Jika kecenderungan seperti ini terus berkembang, maka Muhammadiyah akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan dengan persoalan eksternal. Sebab, ancaman terbesar bagi sebuah gerakan sering kali bukan datang dari luar, melainkan dari berubahnya orientasi orang-orang di dalamnya.
Muhammadiyah tidak akan kehilangan identitasnya karena kritik dari luar. Muhammadiyah justru berisiko kehilangan jati dirinya ketika nilai-nilai yang selama ini menjadi ruh perjuangan mulai tergeser oleh kepentingan pragmatis.
Niat memengaruhi cara seseorang memandang amanah, kekuasaan, kepemimpinan, dan pelayanan. Organisasi yang dihuni oleh orang-orang dengan niat lurus akan melahirkan budaya kolaboratif, saling menguatkan, dan berlomba dalam amal kebajikan. Sebaliknya, organisasi yang dipenuhi orientasi transaksional akan mudah terjebak dalam persaingan yang tidak sehat, konflik kepentingan, dan perebutan posisi.
Dalam konteks inilah, meluruskan niat menjadi agenda kaderisasi yang tidak pernah selesai. Meluruskan niat bukan berarti mengajak warga Muhammadiyah menjauhi profesionalisme atau menolak kemajuan organisasi. Justru sebaliknya, profesionalisme harus berjalan beriringan dengan keikhlasan. Kompetensi harus dipadukan dengan integritas. Kepemimpinan harus dibangun di atas amanah, bukan ambisi.
Di tengah dunia yang semakin materialistis, ketika hampir semua hal diukur berdasarkan keuntungan ekonomi dan posisi sosial, Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan bahwa masih ada ruang pengabdian yang dibangun atas dasar keikhlasan. Menjadi warga Muhammadiyah bukanlah tentang apa yang bisa diperoleh dari organisasi, melainkan tentang apa yang dapat dipersembahkan bagi dakwah, umat, dan bangsa.
Belajar dari Generasi Pendiri
Jika ingin mengetahui ke mana Muhammadiyah harus melangkah di masa depan, salah satu cara terbaik adalah melihat kembali alasan organisasi ini didirikan. Sebab, sebuah gerakan akan tetap kokoh selama tidak melupakan niat awal yang melahirkannya. Ketika niat mulai bergeser, arah perjuangan pun perlahan berubah.
Muhammadiyah lahir bukan dari ruang-ruang kekuasaan. Muhammadiyah lahir dari kegelisahan seorang ulama yang menyaksikan umat Islam hidup dalam keterbelakangan. Kemiskinan meluas, pendidikan tertinggal, praktik keagamaan dipenuhi takhayul, bid’ah, dan khurafat, sementara penjajahan telah menggerus martabat bangsa. Dalam situasi seperti itu, K.H. Ahmad Dahlan memilih jalan yang berbeda. Beliau tidak sekadar mengkritik keadaan, tetapi membangun solusi melalui pendidikan, pelayanan sosial, dan pembaruan pemahaman keagamaan.
Pilihan itu menunjukkan bahwa sejak awal Muhammadiyah adalah gerakan pengabdian, bukan gerakan pencarian keuntungan. Para murid KH Ahmad Dahlan tidak pernah dijanjikan jabatan. Mereka juga tidak dijanjikan kesejahteraan material. Mereka tetap bertahan karena yang mereka cari bukanlah penghargaan manusia, melainkan keridaan Allah SWT. Itulah yang membedakan gerakan dakwah dari organisasi yang dibangun atas dasar kepentingan sesaat.
Semangat itu kemudian diwariskan kepada generasi-generasi berikutnya. Tidak sedikit tokoh Muhammadiyah yang memilih hidup sederhana meskipun memiliki kesempatan untuk memperoleh kenyamanan hidup. Mereka memahami bahwa menjadi kader Muhammadiyah berarti menjadi pelayan umat, bukan penguasa umat. Jabatan dipandang sebagai amanah yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali, bukan sebagai hak yang harus dipertahankan.
Budaya organisasi seperti inilah yang membuat Muhammadiyah berbeda. Kepemimpinan dibangun atas dasar keteladanan, bukan popularitas. Pengaruh diperoleh melalui pengabdian, bukan pencitraan. Penghormatan datang karena integritas, bukan karena kekuasaan.
Sayangnya, nilai-nilai tersebut menghadapi tantangan baru di era modern. Masyarakat kini hidup dalam budaya yang sangat kompetitif. Kesuksesan sering diukur melalui jabatan, penghasilan, dan akses terhadap kekuasaan. Ukuran-ukuran duniawi itu secara perlahan memengaruhi cara sebagian orang memandang organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah.
Di sinilah terjadi pergeseran orientasi yang perlu dicermati. Bagi generasi awal Muhammadiyah, bergabung dengan persyarikatan berarti menambah tanggung jawab. Sementara bagi sebagian orang pada masa kini, bergabung dengan organisasi justru dipandang sebagai cara untuk memperoleh berbagai kemudahan. Pergeseran cara pandang inilah yang perlahan-lahan melahirkan budaya transaksional.
Kesetiaan kepada persyarikatan tidak boleh bergantung pada ada atau tidaknya jabatan. Sebab, jika loyalitas hanya muncul ketika seseorang memperoleh posisi, maka sesungguhnya yang dicintai bukanlah Muhammadiyah, melainkan jabatannya.
