Ulama, Penguasa dan Ujian Kejujuran Ilmiah

Ulama, Penguasa dan Ujian Kejujuran Ilmiah
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SPM Al Fattah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Ulama Bukan Humas Kekuasaan

Ada ungkapan yang sangat menarik dari Imam al-Ghazali tentang ulama dan penguasa. Beliau membedakan antara ulama yang mendatangi penguasa untuk memperoleh dunia dan ulama yang didatangi penguasa untuk memperoleh nasihat.

Maknanya sangat penting.

Ulama yang sehat secara moral tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai sumber kemuliaannya.

Justru penguasa membutuhkan ulama yang berani mengingatkan.

Sebab penguasa memiliki banyak orang yang mengatakan:

«“Siap, Pak.”»

«“Bagus, Pak.”»

«“Luar biasa, Pak.”»

«“Semua sudah benar, Pak.”»

Tetapi seorang ulama seharusnya mampu mengatakan:

«“Ini benar.”»

dan juga berani mengatakan:

«“Ini keliru.”»

Itulah fungsi moral ulama.

Jika semua orang di sekitar penguasa hanya memberikan tepuk tangan, maka seorang ulama seharusnya menjadi salah satu orang yang tetap mampu memberikan nasihat.

Jangan Menjadikan Islam sebagai Legitimasi Politik

Persoalan yang lebih sensitif muncul ketika simbol, bahasa dan nilai-nilai Islam digunakan dalam konstruksi citra politik.

Islam memiliki nilai-nilai universal: keadilan, amanah, kejujuran, kemaslahatan, musyawarah, kasih sayang dan keberpihakan kepada kaum lemah.

Nilai-nilai tersebut tentu boleh digunakan untuk membaca kepemimpinan siapa pun.

Tetapi ada batas yang harus dijaga:

Islam tidak boleh diperalat untuk memberikan kesan bahwa seseorang pasti benar hanya karena ia dikaitkan dengan simbol-simbol Islam.

Seorang pemimpin dinilai dari keadilannya.

Dinilai dari amanahnya.

Dinilai dari kebijakannya.

Dinilai dari keberpihakannya kepada rakyat.

Dan dinilai dari kesesuaiannya antara perkataan dan perbuatannya.

Bukan semata-mata dari siapa yang menulis buku tentang dirinya.

Karena Islam bukan alat legitimasi kekuasaan.

Islam adalah standar moral untuk menilai kekuasaan.

Kritik Bukan Berarti Membenci Penguasa

Dalam budaya politik modern, kritik sering dianggap sebagai permusuhan.

Padahal dalam Islam, memberikan nasihat kepada pemimpin merupakan bagian dari amar ma’ruf nahi munkar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الدِّينُ النَّصِيحَةُ»

“Agama itu adalah nasihat.”

Para sahabat bertanya, “Untuk siapa?”

Beliau menjawab:

«لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

“Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin dan seluruh kaum Muslimin.

Maka memberikan nasihat kepada penguasa bukan tindakan anti-pemerintah.

Justru seorang ulama yang mengingatkan penguasa agar tidak zalim sedang menjalankan fungsi keagamaannya.

Jangan Pula Menjadikan Kritik sebagai Kebencian

Namun refleksi ini juga harus adil.

 

Tinggalkan Balasan

Search