Deru mesin kendaraan di jalur pantura Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, kerap memecah keheningan malam. Namun, di dalam kompleks Masjid Mujahidin, sunyi justru menjadi kawan akrab bagi Muhammad Hariyanto. Pria berusia 67 tahun itu biasanya sudah terjaga saat jam dinding baru menunjukkan pukul 01.00 WIB. Ketika sebagian besar warga masih terbuai mimpi, ia sudah menggenggam sapu dan kain pel.
Bagi Hariyanto, membersihkan rumah ibadah bukan sekadar rutinitas masa tua. Ini adalah wujud “jariah hidup” sekaligus pembuktian janji suci kepada almarhum ayahnya.
Lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, masa muda Hariyanto dihabiskan sebagai prajurit TNI Angkatan Darat. Setelah puluhan tahun mengabdi pada negara, ia pensiun pada tahun 2013 dengan pangkat terakhir Sersan Mayor (Serma). Dua tahun menikmati masa purnatugas, panggilan jiwa membawanya ke Masjid Mujahidin Paiton pada tahun 2015.
Langkah kaki Hariyanto menjadi marbot masjid didasari oleh sebuah wasiat mendalam.
“Ayah saya orang Muhammadiyah tulen. Sejak saya kecil, saya selalu diajak salat Jumat di masjid Muhammadiyah. Sebelum meninggal, orang tua berpesan agar saya tetap ber-Muhammadiyah dan mengabdikan diri di masjid,” kenang Hariyanto dengan mata berkaca-kaca.

Amanah itulah yang dipegangnya erat hingga kini. Didukung penuh oleh seorang istri dan ketiga anaknya, bapak tiga anak ini memantapkan hati menjadi “penjaga gawang” kebersihan dan kenyamanan Masjid Mujahidin.
Disiplin Militer di Rumah Allah
Meski seragam lorengnya telah ditanggalkan, disiplin ala militer tidak pernah luntur dari nadi Hariyanto. Setiap hari, sekitar pukul 21.00 WIB, ia sudah berada di masjid untuk menginap. Komitmennya terhadap waktu sangat ketat:
- Pukul 01.00 WIB: Bangun tidur dan bersiap.
- Pukul 02.00 WIB: Mulai menyapu dan mengepel seluruh sudut masjid agar siap digunakan jemaah untuk salat Tahajud dan Subuh.
- Menjelang Lima Waktu: Memastikan lantai, karpet, dan tempat wudu dalam kondisi suci serta higienis.
Data dari pengurus masjid menunjukkan bahwa tingkat kehadiran jemaah salat Subuh dan Tahajud di Masjid Mujahidin stabil di angka lebih dari 100 orang setiap harinya, dan kenyamanan fasilitas yang dirawat Hariyanto menjadi salah satu faktor utamanya. Di wilayah Paiton yang panas, lantai masjid yang dingin dan bersih menjadi oase tersendiri bagi musafir maupun warga lokal.
Mengabdi hingga Tutup Usia
Menghabiskan masa pensiun dengan membersihkan toilet dan mengepel lantai mungkin bukan pilihan semua orang, terlebih bagi seorang pensiunan sersan mayor. Namun bagi Hariyanto, pangkat di dunia telah usai, dan kini saatnya mencari “pangkat” di hadapan Sang Pencipta.
Baginya, menyapu lantai masjid adalah bentuk ketenangan batin yang tidak bisa ditukar dengan materi apa pun. Ketika ditanya sampai kapan ia akan terus melakoni profesi mulia ini, jawabannya singkat namun menggetarkan hati.
“Insya Allah, saya akan mengabdi di masjid ini hingga wafat,” ucapnya mantap.
Di usia senjanya yang menyentuh 67 tahun, Hariyanto mengajarkan kita tentang arti kesetiaan sejati: setia pada negara di masa muda, dan setia pada agama serta amanah orang tua hingga akhir hayat. || chusnun
