Ia adalah karunia dan rahmat yang Allah hadiahkan. Ternyata kebahagiaan bukan sesuatu yang harus kita kejar mati-matian.
Kita sering berpikir, “Kalau sudah punya ini, aku akan bahagia.”
“Kalau masalah ini selesai, aku akan tenang.”
“Kalau keinginanku tercapai, hidupku akan sempurna.”
Aku teringat QS Yunus 10: 58:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَـفْرَحُوْا ۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
Ayat ini membuatku berpikir, mungkin tugas kita bukan terus-menerus mengejar rasa bahagia. Tugas kita adalah memperbaiki hubungan dengan Allah, menjalani apa yang sedang Allah titipkan, belajar menerima takdir-Nya, dan tetap berbuat baik dalam setiap keadaan.
Karena ketika Allah memberikan karunia dan rahmat-Nya, hati bisa merasakan bahagia, bahkan dari sesuatu yang sederhana. Secangkir teh. Rumah yang tenang. Keluarga yang masih bisa berkumpul. Hati yang kembali tenang setelah menangis. Atau sekedar perasaan cukup setelah melewati hari yang berat.
Bahagia itu bukan selalu tentang mendapatkan apa yang kita mau. Kadang bahagia adalah ketika Allah membuat hati kita mampu menerima apa yang Dia pilihkan.
Jadi, kalau hari ini kamu sampai pada kehidupan yang kamu inginkan, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kamu belum bahagia. Mungkin Allah sedang mengajarkanmu bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki, ia hadir ketika hati merasakan karunia dan rahmat-Nya.
Semoga menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang membacanya. (*)
