Ulama, Penguasa dan Ujian Kejujuran Ilmiah

Ulama, Penguasa dan Ujian Kejujuran Ilmiah
*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI, M.Ag
Kepsek SPM Al Fattah Sidoarjo & Anggota MTT PDM Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Penutup:
Jangan Sampai Ulama Kehilangan Jarak Kritis

Polemik “Islam Ala Prabowo” pada akhirnya dapat menjadi pelajaran yang lebih besar daripada sekadar persoalan sebuah buku.

Ia mengingatkan kita bahwa dalam kehidupan berbangsa, agama, ulama dan kekuasaan harus ditempatkan secara proporsional.

Kita tidak perlu terburu-buru menghukum sebuah buku hanya karena judulnya.

Kita juga tidak perlu membelanya hanya karena diluncurkan oleh tokoh-tokoh tertentu.

Bacalah.

Tabayyunlah.

Periksalah sumbernya.

Hormati para penulis.

Dan yang paling penting, jangan biarkan Islam kehilangan fungsi kritisnya terhadap kekuasaan.

Sebab Islam bukan agama yang diciptakan untuk membenarkan penguasa.

Islam datang untuk menegakkan kebenaran, bahkan ketika kebenaran itu harus disampaikan kepada orang yang sedang memegang kekuasaan.

Ulama boleh dekat dengan istana.

Tetapi jangan sampai hati ulama ikut tinggal di istana.

Ulama boleh duduk bersama penguasa.

Tetapi lidahnya harus tetap merdeka mengatakan yang benar.

Dan jika suatu hari penguasa bertanya,

«“Apa yang harus saya lakukan?”»

Maka jawaban ulama bukan:

«“Apa yang Paduka ingin dengar?”»

Tetapi:

«“Apa yang Allah kehendaki dari Paduka?”»

Di situlah ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar hiasan kekuasaan. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search