Keikhlasan sebagai Modal Sosial Muhammadiyah
Keberhasilan Muhammadiyah selama lebih dari satu abad tidak dapat dijelaskan hanya melalui pendekatan manajemen organisasi. Keikhlasan adalah modal sosial yang tidak dapat dihitung dengan angka, tetapi dampaknya sangat nyata.
Dalam perspektif organisasi, keikhlasan melahirkan rasa memiliki. Orang yang ikhlas tidak mudah meninggalkan organisasi hanya karena berbeda pendapat. Sebaliknya, ketika keikhlasan mulai memudar, budaya organisasi ikut berubah. Setiap keputusan akan dicurigai sebagai transaksi.
Karena itu, keikhlasan bukan sekadar persoalan spiritual yang bersifat individual, melainkan juga telah menjadi kebutuhan strategis bagi organisasi. Muhammadiyah membutuhkan kader yang cerdas, profesional, dan inovatif. Seorang kader yang ikhlas akan mampu menerima amanah dengan penuh tanggung jawab. Nilai dirinya tidak ditentukan oleh posisi struktural, melainkan oleh manfaat yang dapat ia berikan kepada umat.
Sikap seperti ini semakin penting di tengah besarnya pengaruh Muhammadiyah saat ini. Ketika organisasi berkembang, peluang untuk memimpin juga semakin besar. Di sinilah setiap kader dituntut untuk terus melakukan muhasabah. Jangan sampai amanah yang seharusnya menjadi ladang ibadah berubah menjadi objek ambisi.
Sebab, sejarah menunjukkan bahwa organisasi besar tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, melainkan karena melemahnya integritas para penggeraknya. Ketika orientasi berubah dari melayani menjadi dilayani, dari mengabdi menjadi mencari keuntungan, kemunduran tinggal menunggu waktu.
Keikhlasan itulah yang membedakan organisasi yang sekadar besar dan gerakan yang benar-benar memberi pencerahan. Dan selama nilai itu terus hidup di dalam hati para kadernya, Muhammadiyah akan tetap menjadi rumah pengabdian yang melahirkan manfaat, bukan sekadar tempat mencari manfaat.
Ber-Muhammadiyah Bukan Sekadar Memiliki KTA
Di tengah semakin besarnya Muhammadiyah sebagai organisasi modern, ada kecenderungan yang perlu direnungkan bersama, yaitu identitas administratif sering kali dianggap identik dengan identitas ideologis. Ukuran seseorang yang disebut warga Muhammadiyah kerap berhenti pada kepemilikan Kartu Tanda Anggota (KTA). Padahal, KTA hanyalah pintu masuk administrasi, bukan tujuan akhir ber-Muhammadiyah.
Tidak ada yang salah dengan administrasi. Justru organisasi yang besar membutuhkan tata kelola keanggotaan yang tertib. KTA penting sebagai identitas formal, instrumen pendataan, dan sarana konsolidasi organisasi. Namun, persoalan muncul ketika KTA dipahami sebagai simbol utama kebermuhammadiyahan, sementara penghayatan nilai-nilai perjuangan justru terabaikan.
Seseorang dapat memiliki KTA selama puluhan tahun, tetapi tidak pernah menghadiri pengajian, tidak pernah aktif di ranting atau cabang, tidak pernah terlibat dalam kegiatan sosial, bahkan tidak mengenal pokok-pokok pemikiran Muhammadiyah. Sebaliknya, tidak sedikit simpatisan yang belum memiliki KTA, tetapi telah bertahun-tahun membantu kegiatan persyarikatan, mendukung amal usaha, dan menghidupkan dakwah di lingkungannya.
Ber-Muhammadiyah berarti menjadikan dakwah sebagai orientasi hidup, Hal ini tercermin dalam kejujuran ketika mengelola amanah, profesionalisme ketika bekerja di amal usaha, kepedulian terhadap sesama, serta kesediaan menempatkan kepentingan persyarikatan di atas kepentingan pribadi.
Karena itu, proses kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan anggota, tetapi juga harus melahirkan kader. Anggota dapat bertambah melalui proses administrasi. Sebaliknya, kader hanya lahir melalui proses pembinaan yang panjang, pendidikan ideologi, keteladanan, dan pengalaman pengabdian.
Perbedaan antara anggota dan kader sangat menentukan masa depan Muhammadiyah. Organisasi yang hanya sibuk menambah jumlah anggota mungkin tampak besar secara statistik. Akan tetapi, organisasi yang berhasil melahirkan kader akan tetap kuat meskipun menghadapi berbagai tantangan zaman. Kader bukan hanya mengenal Muhammadiyah sebagai organisasi, melainkan juga memahami jiwa, cita-cita, dan tanggung jawab moral yang menyertainya.
Ketika Muhammadiyah Dipandang sebagai Peluang
Perkembangan Muhammadiyah yang sangat pesat membawa konsekuensi yang tidak sederhana. Banyak kader Muhammadiyah juga dipercaya untuk menduduki jabatan penting di pemerintahan, lembaga negara, perguruan tinggi, maupun berbagai institusi publik. Muhammadiyah kini tidak hanya dilihat sebagai gerakan dakwah, tetapi juga sebagai organisasi yang memiliki jejaring sosial, intelektual, ekonomi, dan kelembagaan yang luas.
Dalam situasi seperti ini, muncul gejala yang patut menjadi bahan untuk muhasabah. Ada sebagian orang yang mulai mendekati Muhammadiyah bukan karena tertarik pada ideologi Islam Berkemajuan, melainkan karena melihat adanya peluang. Ada yang baru aktif saat proses rekrutmen pegawai AUM dibuka. Ada yang mulai rajin mengikuti kegiatan menjelang pemilihan pimpinan. Ada pula yang membangun kedekatan dengan persyarikatan karena berharap memperoleh rekomendasi atau dukungan untuk mengisi jabatan tertentu di ruang publik.
Kondisi yang menjadi persoalan bukanlah kehadiran kader Muhammadiyah di berbagai posisi tersebut. Persoalannya adalah ketika orientasi bergabung dengan Muhammadiyah semata-mata didorong oleh harapan memperoleh posisi-posisi, apakah di AUM ataupun jabatan publik.
