Sombong kepada Orang Sombong: Pelajaran agar Ia Tidak Merasa Paling Tinggi

Sombong kepada Orang Sombong: Pelajaran agar Ia Tidak Merasa Paling Tinggi
*) Oleh : Ruli Alqodri Mustafa
Kolumnis, pemerhati sosial dan ekonomi, founder The TwinsPrime Economics and Social Studies – Cilegon, Banten.
www.majelistabligh.id -

Ada kalanya orang sombong tidak mempan dinasihati dengan kelembutan. Semakin kita menghormatinya, semakin tinggi ia mengangkat kepala. Semakin kita mengalah, semakin jauh ia melampaui batas. Ia mengira kesabaran kita sebagai kelemahan, kerendahan hati sebagai ketidakberdayaan, dan penghormatan sebagai bukti bahwa dirinya memang lebih tinggi daripada orang lain.

Dalam keadaan seperti itu, muncul ungkapan yang menarik untuk direnungkan: التَّكَبُّرُ عَلَى الْمُتَكَبِّرِ صَدَقَةٌ (At-takabburu ‘alā al-mutakabbiri sadaqah), yang berarti, “Bersikap sombong terhadap orang yang sombong adalah sedekah.” Ungkapan ini bukan hadis Nabi Muhammad ﷺ, melainkan perkataan hikmah yang populer di tengah masyarakat. Maknanya perlu dipahami secara hati-hati, tetapi pesan sosial yang hendak digali cukup menarik: terkadang orang yang sombong perlu dihadapkan pada sikap yang membuatnya menyadari bahwa dirinya bukan manusia yang paling tinggi.

Bayangkan seseorang yang selalu memamerkan kekayaan, jabatan, atau pengetahuannya untuk merendahkan orang lain. Selama semua orang terus mengangguk, memuji, dan menuruti kemauannya, ia tidak memiliki alasan untuk mengoreksi diri. Ia merasa kesombongannya berhasil karena orang-orang di sekitarnya terus memberikan panggung. Dalam situasi seperti ini, sikap terlalu mengalah justru bisa membuatnya semakin yakin bahwa semua orang memang berada di bawah kendalinya.

Di sinilah ketegasan diperlukan. Orang sombong tidak selalu harus disambut dengan penghormatan berlebihan. Kita tidak perlu menyanjungnya, mengejar pengakuannya, atau berpura-pura kagum demi menyenangkan hatinya. Jika ia merendahkan kita, jawablah dengan tegas. Jika ia membanggakan diri untuk mempermalukan orang lain, jangan memberinya tepuk tangan. Jika ia merasa kedudukannya membuat dirinya kebal terhadap kritik, tunjukkan bahwa jabatan dan kekayaan tidak menghapus kewajiban untuk menghormati sesama.

Dalam pengertian inilah, sikap yang tampak seperti kesombongan dapat menjadi pelajaran bagi orang yang sombong: jangan selalu menundukkan kepala di hadapan orang yang sengaja meninggikan dirinya dengan merendahkan orang lain. Berhentilah memberinya perlakuan istimewa yang tidak pantas. Jangan takut menyampaikan kebenaran hanya karena ia merasa dirinya lebih penting. Terkadang, ketika sanjungan berhenti dan orang lain mulai berani bersikap tegas, ia baru menyadari bahwa dirinya tidak memiliki kedudukan setinggi yang selama ini dibayangkan.

Namun, pelajaran itu harus memiliki tujuan yang jelas: menyadarkan, bukan membalas dendam; menghentikan keangkuhan, bukan menciptakan permusuhan baru. Kita boleh menunjukkan bahwa kita tidak bisa diremehkan, tetapi tidak perlu menghina fisik, keluarga, latar belakang, atau kekurangan pribadinya. Ketegasan harus diarahkan pada perilaku sombongnya, bukan dijadikan alasan untuk merendahkan martabatnya sebagai manusia.

Sebab, jika kita membalas kesombongannya hanya karena ego kita terluka, sesungguhnya kita tidak sedang mendidiknya. Kita hanya sedang mempertontonkan kesombongan dalam bentuk yang berbeda. Sebaliknya, jika kita bersikap tegas tanpa takut kehilangan penghormatannya, kita sedang menyampaikan pesan bahwa tidak seorang pun berhak menempatkan dirinya di atas orang lain hanya karena memiliki kelebihan tertentu.

Islam mengajarkan kerendahan hati, tetapi kerendahan hati bukan berarti membiarkan diri dihina. Tawadhu bukan kepatuhan tanpa batas, dan menghormati orang lain bukan kewajiban untuk mengagungkan kesombongannya. Ada perbedaan antara memuliakan manusia dan membiarkan seseorang merasa dirinya paling mulia. Orang yang benar-benar rendah hati tidak harus mengecilkan dirinya demi memuaskan ego orang lain.

Pada akhirnya, kadang-kadang orang sombong perlu kehilangan penghormatan istimewa yang selama ini membuatnya merasa paling tinggi. Bukan supaya ia dipermalukan, melainkan supaya ia belajar bahwa penghormatan harus berjalan bersama sikap hormat kepada orang lain. Jangan terus menyuburkan keangkuhannya dengan sanjungan, jangan membiarkan penghinaan atas nama kesabaran, dan jangan takut berdiri tegak di hadapannya.

Jika kelembutan membuatnya semakin semena-mena, hadirkan ketegasan. Jika sanjungan membuatnya semakin angkuh, hentikan sanjungan itu. Jika ia merasa semua orang harus tunduk kepadanya, tunjukkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang setara. Sebab, ada kalanya pelajaran paling berharga bagi orang yang merasa dirinya paling tinggi adalah bertemu dengan seseorang yang tidak mau merendahkan dirinya hanya untuk meninggikan orang lain. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search