Kepedulian terhadap korban gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditanamkan sejak dini oleh SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta. Para siswa menggelar penggalangan dana untuk membantu penyintas gempa Flores setelah melaksanakan salat Dhuha berjamaah, Jumat (21/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari agenda Jumat Religi yang rutin dilaksanakan SD Muhammadiyah 24 Gajahan setiap Jumat ketiga. Salat Dhuha berjamaah berlangsung di halaman sekolah dan dipimpin Ustaz Sri Mulyana atau yang akrab disapa Pakdhe Jabrik.
Sejak pagi, para siswa telah bersiap mengikuti kegiatan. Sebagian siswa telah berwudu dari rumah, sementara lainnya mengambil wudu di sekolah sebelum mengikuti salat Dhuha.
Setelah salat, kegiatan dilanjutkan dengan murajaah bersama dan tausiyah yang disampaikan Ustaz Sri Mulyana. Suasana kemudian berubah menjadi aksi solidaritas ketika para siswa secara tertib mengantre untuk menyerahkan donasi yang telah mereka siapkan.
Kepala SD Muhammadiyah 24 Gajahan, Gatot Suherman, mengatakan penggalangan dana tersebut tidak hanya ditujukan untuk membantu korban gempa Flores, tetapi juga menjadi bagian dari pendidikan karakter bagi siswa.
“Tujuan yang kedua yaitu memberikan pembelajaran kepada siswa SD Muhammadiyah 24 untuk menyalurkan uang seikhlasnya untuk korban bencana gempa bumi di Flores,” ujar Gatot.
Menurutnya, sekolah tidak menetapkan nominal tertentu bagi siswa. Setiap donasi diberikan secara sukarela sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing.
Gatot menjelaskan, dana yang terkumpul nantinya akan disalurkan melalui Lazismu agar bantuan dari keluarga besar SD Muhammadiyah 24 Gajahan dapat diteruskan kepada masyarakat terdampak gempa di Flores.
“Yang ditanamkan kepada siswa yaitu rasa kepedulian sosial, khususnya supaya ada rasa empati kepada korban bencana alam dengan cara menyalurkan dana seikhlasnya,” katanya.
Ajarkan Empati Sejak Bangku Sekolah
Gatot menambahkan, kegiatan penggalangan dana bagi korban bencana bukan kali pertama dilakukan sekolah. Ketika terjadi bencana di berbagai wilayah Indonesia, sekolah dapat mengemas aksi solidaritas melalui kegiatan setelah salat berjamaah maupun agenda sekolah lainnya.
Sementara salat Dhuha berjamaah sendiri menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap Jumat ketiga.
“Walaupun tidak banyak, insyaallah cukup berarti bagi korban bencana gempa bumi di Flores Nusa Tenggara Timur,” tutur Gatot.
Saat ini, SD Muhammadiyah 24 Gajahan memiliki sekitar 239 siswa serta 18 guru dan tenaga kependidikan. Melalui kegiatan tersebut, sekolah berharap nilai kepedulian sosial tidak hanya disampaikan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga dipraktikkan secara langsung.
Bagi siswa, aksi sederhana berupa menyisihkan uang dapat menjadi pengalaman untuk memahami kondisi masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Salah seorang siswa kelas 4A, Husna Nissa, mengaku telah mengetahui kabar gempa di NTT dari ibunya. Ia pun sengaja menyiapkan sumbangan dari rumah untuk diberikan dalam kegiatan penggalangan dana di sekolah.
Menurut Husna, bantuan tersebut sangat berarti bagi para korban karena kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan minuman kemungkinan sulit diperoleh setelah bencana.
“Berharga banget. Pasti berharga karena mereka pasti mencari beras, minyak, itu pasti susah,” kata Husna.
Ia berharap donasi yang diberikan dapat membantu memenuhi kebutuhan anak-anak yang terdampak gempa, terutama makanan dan minuman.
“Harapannya bisa memberi anak-anak susu, minuman, makanan biar bisa tetap semangat,” ujarnya.
Husna juga menyampaikan pesan kepada anak-anak di wilayah terdampak gempa agar tetap kuat dan semangat menjalani aktivitas di tengah situasi sulit.
“Kita di sini tetap memberi doa untuk kamu,” katanya.
Melalui Jumat Religi dan penggalangan dana tersebut, SD Muhammadiyah 24 Gajahan berupaya menjadikan bencana sebagai momentum pembelajaran kemanusiaan. Para siswa tidak hanya diajak memahami makna ibadah, tetapi juga belajar berbagi, berempati, dan hadir membantu sesama yang sedang menghadapi musibah. (sugiharko)
