Sudah Luruskah Niat Kita dalam Ber-Muhammadiyah?

Sudah Luruskah Niat Kita dalam Ber-Muhammadiyah?
*) Oleh : Mohammad Nur Rianto Al Arif
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur
www.majelistabligh.id -

Perbedaan keduanya sangat mendasar

Seorang kader yang telah lama berproses, memahami ideologi persyarikatan, mengabdi di ranting dan cabang, lalu suatu saat dipercaya memimpin AUM atau mengisi jabatan publik merupakan hal yang wajar. Jabatan datang sebagai konsekuensi dari pengabdian.

Sebaliknya, apabila seseorang menjadikan Muhammadiyah sebagai batu loncatan menuju jabatan, pengabdian berubah menjadi alat. Dalam kondisi seperti itu, organisasi tidak lagi dipandang sebagai ladang dakwah, melainkan sebagai kendaraan karier.

Bahaya terbesar dari orientasi semacam ini bukan sekadar munculnya persaingan untuk memperoleh jabatan. Budaya transaksional membuat hubungan antarkader tidak lagi dibangun atas dasar ukhuwah dan semangat dakwah, melainkan atas dasar kepentingan.

Akibatnya, ukuran keberhasilan seseorang pun berubah. Orang mulai lebih menghargai mereka yang menduduki jabatan strategis dibandingkan dengan mereka yang selama puluhan tahun menghidupkan ranting di pelosok. Padahal, sejarah Muhammadiyah justru dibangun oleh orang-orang yang bekerja jauh dari sorotan.

Jika gejala seperti ini dibiarkan, Muhammadiyah berisiko mengalami apa yang oleh para ahli organisasi disebut sebagai pergeseran dari organisasi yang digerakkan oleh nilai menuju organisasi yang digerakkan oleh kepentingan.

Muhammadiyah tidak membutuhkan kader yang sekadar banyak. Muhammadiyah membutuhkan kader yang memiliki orientasi pengabdian. Aset yang paling sulit dibangun adalah manusia yang ikhlas. Ketika manusia-manusia seperti itu semakin sedikit, maka sebesar apa pun organisasi berkembang, ruh perjuangannya perlahan akan memudar.

Oleh karena itu, tugas Muhammadiyah pada abad kedua bukan hanya memperluas amal usaha, melainkan juga memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke dalam persyarikatan memahami hal yang paling mendasar, yaitu Muhammadiyah adalah tempat untuk mengabdi, bukan tempat untuk mencari keuntungan pribadi.

Meluruskan Niat, Merawat Ruh Persyarikatan

Muhammadiyah terlalu besar untuk dibiarkan kehilangan ruh yang selama lebih dari satu abad menjadi sumber kekuatannya. Pembicaraan mengenai niat tidak boleh berhenti pada nasihat individu dalam forum-forum pengajian, melainkan harus diterjemahkan menjadi budaya organisasi. Muhammadiyah memerlukan ekosistem yang terus mengingatkan setiap kader bahwa jabatan adalah amanah, bukan hadiah.

Langkah pertama yang perlu terus diperkuat adalah memperkokoh kaderisasi ideologis. Selama ini Muhammadiyah memiliki sistem perkaderan yang relatif mapan, mulai dari pengajian rutin, Baitul Arqam, Darul Arqam, hingga berbagai bentuk pembinaan di organisasi otonom. Namun, dinamika zaman menuntut agar proses tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial atau sekadar pemenuhan agenda organisasi.

Kader yang memahami ideologi persyarikatan tidak akan mudah memandang Muhammadiyah sebagai kendaraan untuk mencapai kepentingan pribadi. Mereka akan melihat dirinya sebagai bagian dari mata rantai perjuangan panjang yang telah dirintis oleh para pendahulu. Kesadaran historis seperti inilah yang melahirkan rasa tanggung jawab moral terhadap keberlanjutan gerakan.

Langkah kedua adalah menegakkan budaya meritokrasi yang berlandaskan amanah. Muhammadiyah membutuhkan profesionalisme dalam mengelola amal usaha. Namun, meritokrasi yang dimaksud tidak boleh berhenti hanya pada aspek kompetensi teknis. Kompetensi harus berjalan beriringan dengan integritas, loyalitas terhadap nilai-nilai persyarikatan, serta rekam jejak pengabdian. Profesionalisme tanpa nilai dapat melahirkan manajer yang cakap, tetapi miskin komitmen dakwah. Sebaliknya, semangat dakwah tanpa kompetensi juga tidak cukup untuk menghadapi kompleksitas pengelolaan amal usaha di era modern. Muhammadiyah memerlukan kader yang memadukan keduanya.

Langkah ketiga adalah menghidupkan kembali budaya pengabdian dari bawah. Muhammadiyah tidak boleh hanya ramai di tingkat pusat, wilayah, atau daerah, sementara ranting dan cabang kehilangan energi. Pengalaman mengabdi dari bawah akan membentuk karakter yang tahan terhadap godaan pragmatisme. Orang yang terbiasa bekerja dalam kesunyian akan lebih siap menerima amanah ketika dipercaya untuk memimpin. Sebaliknya, mereka yang langsung mengejar posisi strategis tanpa melalui proses pengabdian sering kali lebih rentan memandang jabatan sebagai tujuan.

Langkah keempat adalah membangun tradisi muhasabah di dalam organisasi. Muhasabah seperti ini penting karena pragmatisme sering kali tidak muncul secara tiba-tiba. Ketika kepentingan pribadi mulai ditoleransi atas nama efektivitas, ketika jabatan dipandang sebagai hak yang harus diperjuangkan, atau ketika loyalitas lebih ditujukan kepada individu daripada nilai-nilai persyarikatan, saat itulah benih-benih penyimpangan mulai berkembang.

Namun demikian, kita juga perlu bersikap adil dalam melihat realitas. Tidak setiap anggota baru yang tertarik bergabung karena melihat besarnya Muhammadiyah memiliki motivasi yang keliru. Banyak di antara mereka justru datang karena mengagumi kiprah Muhammadiyah di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial. Mereka perlu disambut, dibimbing, dan diproses melalui kaderisasi agar kekaguman tersebut berkembang menjadi komitmen ideologis. Persoalan yang perlu diwaspadai bukanlah anggota baru, melainkan mentalitas transaksional, siapa pun yang membawanya dan kapan pun ia muncul.

Oleh karena itu, tugas Muhammadiyah bukan menutup diri dari masyarakat, melainkan memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke dalam persyarikatan memahami nilai-nilai yang menjadi fondasi gerakan tersebut. Muhammadiyah harus tetap menjadi organisasi yang terbuka, inklusif, dan profesional, tetapi pada saat yang sama tetap teguh menjaga identitasnya sebagai gerakan dakwah amar makruf nahi mungkar.

Meluruskan niat dalam ber-Muhammadiyah, dengan demikian, bukan sekadar urusan memperbaiki hati. Hal ini merupakan ikhtiar untuk menjaga masa depan persyarikatan. Organisasi menjadi besar karena memiliki manusia-manusia yang ikhlas menjaga nilai-nilai yang menjadi ruh perjuangannya.

Pada akhirnya, ber-Muhammadiyah bukanlah tentang nama yang tercantum di kartu anggota, bukan pula tentang jabatan yang pernah disandang. Ber-Muhammadiyah adalah tentang kesediaan untuk terus mengabdi dengan hati yang ikhlas, bekerja dengan penuh amanah, dan menjadikan seluruh aktivitas sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Di situlah kemuliaan seorang kader Muhammadiyah sesungguhnya bermula, sekaligus di sanalah masa depan persyarikatan akan ditentukan. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search