Sibuk Cari Posisi, Lupa Kontribusi

Sibuk Cari Posisi, Lupa Kontribusi
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Dalam banyak organisasi, baik di dunia politik, bisnis, maupun komunitas sosial, fenomena “sibuk cari posisi, lupa kontribusi” sering muncul. Orang lebih bersemangat mengejar jabatan, gelar, atau pengakuan, tetapi melupakan esensi utama: memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bersama

Ambisi yang Salah Arah

Ambisi bukanlah hal buruk. Ia bisa menjadi bahan bakar untuk inovasi dan perubahan. Namun, ketika ambisi hanya berfokus pada posisi, bukan pada peran, maka organisasi kehilangan arah. Jabatan menjadi sekadar simbol status, bukan sarana untuk bekerja.

Contoh nyata dapat kita lihat dalam birokrasi: banyak pejabat berlomba mencari kursi strategis, tetapi setelah duduk di sana, lupa menjalankan fungsi pelayanan publik. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya dilayani justru merasa diabaikan.

Kontribusi: Inti dari Kepemimpinan

Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari tinggi rendahnya jabatan, melainkan dari dampak nyata yang ia berikan. Kontribusi bisa berupa ide, kerja keras, atau keberanian mengambil keputusan yang berpihak pada kepentingan bersama.

Organisasi yang sehat adalah organisasi yang menilai orang dari kontribusinya, bukan sekadar dari posisi yang ia duduki.

Dampak Negatif Budaya “Posisi-Oriented”

• Stagnasi organisasi: Energi habis untuk perebutan jabatan, bukan untuk inovasi.

• Menurunnya kepercayaan publik: Masyarakat melihat pemimpin lebih sibuk dengan kepentingan pribadi.

• Hilangnya semangat kolaborasi: Anggota tim saling bersaing, bukan saling mendukung

Sudah saatnya kita mengubah paradigma: jabatan hanyalah alat, bukan tujuan. Yang lebih penting adalah kontribusi nyata yang bisa dirasakan oleh orang lain. Jika setiap individu fokus pada kontribusi, maka posisi akan datang dengan sendirinya sebagai konsekuensi logis dari kerja keras dan dedikasi.

Pelajaran untuk Organisasi

• Jabatan hanyalah alat, bukan tujuan.
• Kontribusi adalah inti kepemimpinan. Seorang pemimpin dinilai dari dampak, bukan kursi yang diduduki.
• Budaya meritokrasi harus diperkuat: penghargaan diberikan pada mereka yang bekerja keras dan memberi hasil, bukan sekadar pada yang pandai berpolitik internal

Ayat Al-Qur’an yang paling relevan dengan fenomena “sibuk mencari posisi, lupa kontribusi” adalah QS. Al-Qashash ayat 77, yang menekankan agar manusia tidak hanya mengejar kedudukan duniawi tetapi juga berbuat baik dan memberi manfaat, serta QS. Ali Imran ayat 104 yang menegaskan pentingnya kontribusi dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Ayat Al-Qur’an yang Menyentuh Fenomena Ini

1. QS. Al-Qashash: 77
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Artinya: Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Ayat ini menegaskan keseimbangan antara dunia dan akhirat. Mengejar posisi atau jabatan boleh saja, tetapi kontribusi nyata berupa kebaikan dan manfaat bagi orang lain adalah inti yang Allah cintai

2. QS. Ali Imran: 104
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar.111) Mereka itulah orang-orang yang beruntung.

111) Makruf adalah segala kebaikan yang diperintahkan oleh agama serta bermanfaat untuk kebaikan individu dan masyarakat. Mungkar adalah setiap keburukan yang dilarang oleh agama serta merusak kehidupan individu dan masyarakat.

Ayat ini menekankan pentingnya kontribusi sosial. Orang yang hanya sibuk mencari posisi tanpa memberi manfaat akan kehilangan keberuntungan yang dijanjikan Allah

3. QS. Ar-Ra’d: 11
اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.

Ayat ini mengingatkan bahwa perubahan dan kemajuan tidak datang dari jabatan semata, tetapi dari kontribusi nyata yang dilakukan oleh setiap individu.

Inti Pesan Ayat
• Jabatan bukan tujuan utama: Posisi hanyalah amanah, bukan prestise kosong.
• Kontribusi adalah ukuran keberuntungan: Allah menilai amal nyata, bukan sekadar status.
• Keseimbangan dunia-akhirat: Mengejar karier sah, tetapi harus diiringi dengan amal baik dan manfaat sosial.
• Perubahan dimulai dari diri sendiri: Bukan dari kedudukan, melainkan dari aksi nyata

Refleksi Praktis
• Jika seseorang sibuk mencari posisi tanpa kontribusi, ia terjebak dalam ambisi duniawi yang hampa.
• Islam mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah amanah; semakin tinggi posisi, semakin besar tanggung jawab untuk memberi manfaat.
• Kontribusi bisa berupa ilmu, tenaga, waktu, atau harta—semua bernilai di sisi Allah

Jadi, Al-Qur’an menegaskan bahwa kontribusi lebih penting daripada sekadar posisi. Jabatan hanyalah sarana, sedangkan amal baik adalah tujuan yang sesungguhnya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search