sakinah) dan menjadi ladang amal abadi hingga ke surga. Aamiin.

 

Tinggalkan Balasan

Search