Pagi itu, Selasa, 11 September 2001, saya berangkat menuju Kantor Perwakilan RI di Manhattan dengan kereta bawah tanah R Line. Seperti biasa, gerbong dipenuhi kesibukan masing-masing.
Tiba-tiba di stasiun berikutnya, beberapa penumpang yang naik berseru panik: “Gedung WTC kebakaran!” Rupanya dari kejauhan mereka telah melihat kepulan asap tebal dari menara tertinggi di New York itu. Mereka mungkin tidak menyaksikan langsung detik pesawat menabrak, namun mereka melihat akibatnya, langit Manhattan yang diselimuti asap.
Sesampainya di stasiun Grand Central, saya keluar dari perut bumi. Dan seketika semua orang di sekitar saya berteriak: “Oh my God!” Pesawat kedua baru saja menghantam menara satunya lagi, tepat di depan mata kami melalui siaran langsung.
Sejak itulah terdengar pekikan di mana-mana: “NYC is under attack!” Belum ada tuduhan resmi tentang siapa pelakunya, namun narasi di televisi, radio, dan jalanan dengan cepat menyimpulkan: New York diserang teroris.
Setibanya di kantor PTRI, seluruh staf berkerumun di depan televisi, menyimak CNN. Kalimat pertama yang saya dengar dari anchor CNN, Wolf Blitzer, masih saya ingat jelas: “New York is under attack by Islamic terrorists,” disertai tayangan video sekelompok wanita berhijab yang tampak bersorak. Belakangan terbukti video itu adalah arsip lama yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan 9/11.
Tak lama kemudian, seluruh staf Perwakilan Tetap RI untuk PBB diinstruksikan pulang. Kota dalam status siaga serangan. Saya pun harus berjalan kaki dari Manhattan menuju rumah di Astoria, Queens. Di tengah jalan, saya memberhentikan sebuah mobil pribadi dan sang sopir dengan baik hati bersedia mengantar saya.
Sore harinya, Majelis Syura para Imam se-Kota New York menggelar pertemuan darurat di Muslim Center of New York, Flushing. Ada yang mengusulkan agar masjid-masjid ditutup sementara demi keamanan.
Alhamdulillah, mayoritas menolak. Apa salah kami? Kalaupun pelakunya mengaku beragama Islam, mereka tidak pernah mewakili kami dan agama kami. Kami sepakat untuk tetap hidup normal dengan tetap meningkatkan kewaspadaan.
Malamnya, saya mendapat telepon dari The Interfaith Center of New York yang meminta saya mewakili komunitas Muslim dalam konferensi pers lintas agama menyikapi tragedi itu. Keesokan harinya saya hadir dengan busana sederhana, koko putih tanpa kopiah. Saya berbicara tanpa teks, mengalir dari hati yang paling dalam. Sejujurnya, ada gugup dan takut. Itu pertama kalinya saya tampil di depan media-media besar dunia seperti CNN, Fox, NBC, dan lainnya. Namun setelah acara, seorang teman dari Interfaith Center berbisik: “You did it so good.”
Hari-hari berikutnya berjalan penuh ketegangan. Seorang anggota komunitas ditembak mati, seorang Afro-Amerika ditikam, seorang wanita ditarik hijabnya dan dipukuli, beberapa masjid diserang dan dirusak.
Di tengah situasi itu, bersama tokoh-tokoh agama lain, saya diminta bertemu Presiden George W. Bush dan mendampingi kunjungan pertamanya ke Ground Zero pada Jumat, 14 September 2001. Lalu pada 23 September 2001, saya kembali dipercaya mewakili komunitas Muslim dalam acara “Prayer for America” di Yankee Stadium. Acara yang dihadiri tokoh lintas agama dan para pemimpin politik, termasuk Bill Clinton, Hillary Clinton, Gubernur Pataki, dan Wali Kota Giuliani.
Allah Sang Pengendali semesta membolak-balikkan keadaan. Situasi yang semula mencekam, penuh kebencian dan serangan fisik terhadap umat Islam, perlahan berbalik menjadi momentum kebangkitan. Banyak warga Amerika yang kemudian mempelajari Islam, bahkan tidak sedikit yang menerima Islam sebagai jalan hidup.
Semua itu tentu tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan buah dari kerja keras dan kesungguhan komunitas Muslim itu sendiri. Saya berikhtiar sekuat tenaga untuk menetralisir keadaan, mengubah ketakutan, kemarahan, dan kebencian menjadi simpati. Salah satu inisiatif yang diapresiasi adalah membangun dialog dan kerja sama antar umat beragama. Inisiatif itulah yang menjadi jembatan, mengubah mereka yang tadinya membenci Islam menjadi bersimpati, bahkan membela Islam dan komunitasnya.
Tanpa terasa, tragedi 9/11 telah memasuki usia seperempat abad. Perjalanan yang panjang dan mematangkan cara pandang kita. Bagi warga Amerika yang pernah marah, takut, dan memusuhi Islam, 25 tahun adalah waktu yang cukup untuk berpikir, belajar, dan mengubah sikap.
Bagi komunitas Muslim, ini adalah momen untuk merenung, memperbaiki diri, dan memberikan kontribusi nyata bagi Amerika yang lebih baik.
Peringatan 25 tahun 9/11 seharusnya tidak dijadikan panggung untuk menebar kebencian, permusuhan, dan perpecahan. Sebaliknya, jadikanlah ia sebagai momen introspeksi, koreksi, dan perbaikan, serta memperkuat kebersamaan untuk membangun Kota New York dan Amerika yang lebih baik.
Saya yakin, itulah cara terbaik untuk mengenangnya. Bukan dengan kebencian dan perpecahan. Sayangnya ego sebagian manusia kadang terlalu tinggi. Ada segelintir yang memilih di momen ini untuk menyebar kebencian, permusuhan bahkan tindakan tercela melecehkan agama dan keyakinan orang lain.
Jack Lang, seorang white nationalist yang ditenggarai Zionis, lalu mengaku pahlawan Kristiani kembali merobek Al-Quran di sebuah gereja warga Kulit Hitam di Harlem New York. Hal yang tidak mengurangi kemuliaan Al-Quran karena dia di hati, pikiran dan perilaku orang-orang beriman. Dan pastinya tidak mewakili ajaran Kristiani yang sesungguhnya.
Akhirnya, salut untuk Wali Kota New York yang telah membuka file kebohongan wali kota saat itu, Guliani. Ironisnya, dialah yang justru menyerukan agar Wali Kota Zohran Mamdani tidak hadir di acara peringatan 9/11. Padahal dialah yang seharusnya bertanggung jawab, karena kebohongannya telah menyebabkan lebih banyak warga meninggal dibandingkan korban 9/11 itu sendiri. Wallahu alam bishawab. (*)
