Teori Bukan Pajangan di Kajian Pustaka
Noorhaidi juga memberikan perhatian khusus terhadap kebiasaan membaca mahasiswa. Ia mengingatkan bahwa teori tidak boleh sekadar ditempatkan sebagai pajangan dalam bagian kajian pustaka sebuah karya ilmiah.
Menurut dia, teori harus menjadi bagian dari cara berpikir peneliti ketika membaca dan menjelaskan data.
“Teori adalah bagaimana kita menjelaskan data, cara kita berpikir yang tertanam dan berakar dalam pikiran kita, bukan ditempel-tempelkan dalam karya ilmiah,” tegasnya.
Pandangan tersebut menempatkan aktivitas membaca sebagai bagian penting dari pembentukan seorang scholar. Membaca bukan sekadar kewajiban untuk memenuhi daftar referensi dalam tesis atau disertasi, melainkan proses untuk membangun struktur berpikir.
Mahasiswa perlu membaca secara serius agar mampu memahami perdebatan akademik, mengenali posisi penelitian sebelumnya, menemukan kelemahan atau ruang kosong dalam pengetahuan, kemudian merumuskan kontribusi penelitian yang lebih jelas.
Noorhaidi mengaitkan pentingnya kebiasaan membaca tersebut dengan pengalaman akademiknya ketika menempuh studi di Belanda. Menurut dia, intensitas membaca yang dijalani selama proses pendidikan turut membentuk cara berpikirnya sebagai seorang scholar.
Pengalaman tersebut kemudian ia tuangkan dalam buku The Art of Scientific Inquiry. Buku itu juga berangkat dari pengalamannya mengajar di program pascasarjana mengenai seni berpikir, meneliti, dan menulis karya ilmiah.
Ia menekankan bahwa proses menjadi seorang scholar membutuhkan waktu dan ketelatenan. Mahasiswa tidak dapat mengharapkan kemampuan berpikir kritis terbentuk hanya melalui beberapa kali membaca atau menyelesaikan satu mata kuliah. Kebiasaan membaca, berpikir, menulis, dan menguji gagasan harus dilakukan secara terus-menerus.
Jangan Terjebak Mengejar Nilai
Dalam kesempatan tersebut, Noorhaidi juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan nilai sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan selama menempuh pendidikan pascasarjana.
Menurut dia, pendidikan S2 dan S3 justru memberikan ruang yang lebih besar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas intelektualnya.
Perjalanan menyusun tesis, terlebih disertasi, tidak selalu berlangsung mudah. Mahasiswa dapat menghadapi kebuntuan penelitian, kesulitan menemukan data, perdebatan teori, hingga persoalan metodologis yang membuat proses penelitian terasa panjang.
Namun, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan kegagalan.
“Perjalanan menyusun tesis, terlebih disertasi, tidak selalu berjalan lurus. Anda bisa mengalami fase ketika persoalan penelitian terasa buntu dan seolah-olah memasuki ‘lorong gelap’. Itu tandanya kapasitas pikiran yang Anda miliki sedang dipaksa bekerja secara maksimal. Artinya, Anda sedang mengerjakannya dengan sungguh-sungguh,” ujar Noorhaidi.
Karena itu, mahasiswa diminta tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan akademik. Justru melalui proses tersebut kapasitas intelektual mahasiswa diuji dan dikembangkan.
Gagasan Kuat Harus Bisa Dikomunikasikan
Selain kemampuan berpikir, Noorhaidi menilai kemampuan mengomunikasikan gagasan juga menjadi kompetensi penting bagi seorang akademisi.
Sebuah penelitian yang memiliki data kuat dan argumentasi akademik yang baik, menurut dia, akan kehilangan sebagian kekuatannya apabila peneliti tidak mampu menyampaikan gagasan tersebut kepada pembaca atau masyarakat.
“Menyampaikan karya ilmiah itu perlu seni. Seni mengomunikasikan ide, dan ini harus dipelajari,” katanya.
Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya belajar melakukan penelitian. Mereka juga harus belajar menulis dan menyampaikan hasil penelitian secara sistematis, jelas, dan mudah dipahami.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting karena hasil penelitian tidak hanya dibaca oleh pembimbing atau penguji. Karya akademik pada akhirnya harus dapat berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan, dalam konteks tertentu, memberikan manfaat bagi masyarakat.
Noorhaidi juga menempatkan integritas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembentukan mahasiswa pascasarjana.
Kejujuran, amanah, dan tanggung jawab akademik harus menjadi fondasi dalam seluruh proses pendidikan. Kemampuan intelektual yang tinggi tanpa integritas, menurut dia, tidak cukup untuk membentuk seorang scholar yang berkualitas.
Karena itu, proses pendidikan magister dan doktor bukan hanya proses memperoleh kompetensi akademik. Pendidikan tersebut juga menjadi ruang pembentukan karakter dan tanggung jawab seorang intelektual.
Pada akhirnya, Noorhaidi mengajak mahasiswa memanfaatkan masa studi untuk membangun kapasitas diri secara utuh.
Mahasiswa diminta tidak hanya mengejar transkrip nilai dan gelar akademik, tetapi menggunakan masa studi untuk memperkuat kemampuan berpikir, membaca realitas, mengembangkan gagasan, menulis karya ilmiah, mengomunikasikan pengetahuan, dan menjaga integritas.
“Bukan sekadar mencari nilai. Di sinilah Anda memiliki kesempatan membangun pemikiran kritis dan mampu mengomunikasikannya. Benar-benar belajar mengembangkan diri,” pesannya.
